Selasa, 11 Februari 2014

Tuntunan Islam dalam Menghadapi Musibah



Islam tidak membiarkan umatnya begitu saja ketika ditimpa musibah. Dalam Alquran, sudah diberikan tuntunan, bagaimana seharusnya seorang hamba ketika ia mendapat musibah baik dirinya maupun orang lain.

Jika musibah diberikan kepada dirinya sendiri, maka ia dianjurkan sebagai berikut:

1) Mengucapkan kalimat istirja’, yaitu kalimat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (sesungguhnya kami semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami akan kembali). Hal ini tercantum dalam Surat al-Baqarah, ”(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." (QS al-Baqarah: 156).

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam  Malik, dan Imam  Ahmad bin Hanbal Rasulullah bersabda, ”Jika kalian kena musibah, ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi rajiun."

2) Memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberi pahala dari musibah yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana diajarkan Rasulullah dalam sabdanya, "Apabila kamu diberi musibah oleh Allah, maka ucapkanlah doa "Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifha khairan minha (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya).” (HR Muslim, Ibnu Majah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal).

Selain memohon pahala dari musibah yang dihadapi, juga dianjurkan memohon agar musibah itu berakhir dari dirinya, sebagaimana permohonan Nabi Ayub AS ketika mengalami musibah penyakit yang berkepanjangan.

Kisah ini diabadikan Allah SWT dalam ayat, ”Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: '(YaTuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan semuanya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS al-Anbiya: 83-84).

3) Bersikap sabar dan tidak berputus asa dalam menghadapi musibah, karena dengan kesabaran itulah seseorang mendapatkan pahala dari musibah yang menimpanya. Seperti diajarkan dalam ayat, ”... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS az-Zumar: 10).

Pentingnya kesabaran dalam kesulitan juga dijelaskan dalam hadis, "Jika seorang mukmin memperoleh kebaikan lalu ia bersyukur, maka kebaikan itu menjadi pahala baginya, dan jika ia ditimpa kemudaratan (musibah) lalu bersabar, maka kemudaratan itu menjadi pahala baginya.” (HR Muslim).

4) Menerima dengan ikhlas dan tidak menyesali atau membenci musibah yang diberikan Allah SWT kepadanya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha atas ujian itu, maka Allah akan meridhainya. Dan siapa yang membencinya, maka Allah akan membencinya.” (HR Tirmizi).

Adapun tuntunan Islam mengenai sikap seorang mukmin terhadap mukmin lain yang terkena musibah yaitu:

1) Memberi nasihat kepada yang terkena musibah agar senantiasa dalam keimanan dan kesabaran.

Hal ini diperintahkan Allah SWT dalam Alquran, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-Asr: 1-3).

2) Menjenguknya jika musibah yang diterima dalam bentuk penyakit, seperti diajarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Kewajiban seorang muslim atas orang muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (HR Bukhari-Muslim).

Selain itu, sangat dianjurkan bertakziah jika musibah yang menimpa seseorang dalam bentuk kematian orang-orang yang dicintainya. Memperlihatkan bahwa ia ikut berduka cita dan memberi semangat agar dia tidak tenggelam dalam kesedihan.

3) Memberi bantuan materil kepada orang yang terkena musibah. Ini dimaksudkan untuk meringankan beban penderitaannya.

Seperti hadis Rasulullah SAW, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasih dan menyayangi bagaikan tubuh manusia yang satu. Bila salah satu diantaranya mengalami musibah, maka yang lain turut merasakan dan berusaha untuk menolongnya.” (HR Bukhari-Muslim)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar