Selasa, 11 Februari 2014

Menghukum Diri Sendiri



Bila perilaku Umar bin Khattab tampak keras dalam menyikapi orang lain, maka terhadap dirinya sendiri, ia justru lebih keras lagi. Posisinya sebagai Amirul Mukminin tidak menjadikan dirinya enggan diberi nasihat. Ia sering menangis karena takut kalau berbuat satu kesalahan atau menyimpang dari kebenaran.

Suatu hari saat berjalan di pasar Madinah, ia melihat Iyas bin Salamah menghalangi sebuah lorong sempit. Maka, Umar memukulnya dengan tongkat sambil berkata, "Menyingkirlah, hai putra Salamah!" 

Setahun kemudian, ia bersua kembali dengan Iyas di pasar. Ia bertanya, "Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?" Iyas menjawab, "Benar, wahai Amirul Mukminin." Maka, Umar mengajak Iyas ke rumahnya, lalu memberinya uang 600 dirham. "Hai Ibnu Salamah, terimalah uang ini untukmu. 
 Ketahuilah, ini untuk menebus pukulanku padamu tahun lalu itu!" ucapnya. "Wahai Amirul Mukminin, aku telah lupa peristiwa itu!" sahut Iyas. "Kalau aku, demi Allah, masih ingat!" tutur Umar.
 
Orang saleh zaman dulu sering menilai sebuah masalah sebagai persoalan krusial dan perkara besar. Karena itu, mereka lalu menghardik dan menghukum diri sendiri, seraya mencampakkan kekhilafan, kesalahan, dan dosa yang sudah diperbuat. 

Bagi mereka, jika meremehkan dan menganggap hanya angin lalu atas dosa yang dilakukan, maka hal ini bisa berubah menjadi monster yang memangsa dirinya. Ia akan terperangkap dan sulit keluar dari perbuatan tersebut, bahkan bisa membuat dirinya ketagihan atas dosa-dosa itu. Itulah sebabnya banyak orang berkubang dalam dosa, baik personal maupun sosial, karena ketika awal berbuat ia sama sekali tak risau pada perbuatan dosa tersebut, bahkan mungkin 'menikmatinya'. Untuk itu, orang-orang saleh akan menghardik dan menghukum diri sendiri atas perbuatan dosa tersebut.

Suatu malam, Tamim ad-Dari ra tertidur sampai pagi hari, sehingga ia tak sempat shalat tahajud. Maka, selama satu tahun penuh ia tak pernah tidur malam, sebagai hukuman atas keteledorannya. Umar bin Khattab ra juga suatu hari pergi ke kebun miliknya. Begitu ia kembali, ternyata orang-orang sudah selesai shalat Ashar. "Aku tadi pergi ke kebunku, dan ketika kembali orang-orang sudah shalat Ashar (berjamaah). Maka, kebunku itu akan kusedekahkan untuk orang-orang miskin."

Nun jauh sebelumnya, ada Nabi Sulaiman, seorang nabi yang kaya raya. Sebagian kekayaannya adalah kuda-kuda yang sangat menambatkan hatinya (Shaad: 30-33). Selain amat perkasa dan cepat larinya, kuda-kuda itu juga mempunyai sayap.

Ketika Nabi Sulaiman tengah memberinya makan dan mengurusnya, maka luput darinya shalat Ashar karena lupa dan bukan karena sengaja. Maka, tatkala ia tahu kalau waktu shalat telah berlalu darinya lantaran kuda-kuda itu, ia pun berucap, "Tidak! Wallahi! Kuda-kuda ini tak boleh menyibukkan aku dari beribadah kepada Rabb-ku." Kemudian, ia memerintahkan agar kuda-kuda itu dipotong. Lalu ia hantam lehernya dan urat besarnya di atas tumitnya dengan pedang.

Tatkala Allah tahu perihal sikap yang sudah diambil hamba-Nya ini, Dia pun memberikan anugerah pengganti yang jauh lebih hebat, yaitu angin yang berhembus sesuai dengan yang diinginkannya." (QS Saba: 12). Wallahu A'lam bish-shawab. 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar