Rabu, 07 Agustus 2013

Jeritan Ruh kepada Rabbnya …



وَالله يَدْعُوْا اِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِى مَنْ يَّشَآءُ اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Allah menyeru (manusia) ke Darus Salam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS. 10 : 25)
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِّى مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا
Dan katakanlah : “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. 17 : 80)
Allah S.W.T. telah menyeru manusia untuk memasuki surga, yakni suasana hidup dan kehidupan yang penuh kesejukan kesegaran ketentraman saling kasih sayang tanpa ada penekanan satu dengan yang lain. Untuk bisa menuju ke sana (ke surga), maka Allah dengan rahmat dan kasih sayangnya menurunkan kitab yang tidak ada keraguan dan kebengkokan dan dikirim Rasul S.A.W. untuk menjelaskan kitab serta teladan dalam hidup dan kehidupan. Namun, sungguh manusia itu dzalim lagi kufur terhadap Rabbnya.
Kedzaliman dan kekufuran bukan terletak pada ucapan tetapi dalam sikap dan perbuatannya. Lisannya berucap bahwa Allah-lah sembahannya, tetapi sikap perbuatannya meng-Ilahkan dunia. Lisannya berucap bahwa Qur’an sebagai petunjuk hidup, tetapi kitab-kitab Yahudi menjadi bacaan dan pegangannya. Lisannya berucap bahwa Rasulullah Muhammad S.A.W. teladan hidup dan kehidupannya, tetapi perilaku Yahudi-Nasrani, adat-istiadat nenek moyang panutan sikap dan perbuatannya dalam hidup dan kehidupan.
Demikian itu karena manusia terlalu sombong dan melampaui batas. Dikaruniai modal dasar ruh, rasa, hati, aqal dan nafsu agar masing-masing tumbuh kembang bebas menuju Robbnya, malah nafsu dan logika yang ditumbuh suburkan dengan menekan ruh, sehingga ruh merintih merasa kesakitan tidak bisa berkomunikasi dengan Robbnya, akibat ulah nafsu dan logika yang tidak mau kompromi untuk memenuhi kepuasan tuntutan hidup duniawi.
Jeritan Ruh mengadu kepada Robbnya
Melihat ruh selaku tetesan kesucian-Nya  … (Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.  (QS. Al Hijr (15) : 29) …  sedang terinjak-injak oleh nafsu dan logika, maka sang Ar Rahman dan Ar Rahiim menyeru kepada ruh agar bermohon kepada-Nya, dengan susunan bahasa kata sebagaimana firman-Nya pada QS. 17 : 80 berikut ini.
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِّى مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا
Dan katakanlah : “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”  (QS. Al Israa (17) : 80)
Atas jeritan permohonan ruh, akibat terinjak-injak nafsu dan logika, maka Allah memberikan pertolongan-Nya sebagaimana firman Allah pada QS. Al Anfaal (8) : 17 berikut:
فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلكِنَّ اللهَ قَتَلَهُمْ وَمَارَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلكِنَّ اللهَ رَمَى وَلِيُبْلِىَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلآَءً حَسَنًا إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal (8) : 17)
Demikianlah Allah, begitu mudah Dia Allah sang Ar Rahman melimpahkan rahmat karunianya kepada hamba yang bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Suatu pertanda bahwa Allah itu dekat dan sangat dekat dan mudah dihubungi. Sebagaimana firman-Nya.: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah (2) : 186). Namun, sungguh rahmat Allah mendahului murka Allah, artinya apabila rahmat pertolongan Allah telah diturunkan tetapi tidak didayaguna-manfaatkan selaras dengan kehendak-Nya, maka rahmat itu akan berubah menjadi laknat atau azab. Sebagaimana firman-Nya pada QS. 17 : 8 berikut ini.
 …عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِيْنَ حَصِيْرًا
“Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu, dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al Israa’ (17) : 8)
Rahmat Terbesar dari Allah S.W.T.
Rahmat terbesar yang Allah turunkan kepada hambanya yang menjerit merintih meminta pertolongan untuk dikeluarkan dari tekanan nafsu dan logika adalah berupa kitab petunjuk jalan lurus untuk jumpa kembali kepada Robb, yakni Al Qu’an. Agar rahmat tetap menjadi rahmat, maka serba-serbi dalam berbuat, harus membuka Qur’an untuk menjangkau terbuka lurus pandangan terbuka pada satu titik (.) yakni Aku Allah.
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya; (QS. Al Kahfi (18) : 1) … Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An Nahl (16) : 89). Bagaimana bisa berpandangan lurus terbuka pada satu titik Allah agar rahmat tetap menjadi rahmat? Allah hanya bisa dihubungi dengan hati bersih murni. Hati bersih murni akan terjadi apabila apa yang dilihat mata dan didengar telinga sama sekali tidak berpengaruh (putus tali) dalam hati.
Secara rinci ciri-ciri hati bersih murni adalah :
Lapang dada karena tidak terpengaruh oleh apa dan siapa, kecuali Allah. Laksana sebutir buah kelapa yang terlempar di tengah laut. Walaupun berada di tengah-tengah gelombang ia tidak terpengaruh oleh besarnya gelombang lautan kehidupan.
Suasana hati terasa sejuk segar, sejuk karena terlepas dari panasnya masalah kehidupan di lingkunagn terbuka, dan segar karena bangkit kembali dari kelayuan setelah memperoleh siraman air segar dari langit berupa siraman ruhani kalam Ilaahi.
Walaupun mata kepala melihat fenomena dan telinga mendengar suara/informasi, namun apa-apa yang dilihat dan didengar tidak berpengaruh (putus tali hubungan) ke dalam hati atau tidak dicerna hati tidak menggetarkan hati. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa berbagai omongan yang tidak selaras dengan Qur’an dan Sunnah Rasul hanya akan membikin hati menjadi kotor dan busuk. Keyakinannya adalah bahwa hati hanya untuk Allah, sedangkan Aqal untuk memikirkan ciptaan Allah dalam rangka ketundukan hati kepada-Nya.
Berkondisi cukup setimbang sempurna, tampil dengan lemah lembut. Kondisi demikian merupakan buah hasil dari lepasnya hati dengan segala yang dilihat mata dan didengar telinga. Dengan kelemah-lembutan inilah maka akan bersambung dengan Aku Allah. Tersambungnya hati dengan Allah, maka akan dirasakan ketenangan. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram (tenang) dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (tenang). (QS. Ar Ra’d (13) : 28). Wujud tersambungnya hati dengan Allah, maka segala yang tidak dari Allah dan Rasul-Nya akan ditolak.

Sifat terpuji tali sambung dengan Allah S.W.T
Tali sambung dengan Allah S.W.T adalah sifat terpuji, artinya hanya dengan sikap ucap dan perbuatan terpujilah manusia  selaku hamba Allah dapat berhubungan langsung dengan Allah S.W.T apa yang dimaksud dengan sifat terpuji? Yakni wujud tampilan ketaatan kepada Allah yaitu segala sikap ucap dan perilakunya senantiasa selaras dengan kehendak Allah. Manusia yang demikianlah yang akan menjadi hamba kecintaan Allah.
Ciri manusia hamba Allah taat atas dasar cinta, maka rahmat terbesar Allah akan dikaruniakan kepadanya, berupa pertolongan dalam segala hal, mata dan THTnya adalah mata dan THTnya Allah. Sebagaimana firman-Nya pada QS. Al Israa’ (17) : 8 yang telah dikutip di atas, dan Hadits qudsi berikut:
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunnat, sehingga ia kusenangi dan Ku-cintai. Karenanya Aku-lah yang menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, lidahnya yang dengannya ia bertutur kata, dan aqal yang dengannya ia berfikir . apabila ia berdo’a kepada-Ku, Aku perkenankan do’anya. Apabila ia meiminta sesuatu kepada-Ku niscaya Aku mengaruniainya, dan apabila ia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku menolongnya. Ibadah yang dilakukannya kepada-Ku yang paling Aku senangi ialah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya untuk-Ku.”  (HQR. At-Thabrani, dalam Kitab Al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)
Memperhatikan ayat Qur’an pada Surah Al Anfaal (8) :17 dan Hadits Qudsi di atas betapa besar rahmat pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba yang taat atas dasar cinta dengan tampilan akhlaq terpuji. Hamba ini akan mampu mengetahui segala sesuatu dan berilmu sehat setimbang pelestari kesetimbangan semesta. Karena mata, THT, aqal dijadikan sebagai tampilan kehendak Allah. Inilah yang dinamakan jumpa Allah dalam Asma-Nya. Yang harus diperhatikan bahwa rahmat bisa jadi berubah menjadi laknat. Siapa yang terlaknat? Mereka yang pernah menikmati rahmat tali hubung dengan Allah, namun masih juga menyambungkan tali hubung dengan apa yang dilihat mata dan apa yang didengar telinga. Itulah orang yang tidak taat, sebagaimana Iblis yang terlaknat, karena tidak mau sujud kepada Adam A.S, akibat terpengaruh oleh penglihatan mata kepala melihat Adam sebagai garis.
Garis penghalang ruh jumpa Robb
Tantangan yang harus dihadapi ruh untuk dapat kembali berjumpa robbnya semenjak di dunia ini adalah adanya kehidupan yang berbentuk dua garis. Kehidupan yang berbentuk garis pertama adalah kehidupan yang tampaknya manis dan lezat. Sedangkan kehidupan garis kedua adalah kehidupan yang tampaknya pedih dan sakit. Kedua kehidupan yang berbentuk garis ini senantiasa akan menggetarkan hati, jika hidup mengandalkan THT kepala. Apa yang dilihat mata dan didengar telinga senantiasa dicerna oleh otak demi kepentingan isi perut, akibatnya akan menimbulkan gangguan-gangguan dalam hati. Kehidupan demikan merupakan ujian bagi manusia, apa tetap kuat-tegar atau semakin melemah-tak berdaya.
Agar hati terbebas dari gangguan-gangguan kehidupan dua garis, hingga ruh dapat terlepas bebas terbang mengembara menjumpai Robbnya, maka harus senantiasa beraktivitas yang diawali dengan membuka Qur’an dalam rangka mempertahankan tali hubung dengan Aku Allah. Dengan aktivitas yang didahului membuka Qur’an membaca sesuatu dengan Aku Allah maka akan memperoleh tambahan karunia. Sebab membuka Qur’an dan membaca dengan Aku Allah berarti membuka memulai menggali hikmah-hikmah yang ada dibalik garis.
Terbacanya segala hikmah dibalik kehidupan garis berarti melepaskan ruh untuk bebas terbang mengembara menjangkau masuk ruang kosong bersama-sama dengan para malaikat untuk menjemput berita-berita besar dari Ar-Rohman. Barangsiapa yang hidupnya hanya memandang titik Allah., maka ruhnya akan terlepas dari belenggu kehidupan garis, dan dia senantiasa akan mengembara bebas didampingi seribu Malaikat. Sebagamiana firman-Nya: “(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu deperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS. Al Anfaal (8): 9). Berita-berita besar yang telah diperoleh itu kemudian didayaguna-manfaatkan untuk merombak kehidupan di lingkungan terbuka.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah S.W.T. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar Ra’d (13) :11) Dari hidup berpandangan garis semata, menuju hidup yang berpandangan titik. Sebab esensi kehidupan bukan merupakan hamparan garis tebal, melainkan berpandangan titik. Sebab esensi kehidupan bukan merupakan hamparan garis tebal, melainkan hamparan titik yang membentuk garis.
Hanya hidup dengan pandangan titiklah yang akan melahirkan keilmuan yang mampu menjaga melestarikan kesetimbangan semesta ini. Ciri hidupnya berpandangan titik adalah aqal dan konsep keilmuannya senantiasa berdasarkan wahyu atau ilham yang dijemput oleh ruh yang telah bebas lepas mengembara menjumpai Rabbnya.
Begitulah ruh selaku titisan kesucian Allah yang telah merasa ditekan oleh nafsu dan logika maka dia akan menjerit memohon pertolongan atas ijin-Nya kepada Rabbnya agar dilepaskan dari belenggu nafsu dan logika. Dan Allah sang Ar-Rahman sungguh Maha Mengetahui dan Maha Mendengar, lagi Maha Mengabulkan do’a hambanya yang sungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِي وَلْيُؤْمِنُوْا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  (QS. 2 : 186)
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”  (QS. 29 : 69)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar