Rabu, 07 Agustus 2013

Bayang-bayang dunia



يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيوةُ الدُّنْياَ وقفة وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaithan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Al Faathir (35) : 5)

Bayang-bayang diri muncul bersebelahan
Diri tak    merasa  sedang   dipermainkan
Di bawah cahaya rembulan yang menawan
Setiap   melangkah   bayangan   ke depan
Senantiasa  menggoda  memberi  harapan
Hatipun    berkata,   sedih   menyaksikan

Nakalnya dikau,wahai bayang-bayangan
Permainkan     diri     harap     diberikan
Harap tinggal harap,  tanpa  kenyataan
Kapan kau bayangan jera  mempermainkan
Kasihani diri, lelah pada pengembaraan
Mancari  titik  puncak  suatu kepuasan
Terlena  umat  bersama  impian bayangan
Bayangan hidup dalam liputan kepalsuan
Bukan  salah  Islam,  ummat  berantakan
Salah  pengikut Islam, terjauh  Al-Qur’an
Terpikat kaum kafir, Al-Qur’an dipalingkan
Jangan  menyesal bila datang kehancuran

Wahai Allah,wahai Rabbi pemberi kekuatan
Terpenjara diri dalam lingkaran  kedzaliman
Kedzaliman terselubung dalam satu  barisan
Tak berdaya kami, hadapi  suatu  kenyataan
Jangankan kehidupan ummat untuk diselaraskan
Nafsu sendiri,    sulit  kami    kendalikan

Wahai  Allah,   wahai  Rabbi  pendidik  diri
Pasrah menyerah diri,bersama binaan Ilaahi
Maafkanlah kami, kesalahan selalu dijumpai
Tanpa   uluran   kasihmu,    tergelincir  diri
Syukur tiada tara rachmat selalu Kau  beri
Belumlah wujud nyata dalam sikap sehari-hari

Bila sejenak direnungkan tentang kehidupan manusia dewasa ini, yang katanya kehidupan zaman modern. Terasa terdengar jeritan tangis kegelisahan, kesedihan dan keraguan karena himpitan disana-sini, baik dari manusia yang hanya sekedar mencari sesuap nasi sampai manusia sombong dan serakah karena bergelimang kemewahan duniawi. Memang berat rasanya menerobos kegelapan hidup dewasa ini. Dalam kegelapan hidup bertebaran duri-duri. Bukan saja duri di luar diri, justru duri amat tajam adalah duri dalam diri sendiri yang tumbuh tertancap dalam di serat-serat daging, sakit rasanya saat duri dikeluarkan, melebihi disakiti panah masuk dalam diri. Duri-duri tumbuh pada setiap diri, menjadikan kehidupan umat ditimpa wabah penyakit, khususunya penyakit hati yang lama menjangkit, tak ada teori ilmu yang dapat mengantisipasi. Padahal “katanya” abad kini adalah abad kehidupan diera serba mutakhir penuh kemajuan duniawi. Tidak disadari jika penyakit hati berjangkit diseluruh permukaan bumi. Penyakit hati, bukan hanya sekedar penyebab timbul silang sengketa antar sesama manusia, tak ada kasih sayang di tengah-tengah kehidupan masa kini.
Akibat fatal kronisnya penyakit hati, umat manusia berada dalam kemabukan impian bayang-bayang. Bayang – bayang terus dikejar tanpa kenal lelah, tanpa kenal waktu. Memang seakan tampak indah suatu bayang – bayang. Apalagi bayang – bayang kemilau duniawi. Bayang – bayang mampir di setiap impian. Jika disadari jauh ke depan, sirnalah kemulaan manusia yang telah ditakdirkan Allah selaku kholifah di muka bumi dengan derajat lebih mulia dari seluruh makhluk. Sebenarnya “tugas manusia selaku hamba Allah adalah mengembalikan fungsi diri selaku sebaik-baik umat di tengah kehidupan seluruh makhluk” (QS. Ali Imran (3) : 110).
Untuk dapat mengembalikan fungsi diri manusia selaku kholifah sudah seharusnya segala impian bayang-bayang yang menerkam harus telah sirna dalam setiap langkah kehidupan. Hal ini memang tidaklah mudah. Oleh sebab itu dengan penuh mengharap pertolongan Allah, bertahap selangkah demi selangkah berusaha menyibakkan gelaran hakekat kehidupan yang sesungguhnya.

Berpijak dari kehidupan inilah para hamba Allah sejati mengembalikan fungsi diri. Sedangkan hakekat kehidupan itu sendiri adalah pengabdian sejati seorang hamba kepada Sang Pencipta. Dari pengabdian sejati inilah muncul pandangan yang sesungguhnya, yakni pandangan yang tertuju pada inti hakekat kehidupan.
يَا دُنْيَا اُخْدُ مَنْ خَدَمَنِى وَاسْتَخْدِ مِى مَنْ خَدَمَكِ
Wahai dunia! Berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku (Allah), dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HQR. Al Qudha’I dari Ibnu Mas’ud r.a.)
Sedangkan kenyataan kondisi umat manusia di jagat raya, khususnya umat Islam yang menyebar hampir di seluruh permukaan bumi, tertidur berselimutkan bayang-bayang. Bayang-bayang itu adalah duniawi. Jelas bila seseorang berada dalam kegelapan, dia sulit untuk memandang suatu yang nyata. Dia akan lebih mudah memandang bayang-bayang. Oleh karena itu, seseorang berada dalam kegelapan hati, matanya hanya dapat melihat bayang-bayang. Bayang-bayang itulah yang dirasakan sebagai suatu kenyataan. Padahal bila disadari bayang-bayang tak pernah memberikan suatu arti. Contoh isi dunia dekejar, apakah isi dunia ini abadi selalu dalam pegangan dir? Tidak! Ada masanya isi dunia lenyap dan pergi atau sebaliknya diri pergi meninggalkan isi dunia. Inilah bukti bahwasanya bayang-bayang takpernah memberikan kepuasan hakiki.
“Bayang-bayang” sering diidentikkan dengan “suatu impian” atau “harapan” apa yang hendak diraih, kata rationalis, sering pula bayang-bayang menjadi pemicu agar diri bertindak cepat. Dan bayang-bayang itu pula yang sering menjadikan manusia terperosok dalam lembaran fikir, seketika pula nafsu mendorong mewujudkan, hingga apabila bayang-bayang belum terpegang atau terjangkau sering menjadikan hati gundah gulana. Tampaknya bayang-bayang begitu besar keberadaannya dalam diri manusia. Namun sebenarnya bayang-bayang menjadi kendala dan hambatan bagi manusia, untuk meraih suatu yang nyata dan pasti, karena bayang-bayang dapat mempermainkan manusia yang mengejarnya (tanpa kenal lelah), dengan sedikitpun bayang-bayang ini tidak menaruh belas iba. Semakin dia (bayang-bayang) dekejar semakin laju pula bayang-bayang meninggalkan dirinya.
Pernahkah kita mencoba untuk merenungkan guna menggali dan menyibak dengan teliti hal ihwal akan diri sendiri? Seorang dikatakan Arif, jika dia tidak akan menggali dan mencari sesuatu titik nyata atau titik kebenaran di luar diri (gejala alam misalnya), melainkan lebih dahulu menggali diri. Sebab sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam bahasa orang Arif, “barang siapa ” mengerti diri berarti ia telah memiliki kekayaan melimpah ruah. Tetapi kebalikan pada manusia di abad logika sebagai andalan utama, tak pernah ia menyempatkan untuk menggali/menyibak potensi dalam diri sendiri, melainkan sibuk menggali potensi yang berada di luar diri. Padahal bila potensi diri telah diketahui dengan pasti, inilah langkah strategi menyusun kembali kehidupan manusia yang telah porak pranda.
Dengan diketahuinya potensi diri, sudah pasti pula diketahui titik nyata atau titik kebenaran. Dengan diketahui titik nyata atau titik kebenaran. Dengan demikian setiap langkah perbuatan selalu berpujak pada titik kebenaran. Tidak sebaliknya berkata tanpa suatu kejelasan pasti (titik kebenaran) akan menyebabkan manusia selalu dalam keraguan. Dan inilah sumber malapetaka bagi manusia. Hal ini telah diisyaratkan oleh Muhammad Rasulullah dalam sebuah hadits, yang artinya:
“Barangsiapa yang menjadikan dunia ini (pusat) cita-citanya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kepapaan (keraguan) menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah manghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya”.(HR.Thabrani)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar