Selasa, 11 Februari 2014

Irene Handono


Irene Handono, Foto/Darmawan




‘Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.’

Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ‘’Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,’‘ kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.

Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.

Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ‘’Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,’‘ ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka’bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.

Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten – tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ‘’Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,’‘ ungkapnya.

Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber – sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro – peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me – wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing – ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.

Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung – annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.

Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ‘’Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,’‘ ujarnya.
Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ‘’Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,’‘ ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal. 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar