Senin, 10 Februari 2014

Ujian Kehidupan Desain Allah SWT





Sungguh, konsep dasar kehidupan sesuai desain Allah, adalah ujian pilihan terhadap perintah Kebajikan atau larangan Kemungkaran. Dan ujian pilihan untuk berdzikir saat mendapat musibah atau untuk bersyukur kala memperoleh nikmat. Al-Quran menjelaskannya sebagai berikut:

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, tanpa tujuan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” [QS Al-Mukminun (23):115-116].

“...Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta” [QS Al 'Ankabut (29):1-3].

Nabi Adam, diuji Allah dengan perintah tinggal di surga dan larangan mendekati sebuah pohon di dalamnya [QS Al Baqarah (2):35].

Nabi Ibrahim diuji Allah dengan nikmat Iman dan perintah pengorbanan (penyembelihan) jiwa anaknya, Ismail [QS Ash Shaffat (37):102].

Ujian Rasulullah lebih substantif dan meliputi. Yaitu ujian kehidupan yang terjadi dalam 3 periode.

Pertama, sebelum lahir sampai umur balita. Rasulullah ditinggalkan oleh ayahanda, Abdullah bin Abdul al-Muththalib, saat beliau masih dalam kandungan ibunda. Dan ibunda wafat saat beliau berumur 4 tahun.

Kedua, periode sepuluh tahun pertama kerasulan beliau di Makkah. Berupa wafatnya Abu Thalib, paman dan pelindung beliau; dan disusul dengan wafatnya Siti Khadijah, istri beliau 3 bulan kemudian. Keduanya meninggal dunia, saat-saat beliau sangat membutuhkan dukungan keluarga guna menunjang misi kerasulan.

Ketiga, perode sepuluh tahun kedua kerasulan beliau di Madinah. Berupa perlawanan bersenjata dari kaum kafir yang berasal dari suku Quraisy, Arab Badui, Yahudi Madinah dan bangsa-bangsa Arab di wilayah Timur Tengah. Perlawanan yang harus dihadapi dengan pengorbanan pikiran, tenaga, harta dan jiwa, melalui perang senjata.

Dalam konteks ujian menghadapi perlawanan orang-orang kafir ini, diriwayatkah Rasulullah ikut serta dalam 7 perang besar dalam periode 10 tahun terakhir kerasulan beliau. Yaitu perang Badar, Uhud, Ghatafan, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, dan Hunain (Ratna Ajeng Tejomukti, Republika. co.id).

Sedangkan ujian dengan nikmat, terjadi saat Rasulullah menunaikan ibadah haji terakhir yang ditandai dengan deklarasi Allah atas kemenangan perjuangan beliau bersama umatnya dalam menghadapi perlawanan dari orang-orang kafir tersebut.

“...Orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...” [QS Al Ma-idah (5):3].

Itulah contoh-contoh ujian kehidupan dalam sejarah para nabi dan rasul yang di jelaskan Al-Quran, untuk menjadi suri teladan dan pembelajaran bagi setiap umatnya.

Maka dalam setiap diri manusia telah tersedia secara default dua kekuatan berlawanan. Pertama, ruhani (kata hati), yang berasal dari Ruh Allah yang telah ditiupkan dalam dirinya. Kedua, hawa nafsu yang menjadi entry point godaan syaitan, lalu berkembang menjdi arogansi diri. Dua kekuatan inilah yang bekerja dalam setiap pilihan manusia dalam ujian kehidupannya.

Karena konsep dasar kehidupan adalah ujian bagi manusia, maka ujian itu melekat (built in) dalam setiap langkah hidup yang kita lalui, yang dapat kita sederhanakan menjadi dua konteks.

Pertama, di tengah keluarga, di tempat kerja dan di lingkungan masyarakat, kita diuji melalui pilihan-pilihan keputusan yang kita ambil saat kita berinteraksi antar sesama terkait dengan berbagai persoalan yang kita hadapi.

Apakah keputusan-keputusan yang kita ambil sudah berdasarkan kebenaran (kebajikan) ? Atau sebaliknya, justru merujuk pada ketidakjujuran (kemungkaran)? Inilah pertanyaan ruhaniyah yang seyogyanya kita ajukan setiap kita akan mengambil keputusan. Dan jawaban dari ruhani kita tidak akan pernah salah.

Kedua, ujian saat kita mendapat musibah atau memperoleh nikmat dari Allah. Musibah adalah semua hal yang kita tidak inginkan dan membuat kita sedih, seperti kehilangan jiwa, harta atau jabatan. Sedangkan nikmat adalah kebalikannya.

Maka saat kita mendapat musibah, Al-Quran mengajarkan kita untuk meresponnya dengan berdzikir: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" [QS Al Baqarah (2):156].

Sebaliknya, saat kita diuji dengan kenikmatan, kita dituntun dengan untuk bersyukur: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu mengucapkannya (dengan bersyukur) “ [QS Adh Dhuha (93):11].

Maka, alternatif jawaban dalam semua ujian kehidupan itu hanya terdiri dari enam pilihan jawaban. Tiga jawaban positif dan tiga jawaban negatif.

Yaitu pilihan kebenaran atau pilihan ketidakbenaran saat kita mengambil setiap keputusan; respon dengan berdzikir atau tidak dengan berdzikir saat kita mendapat musibah; dan respon dengan bersyukur atau tidak dengan bersyukur tatkala kita mendapat nikmat dalam perjalanan hidup kita.

Maka, akan luluslah orang-orang yang selalu memberikan jawaban positif dalam ujian kehidupan mereka.

Allahu a’lamu bishshawab.



Oleh DR M Masri Muadz MSc (Penulis buku Paradigma Al-Fatihah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar