Selasa, 30 April 2013

Tiga Langkah Menjadi Orang yang Bertakwa



Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Pada Jumat tanggal 26 April 2013 Indonesia bahkan mungkin dunia dikejutkan dengan meninggalnya seorang ustaz yang sangat kharismatik, Ustaz Jefri Al-Buchori.

Bisa dipastikan begitu banyak orang yang merasa kehilangan sosok ulama “gaul” yang dekat dengan kalangan masyarakat manapun. Terlalu banyak kenangan manis nan indah tentang Ustaz Jefri  yang melekat dalam benak publik.

Tidak ada yag menyangka bahwa “Uje” yang kita cintai akan meninggalkan kita dengan begitu cepat. Kematian adalah rahasia Ilahi. Asro Kamal Rokan dalam artikelnya pernah menuliskan bahwa maut tidak datang mengetuk pintu. Ya, memang begitulah adanya. Maka alangkah meruginya kita jika tidak mengambil pelajaran berharga dari kematian.

Jelaslah bahwa kehidupan dunia ini tidaklah abadi. Kehidupan kita di dunia ini hanyalah sebuah mimpi. Lalu dimanakah kehidupan kita yang sesungguhnya? Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata “Annaasu niyaamun wa idzaa maatuu intabahuu”. Manusia ini semuanya tidur, dan ketika mati (maka) terbangunlah (manusia) dari tidurnya. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Yaitu ketika kita menutupkan mata meninggalkan dunia ini, maka terbukalah gerbang kehidupan yang sebenarnya.

Selama ini kita hanya memperjuangkan kenikmatan fana yang hanya ada di alam mimpi. Namun jarang sekali kita memikirkan bekal yang akan kita bawa untuk kehidupan hakiki. Kehidupan setelah mati.
               
Tidak ada satupun kebanggaan dunia yang akan kita bawa nanti. Bukan harta, tahta bukan pula sanjungan dan pujian orang. Hanyalah takwa sebaik-baik bekal menghadap Allah tuhan semesta alam. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqoroh : 197 “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Maka setiap manusia haruslah menyadari bahwa taqwa adalah kebutuhan wajib yang harus diraih. Bukan hanya bekal akhirat. Namun juga bekal dunia akhirat.
               
Takwa di dalam kamus Ilmu Alquran dapat diartikan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tingkah laku orang yang bertaqwa selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah murka.
Allah memberikan beberapa rambu-rambu untuk menjadi orang yang bertaqwa.

Pertama, bertanya kepada Orang yang mengetahui. Atau dalam hal ini adalah bertanya kepada alim ulama tentang bagaimana menjadi orang yang bertakwa (QS. An-Nahl : 43).

Kedua adalah selalu bersama-sama para shidiiqiin (orang yang benar) (QS. At-Taubah). Dalam bahasa Jawa yang terkenal “wong kang shaleh kumpulono”. Lalu siapakah orang-orang yang benar? Al-Qur’an menjelaskan pada QS.  Bahwasanya Shiddiiquun adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

Ketiga adalah selalu berkata dengan perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab : 70). Allah menjelaskan dalam QS. Fusshilat : 30 bahwa sebenar-benar perkataan adalah orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”

Demikianlah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang mengejutkan kita hari ini. Dan beliau guru kita, Ustaz Jefri Al-Buchori mendapatkan sebaik-baik tempat di sisi Allah. Aamiin.
 


Oleh Soraya Khoirunnisa

Catatan: Pesan Terakhir Uje Buat Putri Sulungnya


Berita meninggalnya Ustaz Jefri Al Buchori pada Jumat (26/4) dini hari WIB menggemparkan Indonesia. Hampir seluruh masyarakat Muslim Indonesia menyangsikan kabar kepergian ustaz yang kerap dipanggil Uje ini.
Bahkan kalangan keluarga dan kerabat terdekat almarhum Uje mengira berita ini tidak benar alias hoax. Hal ini pun di rasakan putri sulung almarhum Uje yang bernama Adiba Khanza Az-Zahra.

Saat Uje di kabarkan meninggal, Adiba langsung dijemput dari pondok. Menurut pengakuan Adiba kepada Republika, awalnya ia tidak percaya dengan kabar abinya meninggal.

Begitu jenazah abinya tiba di rumah duka, sontak isak tangis Adiba pun pecah melihat almarhum Uje telah menutup mata untuk selamanya. 

Ada beberapa firasat yang dialami Adiba menjelang kepergian abinya. Ia mengakui sempat mengalami peristiwa yang tak biasa dan dirasa sedikit aneh. 
Remaja yang masih duduk di bangku SMP ini bilang terakhir bertemu dengan abinya pada Ahad (21/4) lalu. Saat itu, almarhum Uje seperti berpamitan padanya. 
"Kan Abi (panggilan untuk ayahnya) lagi sakit. Pusing. Tiba-tiba aku disuruh ke toilet (karena) katanya ada temannya. Aku masuk ke dalam, tapi enggak ada apa-apa," ceritanya saat ditemui di TPU Karet Tengsin.

Ia pun menyampaikan pada sang abi, tidak menemui siapa pun, kecuali pantulan cahaya. Namun, almarhum Uje tetap memaksanya masuk ke toilet lagi.
"Abi bilang, 'Kenalin, itu Om yang suka jaga Abi'. Akhirnya aku kenalan saja, tapi nggak ada siapa-siapa," lanjut Adiba yang mulai tegar mengikhlaskan kepergian abinya.
Yang paling teringat oleh Adiba yakni pesan Abi nya. Almarhum Uje mewanti-wanti putri sulungnya inu agar jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu. "Kata abi, selalu ingatkan aku jangan lupa shalat supaya nanti masuk surga," katanya. 

 http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/26/mluvmk-pesan-terakhir-uje-buat-putri-sulungnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar