Jumat, 20 September 2013

Cara Meraih Haji Mabrur






__________________________________________________


Setiba di Masjidil Haram, hendaknya mendahulukan kaki kanan saat melangkah masuk sambil mengucapkan, 

“Bismillahi wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Allohummaftah li abwaba rahmatik. A’udzu billahi ‘azhim bi wajhihil karim wa sulthohnihil qadim minasy syaithonir rajim”

"Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah. Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia, kekuasaan-Nya Yang Qadim, dari setan yang terkutuk"

__________________________________________________________

Meraih haji mabrur merupakan cita-cita setiap jamaah haji. Namun hal itu tidak mudah. Ibadah haji memerlukan totalitas keikhlasan dan kekhuyu'an, baik lahir maupun batin.
Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk meraih haji mabrur. 

Pertama, membawa bekal yang terbaik. Dan sebaik-baik bekal untuk menunaikan ibadah haji adalah takwa.

Takwa -- melaksanakan segala yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya -- adalah pokok dari segala pelaksanaan ibadah haji. Tanpa takwa, tak akan mendapatkan haji mabrur. Seluruh pelaksanaan ibada haji wajib disertai takwa kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, sebelum menunaikan ibadah haji dan selama menunaikannya, hendaknya bertobat kepada Allah dengan taubatan nasuha (tobat yang sebenar-benarnya). Tobat itu meliputi hati, lidah, serta perbuatan.

Ketiga, sebelum menunaikan ibadah haji, hendaknya ia membereskan masalah utang-piutang. Karena orang yang dalam perjalanan ibadah haji bagaikan orang yang masuk ke liang kubur, hendaknya ia membereskan masalah-masalah yang bersangkutan dengan manusia. Misalnya masalah utang-piutang, juga memohon maaf jika mempunyai kesalahan kepada orang lain.

Keempat, biaya haji yang halal. Harta halal itu adalah harta yang bukan dari pencurian, korupsi, penipuan, riba, menjual barang yang haram (babi, darah, binatang disembelih bukan atas nama Allah SWT).

Harta yang halal ialah harta yang didapat dari mata pencaharian yang halal, upah/gaji, honoraium, hasil perdagangan yang halal, pemberian, hibah, wasiat, sedekah, infak, dan lain-lain harta yang tidak dilarang dalam Islam. Imam Ahmad menegaskan bahwa tidak sah haji dari harta yang haram. ''Sesungguhnya Alah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik.''

Harta yang halal itu tidak hanya untuk yang pergi menunaikan ibadah haji, melainkan juga bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kelima, tidak kalah pentingnya adalah bekal sikap mental menghadapi segala kemungkinan selama berada di Tanah Suci. Salah satunya adalah sabar. Sifat yang satu ini memegang peranan sangat penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Seluruh aspek ibadah haji memerlukan unsur sabar. Sifat sabar itu terutama diperlukan pada saat thawaf, mencium hajar aswad, melontar jumrah, dan berusaha shalat/zikir dekat Ka'bah.

Jamaah haji harus selalu menjaga kesehatan, cukup makan yang bergizi, jangan begadang, memperbanyak shalat dan dzikir di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk mendekatkan diri kepada Allah.


***********************************************************

 Jamaah Haji agar kita tidak tersesat:


Persoalan jamaah yang tersesat termasuk kasus umum dalam ibadah haji. Hal ini bisa terjadi mengingat lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan di tanah air atau ditempat kita tinggal. Jumlah dan latar belakang serta keragaman orang yang ada disana, membuat kita tidak mudah berkomunikasi.

Tersesat di Masjidil Haram seperti aneh tapi bisa wajar juga. Masjidnya besar dengan sudut yang mungkin belum kita kenal. Di tengah ada Baitullah dimana orang berputar thawaf. Arah mata angin tidak mudah dihafal. Mana utara mana selatan, barat atau timur. Untuk pertama datang tak mudah untuk diketahui. Belum lagi soal “teknis” seperti itu tak masuk dalam manasik. 

Orang begitu banyak didalam, pintu keluar dan masuk jumlahnya banyak dan relatif sama bentuknya.  Ketika kita “tersesat” dalam Masjid tentu jangan panik, yang perlu diketahui adalah saat masuk pertama adalah pintu apa dan bila perlu nomor berapa. Itulah yang selalu dasar pertanyaan kepada siapapun yang akan kita tanyakan. 

Yang paling sering adalah tersesat ketika akan kembali dari Masjid ke penginapan/pondokan. Ini disebabkan saat masuk dan saat keluar Masjid dari pintu yang berbeda. Lalu kita berjalan terus ke jalan yang terasa semakin asing. Setiap mencari jalan selalu tak ditemukan. Akhirnya bingung dan panik. Mau bertanya tak bisa berbahasa Arab. Lebih repot lagi daerah pemondokan pun kita tak tahu namanya.

Cara menghindari agar kita tidak tersesat:

Pertama, mengetahui nama daerah di mana kita menginap, bila perlu ciri-ciri spesifiknya. Bila kita tak tahu tanyakan kepada pembimbing atau petugas kloter. Mengenal area kita tinggal adalah modal utama.

Kedua, ketika berjalan menuju Masjidil Haram jangan segan-segan untuk sering-sering menoleh ke belakang melihat jalan atau bangunan-bangunan yang telah dilalui, itulah jalan menuju ke pemondokan kita nantinya.

Ketiga,  menghafal pintu saat kita masuk ke Masjidil Haram, misalnya dari pintu Malik Abdul Azis atau pintu Malik Fahd. Nantinya dari manapun kita keluar, misalnya dari Marwah, maka carilah pintu masuk kita tadi itu. Lalu pulang seperti kita datang.

Keempat, usahakan selalu berada dalam kelompok atau jamaah, tidak over confidence bisa melakukan ibadah sendirian. Ada teman berdiskusi mengenai banyak hal termasuk arah kepulangan.

Kelima, prepare dengan segala identitas yang diberikan, baik gelang jamaah, gelang dari Maktab, kartu pondokan/hotel  atau identitas KBIH. Sewaktu waktu dapat ditunjukkan ketika diperlukan.

Keenam, berdo’a antara lain ”Allahumma a’uudzubika an adlilla aw udlilla aw azilla aw uzalla aw adzlima aw udzlama aw ajhala aw yujhala alayya” (Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, dan dari tergelincir atau digelincirkan atau dari menganiaya atau dianiaya, dari bodoh atau dibodohi)---HR Abu Daud. 

Dalam hal jamaah tersesat, maka usahakan jangan panik yang menimbulkan depresi. Lebih baik kembali ke Masjidil Haram hingga ada yang menemukan disana nantinya. Atau mencari Kantor Sektor terdekat.

Di Kantor Sektor manapun kita berada,  akan diantar oleh petugas ke pemondokan kita kembali





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar