Jumat, 12 November 2010

BERSYUKUR ITU INDAH

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku berjudul 13 Wasiat Terlarang! karya Ippho Santosa, yang oleh sang penulis disebut mampu melejitkan dan memaksimalkan potensi otak kanan. Ada banyak hal menarik dan inspiratif dalam buku tersebut. Berikut saya kutipkan salah satu bagian yang menurut saya paling menarik. Bagian ini adalah tentang syukur dan berpikir positif.

Pada suatu waktu di suatu tempat, tersebutlah seorang bocah yang masih polos sedang berdoa: “Tuhan, Engkau ‘kan tahu, ujian matematiku hari ini sangat buruk. Tetapi, aku bersyukur. Aku tidak menyontek, walaupun teman-temanku melakukannya. Berangkat ke sekolah tadi pagi, aku membawa sepotong roti dan sebotol air. Kata ayah, sekarang sedang musim paceklik. Jadi hanya itu yang bisa kubawa. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan saja kue itu padanya. Eh, tahu-tahu laparku hilang ketika melihatnya tersenyum.”

“Tuhan lihatlah, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu, sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa. Aku tetap bersyukur. Paling tidak, aku masih bisa pergi ke sekolah. Terima kasih Tuhan!

Tetanggaku bilang, orang-orang sedang mengalami gagal panen. Beberapa temanku terpaksa berhenti sekolah. Tuhan tolong bantu mereka, supaya bisa sekolah lagi.”
“Oya, semalam ibuku memukuliku. Mungkin karena aku nakal. Itu memang sakit, tapi pasti rasa sakitnya segera hilang. Aku tahu Engkau akan menyembuhkan sakit itu. Yang penting, aku masih punya seorang ibu. Tuhan, tolong jangan marahi ibuku, ya.. Dia hanya lelah, juga panik memikirkan biaya sekolahku. Terakhir, Tuhan. Rasa-rasanya, aku sedang jatuh cinta. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku. Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku? Tetapi, apa pun yang terjadi, aku tahu Engkau pasti tetap menyukaiku. Terima kasih Tuhan!”

***

Syukur adalah perasaan yang jarang sekali dimiliki oleh kita. Terlebih jika dibandingkan dengan keluhan dan keinginan yang kita miliki. Terlebih lagi ketika kita mengalami kesusahan. Padahal sudah banyak nikmat yang kita dapatkan. Bahkan seandainya air laut dijadikan tinta, tak akan cukup untuk menuliskan semua nikmat yang diberikan oleh Allah. Maha benar Allah SWT dengan firmanNya yang menyebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak mau bersyukur.

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya. (QS. Yunus [10]: 60).

Dalam Islam, bersyukur baik dalam keadaan lapang maupun sempit adalah sebuah keharusan. Bahkan, jika seorang mukmin tidak mau bersyukur ia akan mendapatkan azab. Sebagaimana disebutkan dalam surah Ibrahim [14] ayat 7 di atas. Sebaliknya, jika seorang mukmin mau bersyukur, maka Allah akan menambah dan melipatgandakan nikmat yang Ia berikan. Apa sebenarnya maksud Allah dengan firmanNya tersebut? Mari kita telusuri.

Kajian-kajian kontemporer dalam psikologi, neuropsikologi, motivasi, pengembangan diri, manajemen, bahkan pemasaran (marketing) menemukan bahwa ternyata rasa syukur yang tulus merupakan sumber kekuatan luar biasa untuk sukses. Sebaliknya, keluhan-keluhan hanya akan menghambat kesuksesan. Selanjutnya, sikap ini akan memupuk benih-benih kegagalan. Demikianlah barangkali (salah satu) makna praksis dari ayat tersebut.

Pribadi yang bersyukur adalah pribadi yang unggul. Demikian maklumat dari Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin: 27).

Jika Anda pernah membaca buku atau menonton video The Secret, Anda pasti mendapati bahwa di sana dipaparkan bahwa syukur adalah tahapan kunci untuk memperoleh kesuksesan. Sang pengarang berwasiat, “Bayangkanlah harapan-harapan Anda dengan penuh rasa syukur, seakan-akan Anda sudah menerimanya. Dengan demikian, Anda akan menerimanya segera!” Inilah output dari hukum tarik-menarik universal (law of attraction).

Rasa syukur akan mengumpulkan aura dan energi positif dalam diri Anda yang kemudian akan menarik segala hal positif yang Anda inginkan, termasuk faktor-faktor yang mendukung kesuksesan.

Itulah mengapa dalam adab berdoa secara Islam, yang pertama harus dilafalkan adalah bacaan tahmid, bukan yang lainnya. Ingat juga, bahwa surat Al-Fatihah juga diawali dengan hamdalah. Menurut Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas, ketika kita memiliki harapan-harapan, sesungguhnya di level quantum harapan kita sedang didengar dan diproses. Jika kita memperkuat aura positif kita dengan rasa syukur dan tahmid secara tulus, terlebih dilakukan dalam doa yang tulus pula, maka harapan-harapan tersebut pasti akan dikabulkan. Jadi, sejatinya yang pertama dan utama adalah syukur dulu baru kemudian meminta dan dikabulkan. Akan tetapi, kebanyakan kita meminta dulu baru bersyukur. Syukur-syukur mau bersyukur, lha kebanyakan kita tidak mau bersyukur.

Dalam buku Your Infinite Power To Be Rich, Joseph R. Murphy menegaskan, andai seluruh proses menuju kekayaan material, mental, dan spiritual dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah ‘syukur’ (gratitude). Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia dibalik kegemilangan Albert Einstein adalah ia selalu mengucapkan syukur dan terimakasih ratusan kali setiap harinya.

Satu hal lagi yang penting adalah bahwa syukur bukan hanya layak diucapkan ketika kita mendapatkan sesuatu yang enak dan menggembirakan. Bahkan ketika suatu saat kita gagal atau kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, kita harus tetap bersyukur. Segala sesuatu yang tidak enak pun sesungguhnya adalah anugerah yang sangat layak untuk disyukuri. Di samping karena kita tidak layak untuk mengeluh sebab nikmat yang kita miliki jauh lebih banyak, juga karena di balik hal-hal yang tidak enak itu sejatinya tersimpan hikmah dan pelajaran yang luar biasa positif.

Coba simak puisi karya Balya al-Rasyid yang mencoba merenungi hikmah di balik segala sesuatu yang tidak enak melalui rasa syukur berikut ini:

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku sengsara, menderita
Engkau telah mengajariku cara untuk bersabar

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku gagal
Engkau telah mengajariku cara untuk terus berjuang

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku kalah
Engkau telah mengajariku cara untuk bertahan

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku jatuh tersuruk, terpuruk
Engkau telah mengajariku cara untuk bangkit

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatnya menolak ku
Engkau telah mengajariku cara untuk mencintai dengan tulus

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku tersesat
(Dengan demikian) Engkau telah menunjukkanku jalan yang benar

Tuhan, terimakasih untuk semua yang tidak enak ini
Semuanya



Wallahu a’lam.

Ahmad Baliyo Eko, S.Psi.
Alumni PP UII

http://alrasikh.wordpress.com/2008/09/09/bersyukur-itu-indah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar