Rabu, 14 Agustus 2013

Almamater_Sang Ibu


Dalam, dalem, deeply touching, Ful.

Mungkin sang Ibu tak pelu mengubah substansi ajarannya, tapi barangkali ada baiknya untuk diimbuhkan ajaran etika (bisnis), moralitas dan 'street-smart skills'.

Etika dan moralitas untuk memperkuat pertahanan terhadap godaan, sementara 'street-smart skills' diperlukan untuk: "mbok ya kalo lo pengen juga korupsi, lakukan dgn cerdas seperti anak2 didik Ibu Almamater lain' :-)

1. Ojo terimo gratifikasi neng omah mu.
2. Hati2 menggunakan alat komunikasi. Wong BB aja oleh istri bisa dipasang alat sadap (cloning) + GPS (ada di Sentul ngaku di Istiqlal pasti ketauan). Apalagi tentu KPK punya alat lebih canggih.
3. Tunjuk orang yg bisa dipercaya sebagai kasir yg akan terima uang gratifikasi mu a la Fathonah. Idealnya pengusaha swasta, jadi kalo kesana kemari bikin deal gak dicurigai. Kalo bisa jangan yg doyan cewek.
4. Teruskan gaya hidup sederhana. Ojo langsung tuku Mercy. Edan opo kowe?
5. Nek butuh duit cepet (contoh: mau mantu), main golf karo kasirmu. Pura2 taruhan 50 juta per hole. Ngomong kenceng2 agar yg lain denger. Eh ndilalah kowe menang 10 holes, entuk 500 yuto. Hasil taruhan, bukan gratifikasi. Legal in all aspects. 

Jadi ente gak bikin malu dua kali. Bikin malu diri sendiri dan bikin malu Ibumu Sang Almamater.

Ngono yo ngono yen ojo ngono,

Amrie Noor

 itb77-bounces@bhaktiganesha.or.id; on behalf of; amrie.mad@gmail.com

**************************


Catatan:

"Ada beberapa temuan, selain dokumen dalam penggeledahan, penyidik juga menemukan uang 200 ribu dolar AS di Ruang Sekjen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral)," kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP di kantor KPK, Kamis sore.

Kalau semua ini benar, hemmm menteri jaman sekarang itu jadinya seperti kapal keruk. Profesor idealis pun ndhak masalah bagi mereka untuk dikorbankan... 


Kalau kita hanya memperhatikan RR saja, rasanya seperti menghadapi salah satu sel teroris atau sel pengedar narkoba. Otak teroris atau bandar narkobanya ndhak ketahuan.

Pengin jadi mentri ? Jadilah kapal keruk, kata seorang teman yang mantan petinggi BUMN. Yang dikeruk itu duit. Prof RR dijadikan salah satu alat keruknya. Bahkan gaji besar, atau tambahan jadi komisaris suatu Bank BUMN, bukan tidak mungkin sekian persen harus disetor kepada kapal keruk tadi.... hiks... Itulah sistem yang berjalan. Sepertinya ndhak sama dengan yang tertulis di dokumen aturannya/ UU-nya/ PP-nya.

Jadi kalau ada yang bersemangat mengajak dosen yang asyik mengajar di tengah kebon tebu agar masuk ke dunia politik, tujuannya apa ? Untuk membenahi sistem ? Sistem yang mana ? Sistem yang tertulis atau yang dijalankan ? Atau mau dijadikan komponen sistem kapal keruk ?


by witarto adi
Sumber : itb77-bounces@bhaktiganesha.or.id; on behalf of; Witarto Adi [witart@gmail.com]



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar