Minggu, 15 September 2013

Orang Kerdil dan Kelelawar





Dalam buku atau film ”The Lord Of The Rings” yang  cukup fenomenal ada fragmen penyelamatan dunia oleh orang kerdil dari kaum hobbit yang bernama Frodo. Meski diganggu dengan berbagai intrik “seetan” Smeagol saat naik ke pegunungan Mount Doom akhirnya orang kerdil  Frodo yang ditemani Sam ini mampu menjadi pahlawan untuk menghancurkan “Dajjal” bermata satu Sauron dari kerajaan kegelapan Mordor. Cincin (the ring) pun jatuh ke kawah. 

Begitu juga dalam buku “The Hobbit”, Bilbo seorang hobbit kerdil  keturunan keluarga Took yang berjiwa petualang melintasi Bumi Tengah. Kemudian menjadi dewa penyelamat atas kejahatan Smaug sang naga, pencuri harta milik kurcaci. Lalu melawan Troll, Goblin, serigala buas Warg serta makhluk jahat lainnya.
 
Cerita kepahlawanan orang kerdil di atas tentu menarik untuk dibaca dan ditonton. Akan tetapi dalam kenyataan kehidupan kita banyak ceritra “orang kerdil” yang tak enak untuk ditonton atau dibaca.


Rasulullah SAW  bersabda “Dan orang yang kerdil  yaitu orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia menginginkan berbagai harapan kepada Allah SWT” (HR Turmudzi).
Orang yang mengikuti hawa nafsu, adalah orang yang lemah pengendalian diri. Berbuat semaunya tak peduli akan risiko dari perbuatan itu. Cuma anehnya meski demikian, ia masih sangat berharap pada kemurahan Allah SWT. Suatu sikap tak tahu diri.

Namun, jika  orang bersalah menyesali perbuatannya kemudian berharap akan rahmat Alllah, maka itu  adalah hal yang baik. Akan tetapi orang bersalah dan berkutat dengan dosa-dosanya tanpa ada penyesalan sedikitpun lalu berharap mendapat rahmat Allah adalah memilukan dan memalukan.

Di sisi lain, orang kerdil adalah orang yang pengecut. Selalu cari selamat sendiri. Bila perlu dengan mengorbankan orang lain. Islam sangat mengecam watak seperti ini. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu berdoa terhindar dari sifat pengecut (al  jubn) “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah (al ajz)  dan malas  (al kasal), pengecut (al jubn) dan bakhil (al bukhl)”  (HR Muslim dan Nasa’i).

Sifat pengecut dan cari selamat sering berwatakkan cari muka, plin plan, ikut arah dan situasi yang dinilai menguntungkan dirinya.

Dalam kisah ada pelajaran. Diceritrakan seekor kelelawar yang mengintip pertarungan burung melawan binatang buas. Semula ia yang sama sama terbang cenderung berada di pihak burung. Namun ketika yang mendapat kemenangan adalah  binatang buas, maka ia menyelinap bergabung dengan hewan buas yang pulang dengan kemenangan.

Kecurigaan salah satu hewan bahwa kelelawar itu tadi ada di kelompok burung dijawabnya “Saya ada di pihak anda, bukankah saya memiliki taring dan cakar serta moncong yang sama dengan kalian?”

Di waktu yang lain dalam pertarungan ulang, ternyata burung mendapat kemenangan. Kelelawar sekarang menyelinap di kelompok burung, seolah-olah ia adalah bagian dari perjuangan kemenangan itu. Burung curiga dan mendakwa bahwa kelelawar tadi ada di pihak binatang buas.

Namun dakwaan itu dibantahnya dengan mengatakan “Saya ada di pihak kalian, bukankah saya sama memiliki dua kaki yang berbeda dengan binatang buas berkaki empat dan saya juga sama dengan kalian bersayap dan dapat terbang?” Sergahnya.

Ketika suatu saat kelompok burung dan binatang buas berdamai, mereka memusyawarahkan posisi kelelawar. Atas dasar sifatnya, mereka lalu sepakat untuk menghukum dengan mengucilkannya. Itulah yang kemudian konon kelelawar hidup soliter dan hanya keluar malam hari.

Manusia yang berhati kerdil menghiasi kehidupan politik, sosial, bisnis, atau lainnya. Mereka tak memiliki pendirian yang ajeg. Berani menghianati teman untuk cari selamat sendiri.  Orang demikian nyatanya berakhir tidak selamat juga.

Orang kerdil Hobbit hanya kecil secara fisik, namun memiliki jiwa dan langkah yang besar. Sebaliknya manusia yang berbadan besar, memiliki jiwa yang kerdil. Seperti seekor kelelawar. 

Allah SWT mengingatkan bahwa buta itu bukan tidak bisa melihat, tapi hati yang tertutup. Tuli bukan tak bisa mendengar, tapi mereka yang tak mau mendengarkan hal-hal yang baik.      




Oleh HM Rizal Fadillah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar