Rabu, 11 September 2013

Mengisi Hidup Penuh Ibadah



Orang beriman selalu berusaha agar amal ibadahnya dapat diterima oleh Allah SWT. Untuk memperoleh kualitas amal ibadahnya yang terbaik, ia akan memilih strategi “amalan” yang paling efektif dan dengan nilai yang paling signifikan. Untuk itu ia akan memilih waktu dan tempat yang utama. Waktu utama yang tersisip berada pada skala harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

Waktu utama di setiap hari misalnya di sepertiga malam terakhir, dan untuk memanfaatkannya ia “memaksakan” diri untuk bangun dan menunaikan sholat. 

Waktu utama di setiap minggu misalnya hari Jumat (sayyidul ayyam) sebagaimana Allah katakan:  
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Waktu utama di setiap bulan adalah tanggal pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan komariah (hijriyah) yang dikenal dengan Ayyamul Bidh yaitu dengan melakukan puasa sunah. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: 
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178).

 Selanjutnya waktu utama di setiap tahunnya yaitu bulan ramadlon. Adapun tempat yang utama antara lain di shaf terdepan pada sholat berjamaah (bagi laki-laki), di mesjid-mesjid, di masjidil haram, dan lain-lain.

Orang yang beriman dan percaya dengan sepenuh hati, sangat berharap untuk memperoleh waktu dan tempat yang utama tersebut. Selain waktu dan tempat utama, orang yang beriman akan berusaha untuk “menangkap” segala peluang kegiatan ibadah (mahdhoh) yang memiliki keuntungan terbesar. Untuk sholat fardlu ia akan mencari komunitas sholat berjamaah. Di tengah kehidupan yang serba sibuk, sholat berjamaah perlu perjuangan untuk “menangkap”nya. Selanjutnya, jika pernikahan dapat melipatkan nilai ibadah-ibadah lainnya secara berlipat ganda, maka ia berusaha untuk berumah tangga. Intinya setiap peluang waktu, tempat, dan kegiatan akan dipilihnya unuk ibadah agar memperoleh keutamaan ibadah.

Untuk lebih mengoptimalkan, orang beriman juga sangat menghayati kehidupan yang dijalaninya, baik dengan ekspresi rasa syukur maupun dengan kesabaran (jika menghadapi ujian). Untuk menikmati rasa syukur, (barangkali) setiap orang akan mampu menjalaninya. Ciri orang yang sedang bersyukur akan terlihat senyuman yang lebar di wajahnya, bermuka ceria, rendah hati, dan suka berbagi rizki kepada sesama. Sebaliknya, untuk “menjalani” hidup yang sulit (barangkali) perlu dengan penuh kesabaran. Salah satu cara “memanfaatkan” kesabaran agar berbuah menjadi pahala adalah dengan tidak putus-putusnya berdoa dan memuji Tuhannya dengan penuh harap dan tetap berusaha menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Strategi lainnya yang sangat ampuh agar kita dapat hidup efektif adalah dengan cara mengingat Allah (bertafakur), memuji dan mengagungkan-Nya. Tafakur merupaan ibadah yang tidak terikat oleh waktu dan tempat. Walaupun demikian, ia tetap memiliki nilai yang juga utama. Secara umum, ajakan untuk bertafakur barangkali sering kita dengar. Namun objek yang perlu ditafakuri terkadang belum banyak difahami secara ilmiah oleh banyak kaum muslimin. Penghayatan terhadap sistem alam yang ditafakuri kurang mendalam karena kaum muslimin memiliki keterbatasan akan wawasan ilmu tentang alam dan sosial.

Tulisan ini ingin mengajak untuk melakukan tafakur dengan cara banyak membaca dan mengetahui cara kerja dari sistem alam. Dengan bertafakur, kita akan memperoleh dua hal keuntungan yaitu pertama akan mendapat pahala ibadah dan kedua akan memperoleh wawasan ilmu pengetahuan yang sangat berarti untuk menjalani kehidupan di dunia. Jika selama ini kita mencari ilmu hanya untuk pengembangan ilmu itu sendiri, lalu “sisanya” untuk kegiatan tafakur, maka di masa mendatang, marilah kita belajar dengan niatan untuk melakukan tafakur. Hasil temuan dari kegiatan tafakur, kita manfaatkan untuk bekal kehidupan di dunia.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Al Imran, 190-191).

Makna tafakur yang selama ini kita fahami keliatannya memang mengalami reduksi, yaitu sering kita maknai sebagai wilayah filsafat sebagai hasil proses perenungan nalar tanpa pembuktian ilmiah. Di hari yang akan datang, marilah kita maknai “tafakur” sebagi arti yang lebih luas yaitu mencari dan menemukan (discovery) rahasia alam ciptaan Allah melalui kegiatan ilmiah dan penelitian yang bersifat rasional. Dengan cara itu, setiap muslim, akan memperoleh amalan dunia dan juga akhirat.

Akhirnya, jika kita mampu memilih waktu dan tempat yang utama (Untuk beribadah) lalu mengisi setiap saat dengan cara “bertafakur” maka kita akan memperoleh nilai ibadah setiap detik tanpa henti. Hidup kita akan penuh makna ibadah.

Namun demikain, ada satu hal yang biasanya menjadi penghambat (godaan) sehingga membuat hidup kita menjadi tidak bernilai ibadah, yaitu lupa akan niat melakukan ibadah. Jika terjadi hal demikian, maka setiap hadir kesadaran, segeralah kembali untuk memuji Allah, mengingat-Nya, lalu bertafakur kembali (merenungkan, membaca, meneliti, dan kegiatan tafakur lainnya).

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar ibn Khottob r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Hanyalah amalan perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan hanyalah setiap orang itu tergantung pada apa yang diniatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang dia harapkan dan karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya menuju apa yang ia inginkan (H.R. Bukhori Muslim)

Sebagai suatu simpulan, untuk memperoleh hidup penuh ibadah, ada tiga langkah yaitu pertama, tetap mencari ilmu agama agar kita dapat melaksanakan ibadah dengan penuh kemantapan dan mampu memilih waktu serta tempat yang utama untuk beribadah. Kedua, tetaplah belajar untuk menggali pengetahuan ilmiah (dunia) agar kita dapat bertafakur secara tepat (tidak menduga-duga). Ketiga, berusaha sekuat tenaga agar kita selalu memiliki kesadaran diri sehingga langkah kita penuh bernilai ibadah. Aamiin, semoga kita dapat melaksanakan kebaikan ini.


Oleh, Dr. Ahmad Yani, M.Si.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar