Senin, 09 Agustus 2010

Hakikat Ibadah




 
Dikisahkan, pada malam-malam yang sepi dan hening seiring dalam dinginnya kota Madinah yang menusuk tulang — Nabi Muhammad SAW berdiri berjam-jam, menengadahkan tangan, rukuk, khusuk, dan bersujud lama sekali di hadapan ”Kekasih”-nya, Allah SWT. Akibatnya, bukan cuma mata Beliau yang memerah, tapi kakinya pun bengkak.

Aisyah, istri Beliau, menyoal, buat apa semua itu. ”Bukankah Anda seorang yang ma’shum, yang sudah diampuni dosanya?” tanya Aisyah.

Nabi menjawab singkat: Afalam akuunu abdan syakura…. Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur ?

Apa yang dilakukan Nabi SAW tersebut jelas merupakan contoh ibadah yang ideal. Ibadah yang didasarkan pada rasa cinta dan keikhlasan seorang hamba kepada penciptanya. Bukan amal karena ingin balasan surga, karena ibadah jenis itu adalah ibadahnya pedagang yang selalu berhitung ”untung-rugi”. Bukan pula karena takut Neraka, karena ibadah model ini, menurut Imam Ali bin Abi Thalib adalah ibadahnya budak. Ibadah Nabi SAW adalah ibadah karena cinta. Ibadah yang benar-benar ikhlas. Ibadah seorang yang bebas merdeka, bukan budak yang takut dipecat majikannya.

Beramal demi sebuah ganjaran, sebetulnya adalah ibadah untuk diri kita sendiri. Untuk ego kita. Oleh sebab itu, jika kita mengharap pahala — dari amal ibadah yang kita lakukan — dengan sendirinya pahala itu untuk kepentingan kita. Padahal ibadah yang ikhlas itu untuk Allah semata, bukan untuk ego kita.

Begitu pula sebaliknya: menghindari yang haram karena takut neraka, tidaklah seikhlas yang menghindarinya karena mencari ridha Allah. Seorang anak yang ikhlas meladeni ayahnya, melakukan hal itu bukan karena takut dipukul sang ayah atau supaya diberi uang, melainkan karena cinta pada orangtua. Kita, barangkali akan merasa sulit mengikuti ibadah yang dilakukan oleh Nabi SAW. Meminjam istilah Al-Ghazali, kita masih tergolong manusia dalam tahap ‘awam’ sementara masih ada tahap khusus dan tahap khususnya khusus, khuwash-al-khawash. Seperti piramid, makin tinggi tahapan itu, makin sedikit jumlah manusianya.

Kendati begitu, kita barangkali masih tergolong ikhlas, kalau kita, misalnya, berderma untuk menghindari musibah. Karena itu juga perintah Allah. Tapi ini tergolong ikhlasnya awam, sebab kita baru mau bersedekah karena janji ganjaran yang berlipat ganda atau agar terhindar dari musibah dan marabahaya. Tentu saja orang mesti berusaha setahap demi setahap mencari tingkatan yang lebih tinggi, hingga tiba di tahap khawash-al-khawash. Kita harus selalu berusaha meningkatkan amal ibadah dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu, hingga menjadi sempurna seperti yang dilakukan oleh panutan kita Nabi SAW. Bukankah berusaha meneladani Beliau sudah merupakan ibadah? (ah)

http://kajianislam.wordpress.com/2009/11/23/hakikat-ibadah/

*****************

Catatan :
 
Secara umum ibadah dapat dibagi dalam 2 macam, yaitu :

1. Ibadah formal (maqhdoh/ritual/resmi)

Ketika Allah menetapkan sebuah ibadah formal/ritual, prinsip yang harus dipahami adalah bahwa yang namanya ritual lebih merupakan sebuah upacara/formalitas/birokrasi yang terkadang tidak dijelaskan apa, kenapa dan bagaimana harus seperti itu. Oleh karena itulah kenapa Allah SWT menurunkan seorang nabi untuk memberikan contoh sebuah ibadah formal, baik dalam hal gerakan, perbuatan ataupun teknik-teknik yang lain, yang bisa langsung ditiru begitu saja tanpa harus diungkapkan alasan-alasannya. Sebagaimana Rosulullah menyebutkan “Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat”. Jadi, yang menjadi panutan dalam sebuah ibadah formal adalah seorang manusia, yaitu tidak lain adalah Rasulullah.

Jikalau terdapat orang yang bertanya kenapa sholat musti gerakan-nya seperti rukuk sujud dan lain sebagainya, berarti orang tersebut sebenarnya tidak mempunyai iman kepada Rosul, karena dia menggunakan akal atau logika dalam kaitan-nya ibadah ritual. Boleh saja dalam ibadah menggunakan logika atau akal, selama bukan untuk ibadah ritual.

Ibadah ritual tidak menggunakan metodologi akal atau analisa, namun menggunakan metodologi apa yang dilihat dan apa yang dilakukan oleh Rosulullah. Maka dalam sholat tidak pernah Rosulullah menjelaskan hubungan/kaitan sholat dengan kesehatan. Jikalau ternyata ada hubungan-nya, pasti ada ayat yg menjelaskan hal tersebut. Bahwa tujuan sholat pada dasarnya bukan untuk kesehatan, namun tidak lain adalah untuk menjalankan perintah Allah SWT, dan bukti bahwa hamba tersebut bertaqwa kepada Allah SWT.

2. Ibadah non formal (umum/muamalah/sosial)


Ibadah ini menggunakan logika, akal, nalar serta alasan. Prinsipnya adalah Allah SWT menciptakan alam untuk manusia, silahkan dieksplorasi manfaatnya untuk kepentingan dunia maupun akhirat, asalkan jangan melanggar apa yang sudah Allah SWT tentukan. Prinsip ibadah muamalah adalah jika apa yang  bermanfaat silahkan dikerjakan tanpa harus ada contohnya, asalkan bermanfaat buat diri sendiri atau bermanfaat buat orang lain, asal tidak melanggar ketentuan Allah SWT.

Ibadah sholat di jaman Rosulullah tidak ada yang meributkan perihal tata cara sholat, yang diributkan bukanlah gerakan sholat,namun apakah ibadah tersebut mempunyai pengaruh dalam kehidupan sehari-hari yang bermafaat bagi dirinya maupun untuk orang lain.

Sholat bisa jadi merupakan sebuah hiburan bagi Rasulullah. Jika Rasulullah lagi gundah ataupun teringat-ingat terhadap sebuah kenangan maka beliau memanggil Bilal untuk adzan dan kemudian sholat berjamaah. Dan dalam sholat-nya Rasulullah terkadang menangis. Tangisan tersebut adalah karena mengerti, faham dan menghayati arti ayat-ayat yang dibacakan. Sehingga kenikmatan ibadah tidak lain adalah inti dari sebuah sholat.

Kekhusyukan dalam ibadah sebenarnya adalah sadar apa yang sedang dikerjakannya. Orang yg paling khusyuk adalah Rasulullah. Rasulullah ketika sedang sholat, sadar dan mengetahui kondisi sekelilingnya. Ketika beliau sedang sholat berjamaah, terdengar suara tangisan bayi, maka beliau mempercepat sholat-nya. Termasuk ketika ada orang yg lewat, dicegahlah orang tersebut agar tidak lewat depan sholat-nya beliau. Sholat pada dasarnya memahami apa yang sedang dikerjakan, baik lisannya maupun gerakannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar