Minggu, 22 Maret 2015

AKHLAK DAN TATAKRAMA ISLAM


Akhlak

Rasulullah saw menyampaikan sabdanya yang artinya adalah:"sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"

Tujuan mendasar Rasulullah saw sejak kenabian secara tegas dijelaskan dan Al Qur'an senantiasa mengabadikan akhlak Rasulullah saw dalam ayat yang artinya:"sesungguhnya kamu memiliki akhlak mulia" hal ini menunjukkan peran penting akhlak dalam Islam.
Ukuran akhlak dalam Islam adalah keimanan, ketakwaan yang dibangun dari empat pondasi antara lain:

1. niat yang baik dan hati yang bersih dalam segala hal.

2. berbuat baik terhadap seluruh lapisan masyarakat.

3. baik dalam perkataan dengan semua masyarakat baik kawan maupun lawan.

4. perilaku yang baik terhadap seluruh makhluk.

Tatakrama bertumpu pada dua pondasi berikut ini:

1. tatakrama individu yang berkaitan dengan hak individu seperti tatakrama makan, minum, berpakaian, tidur, bepergiaan, ketika sehat maupun sakit dan lainnya yang memiliki aturan khusus dan sangat personal. Seluruh aturan tersebut bertujuan untuk membawa manusia pada kebahagiaan dan menjauhkan dari kesulitan serta berbagai penyakit masyarakat.

2. tatakrama social berkaitan dengan hak social manusia seperti tatakrama berhubungan dengan ibu dan bapak, istri dan anak, kerabat, guru dan murid, teman dan tetangga, serta seluruh lapisan masyarakat. Penerapan tatakrama ini menjadi jaminan keamanan, melindungi ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan semua manusia. (lebih jauh mengenai pembahasan akhlak dan tatakrama Islam lihat kitab "Risalah Huquq" Imam Zainal Abidin as, dan Makarim al Akhlak. Lihat juga Ayatullah Uzma Syirazi, Adab wa Sunnah. Lebih jauh tentang pembahasan wajib dan haram lihat, ayatollah uzma Syirazi, wajibat wa muharramat).

Pada kenyataannya, agama merupakan seluruh aturan yang berdasarkan akhlak dan tatakrama terbaik. Seluruh ajaran Islam bersandar pada pondasi keutamaan akhlak.

Larangan dan Keburukan Akhlak

Beberapa tindakan yang dilarang tersebut antara lain: berbuat zalim, berlebihan, menghina orang lain, mengganggu masyarakat, menyebarkan rahasia orang lain, berbohong dan menghina, durhaka kepada orang tua, korupsi, zina, homo seksual dan lesbian, meminum minuman keras, memandang non-muhrim, berjudi, suap, makan bangkai, babi dan makanan haram lainnya, memakan harta orang lain tanpa seizing, berbuat curang dalam jual beli, mengenakan emas bagi laki-laki, pemakan riba, menipu, onani, memata-matai orang lain, ghibah, bernyanyi dan mendengarkan musik, membunuh dan melakukan terror, mencuri, membantu orang lain melakukan kemungkaran, khianat, merampas hak orang lain, bekerjasama dengan orang kafir dan zalim, berkata buruk dan memanggil dengan panggilan buruk.

Keutamaan Akhlak

Keutamaan akhlak yang merupakan penghias seorang muslim antara lain: insaf, bekerjasama, dalam kebaikan, sabar dan berserah diri, mendamaikan masyarakat, ikhlas dalam amal, tawakkal kepada Allah Swt, berbuat baik kepada kedua orang tua, memberikan makanan, menjaga diri, mengucapkan salam dengan suara keras, menjaga kebersihan, mencari ilmu, berperilaku baik dengan masyarakat, pemberani, menyambungkan dan menjaga silaturahmi, berlaku adil dalam bertindak, membantu orang-orang yang lemah, tawadhu, memenuhi kebutuhan orang lain yang memerlukan, memaafkan kesalahan orang lain, takwa, berkata benar, menghormati masyarakat, tersenyum, menyesal dari perbuatan buruk, menikah dan bersyukur atas karunia Allah Swt.

Keburukan Akhlak

Keburukan akhlak yang menyebabkan kehancuran manusia antara lain: mencari-cari kesalahan orang lain, menimbun harta, berkata dan bertindak sia-sia, malas dalam menjalankan tugas, takut, haus kekuasaan, tidak menepati janji, fanatic buta, ragu, tergesa-gesa, rakus, bakhil, melupakan Allah Swt, keras hati dan sifat buruk lainnya.
Berbagai keutamaan akhlak yang disebutkan tidak semuanya sunah, namun ada sebagian yang merupakan kewajiban. Begitu juga yang termasuk keburukan akhlak tidak semua makruh, namun ada juga yang haram dilakukan.

Oleh karena itu, setiap muslim harus berusaha sekuat tenaga agar menghiasi dirinya dengan keyakinan keagamaan yang kuat dan secara totalitas menyesuaikan dengan aturan Islam baik dalam cabang agama maupun dalam akhlak serta tatakrama. Hal ini seperti sayap patah pada seekor burung yang menyebabkan tidak bisa terbang. Maupun sebuah mobil tanpa ban yang tidak dapat berjalan.

Seorang muslim dengan hanya mengatakan bahwa saya seorang muslim saja sangat tidak cukup. Seperti seorang pasien yang mengatakan 'saya sehat', tentu saja perkataan tersebut tidak membawa manfaat apa pun pada sakit yang dideritanya. Oleh karena itu, perkataan seorang muslim tanpa disertai tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam, tidak ada pengaruhnya, maka pernyataan harus sesuai dengan tindakan kita, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih. Insya Allah.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar