Jumat, 28 Februari 2014

Menyingkap Misteri Lauh al-Mahfudz





Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak.

Lauh al-Mahfudz belum banyak dibahas orang. Kitab-kitab tafsir pun tidak menguraikan panjang lebar apa itu Lauh al-Mahfudz.

Dalam literatur yang ada Lauh al-Mahfudz biasa diartikan dengan sebuah kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru terhadap segala peristiwa yang terjadi dari zaman azali sampai kiamat.

Dikatakan dalam hadis bahwa tidak jatuh sehelai daun melainkan sudah tercatat di dalam kitab itu. Lauh al-Mahfudz (QS al-Buruj/85: 22) sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra'd [13]:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi'ah [56]:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An'aam [6]:59).

Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak. Lauh al-Mahfudz dianggap gudang rahasia, karena itu kalangan jin dari golongan setan berusaha mencuri informasi itu untuk berbagai kepentingan memainkan akidah manusia.

Para malaikat penjaga Lauh al-Mahfudz sangat disiplin berjaga di sekitarnya. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat  penjaga Lauh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arahnya, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syetan yang terkutuk, kecuali syetan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS al- Hijr [15]:16-18).

Ibnu Arabi menghubungkan antara Lauh Mahfuz dan perkawinan makrokosmos. Seperti yang sering dikatakannya, semua makhluk (al-khalq) diciptakan Tuhan (al-Haq) idealnya berpasang-pasangan, sebagaimana disebutkan, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”. (QS adz-Dzariyat [51]:49).

Ia mencontohkan, pasangan makrokosmos langit (as-sama') dan bumi (al-ardh), malam (al-lail) dan siang (an-nahar), surga (al-jannah) dan neraka (an-nar), Adam dan Hawa, akal (al-aql) dan jiwa (an-nafs), dan pena /(al-qalam) dan buku/papan tulis (al-lauh).

Pasangan-pasangan ini menunjukkan adanya interaksi secara fungsional satu sama lain. Ia mencontohkan fungsi interaktif tersebut dengan yang dan yin dalam tradisi Taoisme. Pasangan-pasangan tersebut satu yang bersifat aktif (yang) dan yang lainnya bersifat reseptif (yin).
Perkawinan antara pena dan lembaran (al-lauh) dianggap perkawinan supraindrawi. Jejak tinta yang masuk di dalam lembaran dianalogikan dengan sperma yang dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam rahim perempuan.

Makna-makna yang tersimpan dalam bentuk huruf-huruf langit yang terwujud dalam tulisan itu merupakan ruh-ruh dari anak-anak yang tersimpan di dalam rahim-rahim mereka. Perkawinan antara pena dan lembaran melahirkan Lauh al-Mahfudz. Inilah yang diabadikan di dalam Alquran, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (QS al-Qamar [18]:1).

Dalam satu riwayat Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip dalam kitab Tafsir ar-Razi: “Yang paling pertama diciptakan Allah ialah pena (al-qalam). Allah berfirman kepadanya: “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat”.

Ibnu Abbas juga menukilkan bahwa pena itu terbuat dari cahaya yang panjangnya sama dengan jarak antara bumi dan langit. (Tafsir al-Razi, Jilid X, h. 598-599).

Sedangkan lembarannya tercipta dari mutiara putih, permukaannya berwarna zamrud hijau, tulisannya berupa cahaya. Dia memandangnya 360 pandangan. Dia memberi kehidupan dan mencabut nyawa, menciptakan dan memberi makan, meninggikan dan merendahkan, dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. (Bihar al-Anwar, jilid 54, hlm 361-362).

Dalam kitab Bihar al-Anwar karya Muhammad Baqir al-Majlisi, arti huruf nun bermacam-macam. Ada yang menafsirkannya sebagai bak tinta (dawat), tinta (midad), dan ikan (hut), yakni ikan yang pernah menolong Nabi Yunus ketika dilempar ke laut.

Sebagian lagi menafsirkan sungai di surga. Yang lainnya menafsirkan nun adalah malaikat yang menyampaikan kepada pena, yang juga malaikat.

Pena yang menyampaikan kepada lembaran (al-lauh) tidak lain juga adalah malaikat. Lembaran itu kemudian berkomunikasi dengan malaikat-malaikat utama seperti Izrafil, Izrail, Mikail, Jibril, dan malaikat terakhir ini menyampaikan kepada para Nabi. (Bihar al-Anwar, jilid 54, h. 368-369).

Lauh Mahfudz ini kemudian dikenal juga dengan nama jiwa universal adalah makhluk bersifat rohani yang lahir dari akal pertama (al-’Aql al-Awwal)

Ibnu Arabi mengatakan, “Akal pertama (al-’aql al-awwal), yaitu benda pertama yang diciptakan ialah pena tertinggi (al- Qalam al-A’la). Tidak ada cip taan sementara yang me nyertainya. Ia merupakan lokus yang menerima pengaruh ka rena apa yang disebabkan Tu han untuk terjadi di dalamnya, yaitu munculnya lembaran yang terpelihara (al-lauh al-Mahfudz) darinya.”

“Dengan cara yang sama, Hawa muncul dari Adam dalam dunia benda-benda jasmani (al- ’alam al-ajram). “Lembaran ini menjadi suatu objek dan lokus un tuk apa yang dituliskan oleh pena Ilahi tertinggi di dalamnya. … Lauh Mahfudz adalah benda eksisten pertama yang muncul dari suatu benda ciptaan.” (Futuhat, Jilid 1, 139).
Lauh Mahfudz ini kemudian dikenal juga dengan nama jiwa universal adalah makhluk bersifat rohani yang lahir dari akal pertama (al-’Aql al-Awwal).

“Ia bagaikan cahaya. Meskipun bersifat cahaya, tetap juga terkontaminasi dengan sifat-sifat kegelapan karena mewa kili suatu gerakan ke arah alam raya. Ia seperti barzah yang menyatukan dua sifat alam, yakni alam nyata dan alam gaib.”

“Apa yang bertindak (al-faidh) atasnya adalah cahaya sementara yang menerima tindakan (al-mustafi dh) atasnya ada lah kegelapan, yakni alam raya. Akal pertama lahir di dunia penulisan dan pencatatan.”

“Ia lahir dari ketiadaan, setelah itu, (tanpa kesetelahan kontemporer lagi), jiwa muncul dengan cara-cara seperti kemunculan sesuatu yang akan terjadi di dunia ini hingga hari kebangkitan. Ia berada di bawah pena akal dalam cahaya dan tingkat kecemerlangan.”

“Ia seperti zamrud hijau karena munculnya substansi debu yang berada di dalam potensi jiwa tadi. Dengan demikian, substansi debu dari jiwa adalah substansi gelap di mana tidak ada cahaya.” (Futuhat, Jilid II, 66-67).

Menanggapi bentuk jamak dari lembaran (wama yasthurun), menurut Al-Razi, tidak menunjukkan jamak tetapi untuk keagungan (li al-ta’zhim). Tapi, menurut Kasyani, itu menunjukkan jamak, yakni lembaran-lembaran yang banyak, sebagaimana relativitas dan relativitas kosmos.

Ia menghubungkan pendapatnya dengan ayat, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat umulkitab (lauh Mahfudz).” (QS al-Ra’d [13]:39).

Ayat ini, menurut Kasyani, menunjukkan bahwa dalam hubungan strukturnya dengan Tuhan, pena itu sendiri adalah sebuah “lembaran“ yang menerima limpahan. Dengan demikian, pena yang dianalogikan dengan jiwa di atas mana pena itu menulis. Dengan demikian, apa yang disebut pena dalam dalam satu sudut pandang mungkin lembaran dalam sudut pandang lain.

Di sinilah relevansi ayat, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dari lembaran tertentu dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) dalam lembaran lain. Namun, di sisi Allah SWT terdapat Umm al-Kitab (lauh Mahfudz) yang tidak tersentuh perubahan.”

Sehubungan dengan ini, al-Majlisi mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa ada dua macam lem baran, yaitu Lembaran yang ter pelihara (allauh al-mahfudh), ti dak mengalami perubahan, dan lembaran yang mengalami perubahan (al-lauh almahwu).

Lembaran yang terakhir inilah yang berhubungan dengan QS al-Ra’d [13]:39. Apa yang sering diketahui para malaikat dan sesekali dicuri oleh jin ialah informasi dari kitab al-lauh al-Mahw, bukannya dari Umm al-Kitab.

Semula, lembaran itu permanen, tetapi bisa berubah sebagaimana upaya gigih manusia yang berusaha mengubah nasibnya. Usaha perubahan nasib ini juga diisyaratkan dalam beberapa ha dis, antara lain, hadis tentang doa panjang umur.

Al-Kasyani mengemukakan, ada empat lembaran (al-alwah) sebagaimana dikutip Murata, yaitu lembaran yang mencatat tentang ketentuan permanen (qadha), ini juga disebut nanti dengan akal pertama (al-’aql al-awwal).

Kedua, lembaran takaran atau ukuran (qadr), yaitu jiwa rasional universal, di mana benda-benda universal dari lembaran pertama dibedakan dan diverifi kasi. Inilah nanti disebut lauh al-Mahfudz.

Ketiga, Lembaran jiwa-jiwa langit yang merupakan suatu lembaran tersendiri di mana dituliskan segala sesuatu di dunia ini lengkap dengan bentuk, ukuran, dan kondisinya. Lembaran ini nantinya disebut lembaran “langit dunia”. Keempat, lembaran materi yang menerima bentuk-bentuk dari dunia nyata secara visual.

Seorang wali junior tiba-tiba menyampaikan respeknya kepada salah seorang pemuda di desanya. Dalam hati wali muda ini berkata, alangkah sayangnya pemuda ini harus mati muda karena sebentar lagi, saat malam tiba, ia akan menemui ajalnya dengan jatuhnya sebuah meteor raksasa yang diameternya jauh lebih besar dibanding rumah kediaman pemuda itu.

Diperkirakan, meteor itu jatuh persis menimpa rumah pemuda tersebut. Keesokan harinya, alangkah kagetnya dia karena masih bisa menjumpai sahabatnya segar bugar.

Wali junior ini penasaran dan akan mencoba menanyakan kepada pemuda desa tadi mengapa bisa lolos dari peristiwa alam tadi. Belum sempat pemuda tadi ditanya, dengan lugunya si pemuda desa menegur sahabat barunya dengan salam.

Ia langsung menjelaskan pengalamannya semalam dengan mengatakan, “Alhamdulillah yang engkau lihat aku juga melihatnya, hanya kami tidak pernah takut soal ini karena Allah SWT menunjukkan rahasianya, bahwa batu meteor  raksasa itu memang jatuh tetapi tak seorang pun meninggal, karena begitu batu meteor itu memasuki orbit bumi langsung pecah berantakan dan yang sampai di rumah hanya dalam bentuk serbuk dan tepung.”
Jatuhnya batu meteor raksasa ke orbit bumi merupakan peristiwa ketentuan-Nya (qadha). Sedangkan, bagaimana detail dan berapa banyak debu dan puing-puing pecahan batu meteor merupakan qadar-Nya.

Jatuhnya beberapa gelas dari meja ke lantai pasti diketahui banyak orang akan mengakibatkan pecahnya gelas-gelas itu, tapi tak seorang pun yang bisa menghitung berapa pecahan masing-masing gelas itu.

Peristiwa jatuhnya beberapa gelas ke lantai dan mengakibatkan pecahnya gelas-gelas itu adalah qadha. Tetapi, berapa jumlah pecahan masing-masing gelas merupakan wilayah qadr. Dengan demikian, wilayah qadr jauh lebih rumit dari wilayah qadha. Peristiwa qadha dan qadar kedua-duanya tercatat di dalam Lauh al-Mahfuzh.

Dalam artikel terdahulu diungkapkan berbagai pendapat ulama tasawuf tentang Lauh al-Mahfuzh. Ada yang mengatakan Lauh al-Mahfuzh tidak tunggal, melainkan ada beberapa dan bertingkat-tingkat.

Al-Majlisi mendukung  pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan ada dua macam lembaran (lauhain), yaitu lembaran yang terpelihara (Lauh al-Mahfuzh) yang paling agung dan tidak tersentuh dengan perubahan dan lembaran yang mengalami perubahan (Lauh al-Mahwu) yang masing memungkinkan adanya perubahan.

Sedangkan, al-Kasyani mengatakan ada empat lembaran (al-alwah), sebagaimana dikutip Murata, yaitu lembaran yang mencatat tentang ketentuan permanen (qadha), lembaran takaran atau ukuran (qadr), lembaran “langit dunia”, dan lembaran materi yang menerima bentuk-bentuk dari dunia nyata secara visual.

Alquran sendiri menggunakan beberapa bentuk jamak (alwah), seperti: "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa dalam lembaran-lembaran (al-awah) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." (QS. al-A'raaf [7]:145).

Ar-Razi berpendapat Lauh al-Mahfuzh hanya satu, tetapi lembaran-lembaran lain yang derajatnya di bawah Lauh al-Mahfuzh masih banyak. Kata “wama yasthurun” dalam QS al-Qalam (68):1 yang menggunakan bentuk jamak bukan berarti di sana banyak Lauh Mahfuzh, tetapi hanya untuk keagungan (li al-ta'dhim).
Adanya perubahan di dalam Lauh al-Mahfuzh itu merupakan hak prerogatif Tuhan, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umm al-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS ar-Ra'd [13]:39).

Kalimat “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki” dari lembaran tertentu dan “menetapkan (apa yang Dia kehendaki)” dalam lembaran lain yang bukan Lauh al-Mahfuzh. Di sisi Allah SWT terdapat Umm al-Kitab yang tidak lain adalah Lauh Mahfuzh yang sesungguhnya dan  tidak tersentuh perubahan.

Soal adanya doa yang diajarkan Nabi, “Ya Allah panjangkanlah umur kami (Allahumma thawwil 'umurana)," sesungguhnya tidak bertentangan dengan nasib dan takdir ketetapan Allah atau qadha dan qadar.

Ulama kalangan Mazhab Asy'ari mengomentari pendapat ini dengan mengatakan, "Apa yang tidak mungkin berubah jika Sang Pencipta menghendakinya?"

Takdir memang tidak bisa berubah tanpa takdir baru yang datangnya dari Allah SWT. Dengan demikian, catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh pun bisa berubah.

Sedangkan, jalan pikiran kaum mu'tazilah meyakini catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh simetris dengan perbuatan manusia, artinya otoritas yang Allah berikan ke dalam diri manusia memungkinkan manusia mengintervensi catatan-catatan Lauh al-Mahfuzh.

Bahkan, ada di kalangan mereka berpendapat bahwa manusia itu sendiri yang mengisi catatan Lauh al-Mahfuzh.

Kontroversi catatan di dalam Lauh al-Mahfuzh tidak banyak dibahas, baik oleh kalangan filsuf, mutakallimin (ahli teologi), maupun para sufi. Mungkin ini karena wilayah Lauh al-Mahfuzh termasuk di dalam alam gaib mutlak. Wallahu a’lam.


Prof Dr Nasaruddin Umar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar