Kamis, 18 November 2010

Pohon Terbesar di Dunia


Pohon Baobab pertama kali dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan pada abad ke-14, saat kisahnya meluncur dari mulut seorang petualang Arab, Ibnu Batuta.

Sejak abad ke-16 orang-orang Eropa mengetahui bahwa ternyata buah dari pohon ini laku di pasar-pasar Mesir. Buah Baobab biasanya digunakan sebagai bumbu masakan dan sebagai jamu. Namun Michel Adanson-lah yang paling berperan memperkenalkan Baobab ke dunia modern. Ahli botani asal Prancis ini yag pertama kali mempelajari kehidupan dari pohon Boabob. Itu sebabnya ketika Carolus Linaeus hendak menamai pohon ini, ia tanpa ragu-ragu memberikan nama "Adansonia."

Adapun spesies dari pohon Baobab ini terbagi menjadi 8 spesies, dimana kebanyakan diantaranya terdapat di Madagaskar, sehingga dinyatakan sebagai habitat asli.
Ciri-ciri dari pohon ini amat sangat mudah untuk dikenali dari bentuk fisik. Pohon ini mampu tumbuh hingga ketinggian mulai dari 5 meter hingga 50 meter, berdiameter 5 meter sampai 11 meter. Pohon ini mampu menampung air dalam jumlah banyak, mencapai 120.000 liter. Karena kapasitasnya yang cukup banyak dan bentuk yang menyerupai sebuah botol air mineral sehingga ia mendapatkan gelar baru nih "Pohon Botol."

Di benua Afrika

Di benua Afrika ditemukan pohon terbesar di dunia, nama pohon ini adalah Baobab. Baobab adalah pohon yang dapat berumur panjang sering disebut Tree of Life karena pohon ini bisa berumur sampai 800 tahun. Baobab dapat menyimpan 300 liter air sekaligus dalam musim hujan, pohon ini dikeramatkan di daerah asalnya karena mengingatkan penduduk tentang nenek moyangnya.

Pohon ini juga terkenal karena salah satu Formasi Baobab di Madagaskar yang paling terkenal terpublikasi secara massal setelah menjadi kandidat The new 7 Wonder Nature Baobab Avenue, dimana formasi pohon Baobab menjulang tinggi dengan sangat indahnya.

Di INDONESIA


Sejarah pohon raksasa the african baobab atau pohon "asem buto" di Indonesia belum diketahui pasti. Hal tersebut terutama pada pertanyaan, kapankah kali pertama bibit baobab ditanam di Indonesia. Berdasarkan survei Trubus di wilayah Jawa Barat, terdapat puluhan pohon baobab yang berusia sekitar 160 tahun.

Ada pula pohon baobab yang diduga berusia lebih tua, sekitar 700 tahun, yang ditanam oleh penduduk setempat. Bibit pohon ini diduga dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah yang menyebarkan bibit pohon tersebut, sejalan dengan penyebaran ajaran Islam di Tanah Air.

Sejauh ini, tidak banyak masyarakat yang mengetahui manfaat dan kegunaan dari pohon yang mendapat julukan "asem buto" itu karena ukuran batangnya yang bisa sangat besar dan tinggi tersebut. Tidak jarang, penduduk menebang dan menggunakannya sebatas sebagai kayu bakar.

Mengungkap Khasiat Pohon African Baobab


Rektor Universitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa Somantri, mengatakan pohon African Baobab mempunyai kandungan nilai nutrisi tinggi yang berguna bagi kesehatan.

"Adalah artikel di sebuah media Eropa yang mencantumkan keistimewaan dari Superfruit bernama African baobab atau Adansonia Digitata," kata Gumilar.

Dalam artikel di media Jerman tersebut, dikatakan bahwa buah dari pohon tersebut mengandung Vitamin C yang sangat tinggi, bahkan mencapai enam kali lebih banyak dari yang terkandung di dalam jeruk. Kadar kalsiumnya lebih banyak dari yang terdapat di susu.

"Daun dari pohon ini dapat dipergunakan untuk bahan lalap atau sayur, yang mengandung mineral sangat tinggi," katanya.

Untuk kulit pohon yang bernama lokalnya Ki Tambleg tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti bahan membuat tali bahkan pakaian.

"Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipergunakan sebagai obat untuk pengobatan tradisional," ujar mantan dekan FISIP UI tersebut.

Di Eropa, buah pohon tersebut diterima sebagai produk alam dari Afrika yang kemudian daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat Eropa, sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lainnya.

Mendapat informasi tentang keistimewaan pohon tersebut, pihaknya dua tahun lalu menulis surat yang ditujukan kepada Majalah Trubus, mengenai apakah tanaman ini di Indonesia dapat tumbuh dan bagaimana cara mendapatkan bibit pohon tersebut.

Surat tersebut dilandasi keinginan UI untuk menanam dan memasyarakatkan pohon tersebut di Indonesia, karena dengan khasiat yang luar biasa tersebut, pohon ini berpotensi dapat menjadi pohon masa datang, untuk mengawal peradaban manusia (sustainable future).

"Banyak tantangan dalam menghadapi kekurangan pangan, air dan energi, terutama jika dikaitkan dengan isu pemanasan global, serta perubahan iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat," katanya.

Oleh karena itu, pemanfaatan pohon ini akan menjadi salah satu tumpuan bangsa dan negara untuk mempersiapkan nutrisi, kalsium serta bahan pangan sayuran dan pengembangan obat-obatan herbal dari kulit mapun buah Baobab.

Dikatakannya, pangan yang terjangkau merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, terlebih perguruan tinggi, yang mestinya menjadi di garda terdepan dalam upaya mengatasi persoalan negeri sekaligus tantangan peradaban dunia.

Untuk mengetahui lebih jauh khasiat pohon african baobab, UI akan melakukan penelitian terhadap pohon tersebut. "Nantinya herbal medicine (program studi S2 UI) akan melakukan penelitian," katanya.

Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Edi Budiono, menjelaskan ditemukannya khasiat nutrisi yang tinggi di pohon african baobab membuat dirinya termotivasi untuk menciptakan padi yang mempunyai varietas unggul dengan kandung nutrisi yang lengkap.

"Saya saat ini membayangkan bagaimana khasiat yang ada di pohon african baobab ada dalam tanaman padi," ujarnya.

Pohon African Baobab mempunyai khasiat yang tinggi, buahnya mempunyai kandungan vitamin C yang lebih tinggi dari jeruk dan kalsium yang lebih tinggi dari susu.

Edi mengatakan PT Sang Hyang Seri yang mempunyai luas lahan 3.500 hektare ini memasok kebutuhan pangan terutama bagi warga di Jawa Barat, dan mempunyai pabrik yang terbesar di Asia Tenggara.

Lebih lanjut ia mengatakan dengan menghibahkan pohon africa baobab kepada Universitas Indonesia (UI), maka akan terjalin kerja sama yang baik dengan universitas terkemuka di Indonesia tersebut.

"Maka ketika rektor meminta pohon tersebut untuk penelitian maka saya menyetujuinya. Tujuan pemindahan pohon tersebut untuk penelitian dan konservasi sehingga saya menyetujuinya," katanya.

Menurut dia, hibah pohon tersebut tidak ada nilai materinya, tetapi murni dari hati ke hati, untuk kemaslahatan umat manusia.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia, Lestiono. Ia mengatakan pohon yang diminta rektor UI tersebut tidak ada satu pun yang diperjualbelikan, seluruhnya adalah hibah.

"Saya sebelumnya tidak tahu kalau pohon tersebut memiliki manfaat yang bagi kesehatan. Mudah-mudahn pohon tersebut bisa berguna bagi dunia pendidikan," katanya.

Setelah dua tahun menulis surat ke Majalah Trubus, ternyata di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, terdapat puluhan pohon African Baobab yang diperkirakan ditanam Belanda lebih dari sekitar 160 tahun yang lalu. Bahkan ada dugaan pohon baobab yang lebih tua, usianya sekitar 700 tahun, ditanam oleh penduduk setempat.

Bibit tanaman tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah yang menyebarkan bibit pohon tersebut sejalan dengan penyebaran ajaran Islam di tanah air. "Salah satu lokasi penting tempat kita dapat menemukan pohon tersebut ialah Subang, Jawa Barat," ujarnya.

Kemudian, kata rektor, dia bersama tim mengunjungi lokasi perkebunan gula milik Pabrik Gula Rajawali II, setelah melakukan survei dan pendataan, kemudian mendiskusikan rencana relokasi pohon ke UI.

"Relokasi dimaksudkan agar nilai edukasi dari pohon tersebut dapat dioptimalkan di kampus UI," katanya.

Selain untuk konservasi, pohon-pohon tersebut juga akan dijadikan bahan penelitian di bidang ilmu kedokteran dan farmasi herbal, biologi dan pangan serta riset lain yang terkait.

1 komentar:

  1. luar biasa..... sayangnya terlalu kental politik kepentingan (rektorat UI) telah mengabaikan fakta sejarah dan mengabaikan prinsif konservasi.

    BalasHapus