Minggu, 16 Februari 2014

Buya Hamka, Ulama Cerdas Kebanggaan Umat

Buya Hamka



 

Buya Hamka tidak pernah merendahkan atau menyepelekan orang lain.

Namanya adalah Haji Abdul Malik Karim Abdullah. Saat menulis buku dan artikel, ia menggunakan nama HAMKA yang merupakan singkatan dari nama lengkapnya. Publik kemudian mengenalnya dengan nama Buya Hamka.

Ia lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 17 Februari 1908. Sudah 106 tahun yang lalu ulama besar ini lahir dan meninggalkan kita pada 24 Juli 1981. Meskipun Buya Hamka telah tiada, ceramah dan pemikiran, juga karya-karyanya masih bisa dijadikan pegangan oleh umat Islam.

Banyak tokoh Islam yang terinspirasi dan kagum pada sosoknya. Salah satunya adalah mantan wakil presiden Jusuf Kalla.

Bagi pria asal Makassar ini, Buya Hamka adalah salah satu contoh ulama yang sangat cerdas dan patut ditiru caranya dalam berceramah. “Setiap ceramah, isinya selalu berbeda, ia selalu punya bahan yang kaya untuk diceritakan kepada umat,” ujarnya.

Ceramah dan pidatonya juga selalu menjadi inspirasi, menurut tokoh Muslim perempuan, Tuty Alawiyah. “Buya Hamka seperti guru bagi saya,” ujarnya. Setiap ceramahnya  membuat umat tergugah dan membentuk pribadi Muslim menjadi lebih baik.

Ia ingat, saat dulu setelah mendengar ceramah Buya Hamka, ia kemudian merasa lebih kuat, seperti ada yang mendorongnya untuk selalu bisa menjadi pribadi yang penuh dengan kemenangan.

“Secara tidak langsung, ia menguatkan saya. Bahwa saya mampu untuk memimpin masyarakat, pribadi, dan keluarga,” katanya.

Menurutnya, Buya Hamka adalah pribadi yang sangat cerdas. Masih terkenang dalam ingatannya, waktu itu ayahnya mengundang Buya Hamka dalam acara peresmian masjidnya.

Saat itu, Buya Hamka diundang sebagai tamu, namun tiba-tiba ayahnya meminta untuk berceramah. “Dalam waktu singkat, Buya Hamka bisa meramu ceramahnya, menghubung-hubungkan dengan apa yang dilihatnya saat itu, menjadi sebuah ceramah yang membuat orang terkagum-kagum,” katanya.

Ia juga kagum dengan sosok Buya Hamka yang tidak pernah merendahkan atau menyepelekan orang lain. Saat ia masih muda dulu, Tutty pernah menyurati Buya Hamka, menyatakan ketidaksetujuannya karena menyebut Allah dengan kata seorang pada novelnya, Di Bawah Lindungan Ka'bah.

“Buya Hamka tidak marah atau menghina atas sikap kritis seseorang yang masih muda. Ia kemudian memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan gamblang dalam surat sebanyak tiga lembar, mengatakan bahwa keputusannya menggunakan kata seorang tersebut ada maksudnya,” ujar ketua BKMT ini.

Semua kalangan mengakui Buya Hamka adalah seorang ulama yang sangat cerdas. Kita pun bisa menilainya dari karya-karya yang ditulisnya, dari novel-novel sastra klasik hingga buku agama, seperti Tasawuf Modern dan Tafsir Al Azhar.

Rekaman ceramahnya yang dulu diberikan melalui RRI dan TVRI pun masih bisa kita temukan dan dari caranya berceramah, kita akan terkagum-kagum dibuatnya.

Rasa penasaran pun muncul, dari mana semua kecerdasan dan otak cemerlang itu berasal? Putra kelima Buya Hamka, yaitu Irfan Hamka, memberikan jawaban. “Otaknya yang cerdas tersebut lahir dari penderitaan yang pernah dialaminya,” katanya pada Republika, pekan lalu.

Hamka adalah putra dari seorang ulama yang disegani di Sumatra Barat, Abdul Karim namanya. Karena ingin menjadikan Malik, panggilan kecil Buya Hamka, sebagai ulama, ia kemudian memasukkannya ke sekolah formal pada masanya, yaitu sekolah desa dan sekolah pendidikan agama sekaligus, yaitu diniyah.

Irfan bercerita, saat itu Hamka kecil banyak dicemooh oleh anak-anak seusianya karena bersekolah di sekolah desa, yang merupakan sekolah dengan derajat yang lebih rendah. Meski baru berusia 10 tahun, perlakuan seperti ini membentuk pribadi Hamka menjadi orang yang sabar dan kuat.

Ujian pun datang. Saat berusia 12 tahun, orang tuanya bercerai. Ibu dan ayahnya kemudian masing-masing menikah lagi.

Perceraian orang tuanya ini membuat Hamka yang masih sangat muda kehilangan pegangan dan pendidikannya terbengkalai. Namun, dalam diri Hamka, ia bertekad untuk menjadi manusia yang berguna. Dalam kegundahannya ini, kemudian ia lari pada buku-buku.

Ia banyak membaca di sebuah taman bacaan di Padang Panjang. Semua jenis buku dilahapnya, termasuk buku-buku karangan cendekiawan Indonesia, yaitu KH Mas Mansyur, HOS Tjokroaminoto, Bagus Hadikusumo, dan lain sebagainya.

“Melihat tulisan mereka ini membuat Hamka yang masih sangat muda membulatkan tekad untuk pergi ke Jawa, ingin belajar pada orang-orang pintar ini,” jelasnya.

Tanpa sepengetahuan ayahnya, Hamka nekad ingin berkelana pergi ke Jawa sendirian. Namun, malang, baru sampai di Bengkulu, ia terkena penyakit cacar. Tiga bulan lamanya ia sakit, demam, dan berada dalam keadaan kritis.

Setelah sembuh, ia diantar kembali ke Padang Panjang oleh kerabatnya. Meski telah sembuh, penyakit cacar ini meninggalkan bekas luka dan bopeng yang membuat wajah Hamka tak lagi rupawan.

Hamka menciptakan dunia sendiri dan terbuka wawasannya pada banyak hal melalui jendela dunia bernama buku ini. Ia juga suka membawa buku tulis ke mana-mana, berisikan ide-ide dan apa saja yang harus diingatnya.

“Sekolahnya tak pernah tamat, namun ia banyak menghabiskan waktu dengan belajar sendiri, secara autodidak dengan banyak membaca. Jika ulama-ulama lain belajar dari nol hingga tamat, Hamka justru mencari sendiri ilmunya,” katanya.

Semangat untuk terus belajar dan pantang menyerah terpancar dalam diri Buya Hamka. Dalam usia yang masih sangat muda, meski pernah gagal karena terkena penyakit cacar, keinginannya untuk pergi ke Jawa masih membuncah dalam dirinya.

Dalam buku karangan putra Buya Hamka, Irfan Hamka, yang berjudul Ayah, diceritakanlah bagaimana perjuangan ulama besar ini untuk selalu mandiri mencari ilmu dan tak pernah berhenti belajar.

Setelah mendapat restu dari ayahnya, Buya Hamka akhirnya bisa berhasil merantau dan tiba di Yogyakarta. Sesuai dengan cita-citanya, di sana ia bisa belajar dari tokoh-tokoh besar Sarekat Islam. Ia juga memperdalam ilmu agama, logika, dan cara berorganisasi.

Sepulangnya dari tanah Jawa, Hamka sangat percaya diri dengan kemampuannya dalam berpidato. Namun, ia menemui satu ujian lagi. Saat itu, di Padang Panjang akan didirikan sekolah Muhammadiyah. Orang pun berbondong-bondong untuk melamar menjadi guru di sana, termasuk Hamka.

“Namun, ia tidak diterima, dengan alasan karena tak punya ijazah diploma, ini sangat memukul batinnya, apalagi ayahnya sendiri juga ikut mendirikan sekolah tersebut,” jelasnya.

Tak larut dalam kesedihan, Hamka justru membuat peristiwa ini melecut semangatnya untuk terus menimba ilmu. Makkah adalah kemudian yang menjadi tujuannya.

Dengan uang seadanya, ia nekad berangkat ke Tanah Suci untuk belajar. Di sana, ia kembali dipertemukan dengan dunia buku.

Di samping ia belajar pada guru-guru agama, ia juga bekerja di sebuah percetakan. Ini membuat kesempatannya untuk membaca buku-buku semakin mudah.


 Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


___________________________________

Catatan :




Buya Hamka ditempa dengan berbagai cobaan dan penderitaan, yang kemudian membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan sabar. Banyak pula filosofi yang menjadi prinsip dan pegangan hidupnya.

Paling utama, ia tidak akan pernah mau berkompromi dalam masalah akidah. Masalah agama, kewajiban untuk selalu shalat dan ingat pada Allah, tidak boleh dilupakan dalam keadaan apa pun.

Berbagai cobaan dan selalu dicemooh karena kekurangannya, salah satunya karena tak punya ijazah diploma, membakar semangatnya untuk mengejar ketertinggalannya dengan cara belajar sendiri.

Dalam buku Ayah yang ditulis oleh Irfan Hamka, dituliskan apa saja yang menjadi prinsip hidup ayahnya. Buya Hamka menghayati sebuah pantun yang digubah oleh Datuk Panduko Alam yang tertulis dalam buku Rancak di Labuh. Pantunnya seperti ini:

Putuslah tali layang
Robek kertasnya dekat bingkai
Hidup nan jangan mengepalang
Tidak punya berani pakai

Irfan menjelaskan, pegangan hidup utama Buya Hamka ada tiga hal. Niat karena Allah, nasi sabungkuih, dan tinju gadang ciek. Maksudnya pertama adalah niat melakukan segala hal adalah karena Allah.

Niat ini harus selalu diyakini dan tidak boleh terombang ambing karena niat yang lain. “Yang kedua, kegiatan apa pun yang akan dilakukan jangan pernah melupakan kesiapan logistik, sekecil apa pun, meski hanya sebungkus nasi,” katanya.

Ketiga, ibarat sebuah tinju yang besar, sebagai manusia kita jangan pernah merasa takut, gentar, dan mudah menyerah. Setiap bertindak harus tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan serta selalu berpikir jernih.

Sebagai ulama, Buya Hamka selalu mengingatkan bahwa kita telah menjual diri kita kepada Allah semata. Ulama yang telah menjual diri kepada Allah tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun.

Irfan Hamka mengatakan, melihat kondisi bangsa yang karut marut ini, prinsip-prinsip hidup Buya Hamka ini masih relevan untuk dijadikan pedoman.

“Semua orang harus meluruskan niat, menjalankan kehidupan semata karena Allah,” katanya. Tak terkecuali bagi para pejabat dan pemimpin agar tidak menyimpang ketika kekuasaan telah diamanahkan oleh rakyat.

Indonesia sangat merindukan hadirnya tokoh dan ulama seperti Buya Hamka yang mau berjuang tulus demi keadilan dan kesejahteraan umat.

Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar