Rabu, 07 November 2012

Kebajikan



Orang-orang yang telah sampai pada  posisi orang-orang yang diberi predikat BAIK oleh Allah (Al abrar ) adalah orang yang beriman kepada Allah, iman kepada hari akhir, serta takut terhadap siksa Allah di hari kiamat.

Al Abrar adalah orang yang memiliki pribadi untuk tidak mendewakan materi, dan tidak mudah tergoda terhadap banyak sedikitnya harta dunia. Ia adalah sosok yang lebih mengutamakan kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan oleh Tuhan daripada kesibukan dunia, tidak mengutamakan kepentingan pribadi yang bersifat duniawi, namun hanya mementingkan hal-hal yang berhubungan dengan Allah.

Manusia diciptakan memiliki tabiat untuk cinta mengumpulkan dan menyimpan harta, suka untuk menumpuk dan mengembangkannya, serta membelanjakannya untuk memenuhi kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Kita manusia sangat sulit untuk mengingkari kenyataan ini, karena pada hakikatnya memang manusia akan tetap cinta terhadap dunia, bahkan dalam salah satu ayat Allah menjelaskan:

”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”(Al Fajr:20).

Manusia memiliki sifat tersebut, mungkin dikarenakan harta memiliki beberapa nilai keistimewaan bagi kehidupan manusia. Dengan harta, manusia bisa menikmati hidup dengan penuh kemudahan, ia bisa meraih apa yang diinginkan, harta bisa mempermudah baginya untuk mendapatkan segala kenikmatan dunia, bisa membuat hidup bahagia, serta kemudahan dan kenikmatan lain yang bisa dirasakan. Dengan adanya keistimewaan ini, manusia akan sangat sulit untuk mengeluarkan hak orang lain untuk kepentingan umum dari harta yang dimiliki.

Sedangkan Al Qur’an menceritakan, derajat Al Abrar tidak akan pernah bisa dicapai tanpa adanya ketulusan dan kerelaan seorang muslim untuk membelanjakan hartanya di jalan kebaikan, ia mau untuk menyisihkan sebagian kekayaannya demi kemaslahatan kehidupan manusia. 

Derajat Al Abrar tidak bisa dicapai hanya dengan mengerjakan shalat saja, namun harus diikuti dengan social responsibility yang bertujuan untuk membangun solidaritas sosial dan stabilitas kehidupan ekonomi masyarakat


Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran:92).

Seorang muslim harus memiliki keyakinan bahwa harta yang dimiliki merupakan titipan Allah, dan ia merupakan wakil Allah untuk memberdayakannya. Untuk itu ia harus yakin bahwa ia tidak akan pernah menderita kemiskinan sepanjang ia mau untuk menjalankan aturan Allah, karena Allah-lah yang menentukan rizki-Nya bagi umat manusia. Dengan demikian, ia akan menunaikan panggilan Allah untuk bersedekah dan berinfaq demi kemaslahatan hidup manusia, sebelum datang hari hisab dimana sudah tidak terdapat lagi perdagangan dan harta sudah tidak berarti lagi.

Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh (mengerjakan kebajikan), bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. [QS. Al Hajj (22) : 50 ]

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki. (Q.S. al-Maidah [7]: 114)”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar