Minggu, 31 Oktober 2010

BAGAIMANA MENSYUKURI KARUNIA ALLAH ?

”Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia menyelamatkan kalian dari Fir’aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kalian dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-laki kalian, membiarkan hidup anak-anak perempuan kalian; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhan kalian”.(Q.S. Ibrahim [14]: 6).

Untuk dapat bersyukur atas semua karunia Allah SWT seseorang ternyata membutuhkan pengalaman-pengalaman hidup yang privat sifatnya, baik terkait langsung ataupun tidak langsung dengan individu maupun kelompoknya (ummah, qaum, sya’b, qabîlah).

Pengalaman-pengalaman dalam hidup seseorang itulah yang semestinya akan memberikan pengaruh terhadap jalan hidupnya di kemudian hari. Pengalaman-pengalaman dimaksud adalah pengalaman sosial maupun pengalaman spiritual lainnya.

Penjelasan tentang hal ini dapat kita klarifikasi pada beberapa ayat dalam surat Ibrahim, diantaranya, ”Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia menyelamatkan kalian dari Fir’aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kalian dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-laki kalian, membiarkan hidup anak-anak perempuan kalian; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhan kalian”. (Q.S. Ibrahim [14]: 6).

Ayat tersebut di atas berisi pengalaman sosial dan spiritual anak keturunan Israil, nama lain dari nabi Allah SWT yang shalih yaitu Nabi Ya’qub a.s. Dengan adanya pengalaman sosial dimana mereka mendapatkan siksaan dari penguasa kejam dan lalim bernama Fir’aun dan untuk selanjutnya disusul dengan pengalaman spiritual yang mencengangkan yaitu menyeberangi lautan dengan mukjizat tongkat Nabi Musa a.s. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga melihat dengan mata kepala mereka secara langsung bagaimana Allah SWT menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Hal tersebut seharusnya menjadi modal dasar bagi mereka untuk bersyukur atas semua karunia Allah SWT tersebut jika mereka mampu menghadirkannya dalam ingatan mereka.

Itulah yang disebut dengan kaitan yang mengaitkan hati seseorang dengan keagungan Allah SWT dimana hamba membutuhkan dan al-Khaliq memberikan. Allah SWT memandang syukur sebagai pengikat nikmat yang ada (qayd al-maujûd) agar tidak terlepas dan alat pengembali nikmat-nikmat yang telah lepas (shayd al-mafqûd). Bahkan Allah SWT berjanji secara pasti bagi setiap yang mensyukuri nikmat-Nya pasti akan ditambah lebih banyak lagi dengan kenikmatan-kenikmatan lainnya. ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian telah memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Bagaimana seharusnya Bani Israil dan umat-umat rasul yang lainnnya mensyukuri setiap karunia Allah SWT ? Di antara cara mensyukuri karunia itu adalah dengan beriman secara tulus (al-îmân al-khâlish) dan amal shalih (al-åmal al-shâlih). Demikian menurut Muhammad ibn Umar Nawawi dalam Kitâb Marâh Labîd li Kasyfi Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd. Menurut Ibn Abbas sebagaimana dikutip oleh Abdullah ibn Ahmad al-Nasafi dalam Kitâb Tafsîr al-Nasafî: Madârik al-Tanzîl wa Haqâ’iq al-Ta’wîl bahwa untuk mensyukuri karunia Allah SWT, Bani Israil hendaknya bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah (al-jidd fi al-thâ’ah). Artinya, jika anak-anak keturunan Israil tersebut bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan beribadah kepada Allah SWT maupun ketaatan dalam menjalankan setiap perintah Allah SWT lainnya melalui nabi-nabi-Nya maka Allah SWT pasti membalasnya dengan kesungguhan dalam memberikan pahala (al-jidd fi al-matsûbah).

Sayang! Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk melupakan pengalaman-pengalaman mereka atau melupakan apa yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan hidup mereka. Bahkan ada yang tidak dapat mensyukuri karunia itu setelah mendapatkan pengalaman-pengalaman yang seyogianya dapat membangkitkan motivasi dan menjadi spirit untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sikap mengingkari setiap karunia Allah SWT yang demikian itu disebut dengan sikap kufr (ingkar). Dan bagi siapa saja yang kufur, Allah SWT telah memaklumatkan tentang siksa pedih yang akan Dia timpakan bagi pelaku kufur nikmat tersebut, cepat ataupun lambat, di dunia ataupun di akhirat. Siksa tersebut, menurut Ibn Abbas r.a., adalah dalam bentuk terampasnya kembali segala sumber kenikmatan (salb al-ni’am) dalam hidupnya di dunia dan siksaan serta murka Allah SWT yang berlangsung terus menerus (tawâlî al-niqam).

Jika seseorang tetap menetapkan hatinya untuk kufur kepada Allah SWT maka sesungguhnya hal itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun bagi Allah SWT. Jangan merasa bahwa semua hal baik yang kita lakukan itu akibat baiknya untuk Allah SWT. Tidak! Semua hal baik yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Demikian pula sebaliknya. Dalam lintasan historis, kalangan keturunan Israil selalu memiliki asumsi bahwa ketaatan yang mereka lakukan itu akan sangat berpengaruh bagi Allah SWT dan utusan-Nya. Anggapan itu ditolak dengan tegas, bahwa bersyukur ataupun tidak itu akibatnya akan kembali kepada umatnya sendiri dan tidak ada apa-apanya bagi Allah SWT. Allah SWT tidak memerlukan syukur hamba-hamba-Nya. Coba perhatikan dengan seksama ayat berikut, ”Dan Musa berkata: “Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Ibrahim [14]: 8)

Itu adalah pengalaman Nabi Musa as. Bagaimana dengan kita umat yang hidup bahkan jauh setelah turunnya Nabi Muhammad s.a.w.? Kurang lebih sama saja! Kita dapat menjadikan pengalaman-pengalaman sosial dan spiritual kita sebagai motor penggerak rasa syukur kita kepada Allah SWT. Pengalaman dengan terjadinya gempa bumi, letusan gunung, banjir, longsor, kebakaran, kekeringan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah pengalaman yang luar biasa. Bagaimana jika tidak mengalaminya? Setidaknya setiap orang memiliki rasa senang dan susah yang potensi membangkitkan rasa syukur. Jika tidak juga, maka kita harus memancingnya dengan jalan belajar dari orang lain.

Bagaimana caranya? Nabi Muhammad s.a.w. menganjurkan kita untuk melihat orang-orang yang kurang beruntung atau ada di bawah kita agar kita dapat mensyukurinya. Atau bentuk kongkretnya disebutkan oleh ‘Â’idh al-Qarny dalam Kitab Lâ Tahzan:”Zur al-mustasyfâ kai ta’rifa ni’mat al-’âfiyah! Wa al-sijna kai ta’rifa ni’mat al-hurriyyah! Wa al-mâristân kai ta’rifa ni’mat al-’aql! Fa innaka fî ni’amin lâ tadrî bihâ” (Kunjungilah rumah sakit agar Anda dapat mengenal nikmatnya afiat; kunjungilah penjara agar Anda dapat mengenal nikmat kebebasan; dan kunjungilah rumah sakit jiwa agar Anda mengenal nikmatnya akal. Karena Anda sering berada dalam suatu kenikmatan yang tidak Anda sadari).

Untuk dapat benar-benar bersyukur, kita harus tahu benar apa sesungguhnya yang dimaksud dengan syukur itu. Tanpa itu, kita akan sering terjatuh kepada kesalahan karena kebodohan kita, merasa menjadi seorang hamba yang bersyukur namun pada kenyataannya masih jauh dari kenyataan. Berikut ini adalah definisi tentang syukur yang dikemukakan oleh seorang mufassir, Abdurrahman ibn Nashir al-Sa’dy dalam Kitâb Tafsîr Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr al-Kalâm al-Mannân:
”Syukur adalah pengakuan hati terhadap semua karunia Allah, kemudian memuji Allah terhadap segala karunia tersebut, dan lalu memanfaatkan karunia-karunia tersebut dalam menggapai keridhaan Allah Ta’ala. Dan kufur nikmat adalah berlawanan dari itu semua”.

Semoga kita semua mampu melihat semua karunia Allah SWT dengan mata batin yang jernih dan mampu menjadi umat Nabi Muhammad s.a.w. yang pandai dalam mensyukuri karunia Allah SWT. Âmîn ya Rabb al-’âlamîn. Wallâhu a’lam bi al-shawwâb

Supriyanto Pasir
Guru Tafsir di berbagai masjid di Yogyakarta


http://alrasikh.wordpress.com/2010/04/09/bagaimana-mensyukuri-karunia-allah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar