Senin, 24 Februari 2014

Pesawat Made in Bandung yang Sudah Mendunia


http://images.detik.com/content/2014/02/25/1036/kondisiperakitanpesawat.jpg




Indonesia memiliki industri pesawat terbang yang terletak di Bandung, Jawa Barat. Industri pesawat ini bernama PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI.

Didirikan pada tahun 1976, PTDI pernah mempekerjakan hingga 16.000 tenaga ahli bidang penerbangan hingga teknisi biasa. Di dalam perjalanan perusahaan, BUMN pesawat ini mampu menghasilkan produk pesawat dan komponen yang dipakai dan diakui dunia.

Seperti pesawat CN235. Pesawat bermesin turboprop rancangan PTDI dan Airbus Military ini, telah dipakai di berbagai negara. Atau komponen penting pada pesawat jet komersial super jumbo Airbus 380. Mau tahu, produk PTDI yang mendunia itu? Berikut hasil penelusuran detikFinance, Jumar (21/2/2014).



http://images.detik.com/content/2014/02/25/1036/083930_cn235merpati.jpg

Sampai saat ini, berbagai pesawat hingga helikopter laris manis terjual. Salah satunya pesawat penumpang dan militer CN235. Pesawat ini awalnya dikembangkan mulai 1979.

Saat itu, BJ Habibie selaku pimpinan PTDI menggandeng Cassa (sekarang Airbus Military) untuk merancang dan memproduksi pesawat bermesin turboprop dan mampu membawa 35 orang.

Hingga akhirnya, pesawat ini berhasil diperkenalkan kepada publik (roll out) untuk pertama kalinya pada September 1983.

Sejak itu, PTDI dan Cassa melakukan penjualan CN235, di dalam dan luar negeri. Untuk pasar luar negeri, negara-negara yang telah menggunakan pesawat ini, seperti Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Pakistan, hingga Korea Selatan.

Bahkan PTDI saat ini sedang menjajaki kerjasama peningkatan kapasitas CN235 milik Korea Selatan dan Malaysia.

Saat ini, kebutuhan CN235 telah bergeser ke arah pesawat pengawas pantai. Pesawat CN235 varian Maritime Patrol (MPA) dibutuhkan karena mampu membawa peralatan untuk pengawasan dan pengamanan maritim.

Pesawat tipe CN235 MPA ini telah digunakan oleh TNI AL dan pasukan penjaga pantai Korea Selatan untuk mengawasi perairan.

Sejak dikembangkan mulai 1979, pesawat CN 235 telah terjual hingga 311 unit di seluruh dunia. Untuk bagian PTDI, mampu menjual 60 unit di dalam dan luar negeri. Sedangkan Cassa telah menjual 251 unit.

Pengembangan dari pesawat CN235 tidak berhenti di situ saja. PTDI dan Cassa merancang CN235 next generation (nextG).


 http://images.detik.com/content/2014/02/25/1036/084000_nc212.jpg


PTDI juga merancang pesawat baling-baling berkapasitas kecil. Seperti NC212. Pesawat ini diproduksi untuk seri NC212-200 dan NC212-400. Namun untuk seri NC212-200 telah dihentikan proses produksinya.

Pesawat multi fungsi ini, mampu membawa hingga 20 orang dengan beban maksimal 2.000 kg. Pesawat ini merupakan rancangan bersama antara PTDI dan Airbus Military. Saat ini, PTDI mengembangkan NC212 seri terbaru yaitu NC212i.

Pesawat seri terbaru ini, telah dipesan sebanyak 2 unit oleh Angkutan Udara Filipina dan 1 unit untuk Kementerian Pertanian Thailand. Sejak pertama kali dikembangkan, PTDI telah menjual hingga 102 unit pesawat NC212.



http://images.detik.com/content/2014/02/25/1036/084033_n250gatotkocopart2.jpg

N250 merupakan pesawat rancangan asli putra-putri Indonesia. Pesawat penumpang bermesin turboprop ini, awalnya dirancang untuk menerbangi seluruh negara kepulaun. PTDI pada tahun 1995 berhasil meluncurkan dan menerbangkan 2 unit prototype N250 yaitu N250 PA1 dan N250 PA2.

Saat menuju pengembangan pesawat ke-3 dan menunggu sertifikasi, pesawat ini dihentikan pengembangannya karena krisis ekonomi dan atas rekomendasi International Monatary Fund (IMF) pada tahun 1998.

Namun saat proses pengembangan dan sebelum proyek N250 dihentikan, pesawat ini pernah diterbangkan langsung dari Indonesia ke Prancis untuk ditampilkan pada acara Paris Air Show tahun 1997.

Pesawat ini terbang dikawal CN235 dari Indonesia menuju Prancis. Saat tampil di Paris Air Show, N250 mampu mencuri perhatian dunia kala itu. Saat ini, justru maskapai Indonesia banyak memakai pesawat sejenis N250 yaitu pesawat buatan ATR.

 http://images.detik.com/content/2014/02/25/1036/084102_foto5.jpg

PTDI berhasil menjadi pemasok utama atau tunggal untuk pembuatan komponen vital pesawat super jumbo Airbus 380. PTDI membuat salah satu komponen sayap yang bernama Outer Fixed Leading Edge.

Komponen ini masuk kategori tersulit dan vital dalam sebuah pesawat terbang. Maka ketika PTDI tidak atau terlambat memproduksi komponen ini, maka produksi A380 akan terganggu.

Hingga saat ini, komponen outer fixed leading edge ini telah terpasang pada 165 pesawat jumbo A380. Selain komponen A380, PTDI juga membuat komponen pesawat jenis A320, A321, A340, A350 hingga Boeing 747.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar