Jumat, 21 Februari 2014

Kekhalifahan Manusia dan Keniscayaan Belajar

Inti tugas kita sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia adalah menentukan pilihan. Yaitu pilihan yang kita ambil (putuskan) dalam setiap langkah hidup kita. Dan pada keputusan (pilihan) itulah sesungguhnya ujian hidup itu terjadi.

Pilihan kebenaran atau pilihan ketidakbenaran, saat kita mengambil setiap keputusan; pilihan untuk berdzikir atau tidak berdzikir, tatkala kita mendapat musibah; dan pilihan untuk bersyukur atau tidak bersyukur, di waktu kita mendapat nikmat dalam hidup. 
Agar pilihan-pilihan yang kita ambil adalah pilihan-pilihan positif, maka pembelajaran adalah tuntutan dan persyaratannya. Dan karena pilihan-pilihan dalam tugas kelhalifahan kita, terkait dengan isu-isu Alquran, manusia atau alam, maka kebutuhan pembelajaran mencakup prinsip-prinsip dari substansi ketiganya.

Begitu pentingnya pembelajaran bagi keberhasilan tugas kekhalifan manusia, maka Alquran mencontohkan cara belajar efektif melalui kisah nabi Adam, Ibrahim dan Muhammad SAW, sebagai berikut.
“Allah mengajarkan nabi Adam AS tentang nama-nama makhluk alam semesta”. Kemudian  berkata:  “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka (para malaikat) nama-nama alam semesta ini.” Melalui dua perbuatan-Nya ini, Allah  mengajarkan kita tentang strategi dasar pembelajaran. Yaitu pembelajaran melalui proses menjadi murid dan proses menjadi guru [QS Al-Baqarah (2):30-33]. 

Alquran menambahkan contoh tentang proses pembelajaran melalui kisah Nabi Ibrahim AS, yang melakukan pembelajaran tauhid, melalui cara belajar yang sekarang kita sebut sebagai pencarian (inquiry), penguasaan pribadi (personal mastery), pembelajaran investigasi (investigative learning), dan dialog. 

“Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) diaberkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit ia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat". [QS Al An'am (6):77].

“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata:
 "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". 
Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” [QS Al An'am (6):78].

"Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan." 
Orang itu (raja Namrudz) berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". 
Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat." 
Maka terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” [QS Al-Baqarah (2):258].

Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, Alquran memberikan contoh pembelajaran yang lengkap dan  sistemik: membaca, menulis, belajar intensif dan mengajarkan apa yang sudah dipahami kepada orang lain. Seperti yang dapat kita pahami dari inti makna surah-surah Al-Quran yang diturunkan pada urutan ke 1 sampai 5, berikut ini.
Alquran mengajarkan bahwa Allah adalah sumber Ilmu Pengetatuan dan membaca adalah cara memperolehnya. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak diketahui.” [QS Al 'Alaq (96):1-5].

Alquran mengajarkan bahwa kemampuan baca tulis akan menghasilkan Ilmu Pengetahuan, dalam wujud tulisan-tulisan. “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya [QS Al Qalam (68):1-4].

Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai dengan keterampilan baca tulis itu, harus dilanjutkan dengan cara belajar intensif. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari, kecuali sedikit, seperduanya atau kurangi sedikit atau lebihi dari seperdua itu. Dan bacalah (pelajarilah) Alquran itu dengan perlahan-lahan [QS Al Muzzammil (73):1-6].

Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai melalui membaca, menulis dan belajar intensif itu, kini perlu dilengkapi dengan mengingatkan orang lain. Yaitu mengajarkan apa yang sudah dipelajari itu kepada orang lain. “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! [QS Al Muddatstsir (74):1-3].

Akhirnya, pada QS  Al-Fatihah (1):1-7, yang diturunkan pada urutan ke 5, barulah Alquran menjelaskan pokok-pokok substansi yang perlu dipelajari. Yaitu substansi Iman, yang terkandung dalam makna ayat 1, 2, 3, dan 4; Islam, yang tersurat dalam makna ayat 5, 6 dan 7; dan Ihsan, yang tersirat dalam makna ayat 5, yaitu shalat untuk berdzikir (sesuai makna ayat 1, 2, 3, dan 4) dan untuk berdoa (sesuai makna ayat 6 dan 7). 

Demikianlah contoh-contoh strategi dan metode pembelajaran yang diajarkan Alquran sejak 14 abad lalu. Yang pada abad ke 21 ini, terbukti sebagai cara belajar yang paling efektif. Sebagai contoh, National Training Laboratories, Bethel, Maine USA menemukan bahwa belajar dengan cara mengajar orang lain, terbukti sebagai metode belajar paling efektif. 

Dan begitu niscayanya belajar itu untuk keberhasilan tugas kekhalifahan kita. Sehingga Allah mengingatkan kita agar terus belajar: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk dipelajari, maka adakah kamu akan menjadi orang yang terus belajar? [QS Al Qamar (54): 40].


Oleh DR M Masri Muadz MSc, Penulis buku Paradigma Al-Fatihah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar