Rabu, 18 Maret 2015

Mengatasi Kemarahan Pasangan



Islam memerintahkan seorang muslim untuk bersabar agar mencapai keberuntungan (QS Ali Imran 3:200).  Seorang muslim dilarang marah karena masalah personal. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari seorang lelaki meminta nasihat kepada Nabi. Nabi menjawab berulang-ulang sebanyak pertanyaan pria tersebut: “Jangan marah!”  Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya sikap sabar dalam kehidupan sosial. Semua orang memahami bahwa marah adalah perilaku yang tidak baik. Namun, demikian tidak semua orang dapat mengontrol dirinya untuk tidak marah terutama ketika menghadapi suatu situasi emosional tertentu. Termasuk di antaranya adalah bagaimana mengontrol diri saat menghadapi pasangan rumah tangga suami atau istri yang sedang marah.


Sebuah konflik dalam rumah tangga berawal dari rasa marah.  Dari rasa marah itulah kemudian timbul pertengkaran. Rasa marah itu sendiri disebabkan oleh banyak faktor. Dari persoalan yang ringan sampai yang berat. Dari rasa depresi dan stress atau karena perilaku pasangan yang salah. Satu hal yang pasti, kemarahan yang berujung pertengkaran akan menyebabkan hubungan suami-istri menjadi renggang. Dan kerenggangan itu dapat semakin memburuk dan berakhir perceraian apabila tidak segera diatasi.  Mengatasi kemarahan pasangan secara tepat dan benar itu sangat penting karena penanganan yang salah akan membuat masalah semakin kacau dan runyam.

Beberapa poin berikut penting untuk diperhatikan saat melihat pasangan kita marah.

Pertama, apabila pasangan Anda sedang marah, maka hal pertama yang harus dilihat adalah apakah kekesalannya itu disebabkan oleh Anda.  Introspeksi dan jujurlah pada diri sendiri. Kalau iya, maka Anda perlu legowo untuk meminta maaf. Satu kata maaf akan menghapus kekesalan pasangan.

Apabila marahnya pasangan pada Anda bukan karena kesalahan Anda, tapi karena kesalahpahaman semata, maka jangan ladeni kemarahannya. Diam adalah emas pada situasi semacam ini seperti sabda Rasulullah, “Katakan yang baik atau diam!”. Saat kekesalannya reda dan waktunya dianggap tepat untuk berbicara dari hati ke hati, tibalah saatnya bagi Anda untuk menjelaskan masalah yang sebanarnya.  Begitu juga, apabila kemarahannya disebabkan oleh faktor eksternal seperti masalah kantor dan semacamnya di mana Anda hanya menjadi pelampiasan, maka kalau Anda kuat, dengarkan dan biarkan dia bicara dan jangan menyela omongannya. Tapi kalau Anda tidak kuat, menjauhlah darinya dengan cara-cara yang sekiranya tidak menyinggung perasaannya.

Kedua, beri batasan yang jelas terhadap ekspresi kemarahan yang bisa Anda tolerir. Saat situasi sudah tenang dan nyaman kembali beberapa hari kemudian, Anda perlu mengingatkan pasangan Anda apabila ada kata-kata pasangan Anda pada saat marah yang tidak bisa ditolerir dan jangan sampai terucap lagi di kemudian hari.  Pembatasan seperti ini penting agar pasangan tahu batas dan tidak ngelunjak saat mengumbar kemarahan. Inilah salah satu cara Anda melakukan bargaining (tawar-menawar) dengan pasangan.  Sabar secara total atas segala sikap pasangan yang sebenarnya tidak mengenakkan hati itu akan membuat Anda semakin tertekan di satu sisi dan akan membuat pasangan semakin tidak terkontrol di sisi yang lain. Dua-duanya merupakan sikap yang berbahaya bagi kesehatan hubungan yang harmonis.

Ketiga, pastikan pasangan Anda tahu apa perilakunya yang menyenangkan dan apa yang tidak. Tunjukkan apresiasi Anda dalam bentuk ucapan atau sikap apresiatif saat Anda senang agar dia merasa dihargai. Sebaliknya pilihlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan ketidaksukaan Anda pada sikap pasangan Anda atau untuk memberi masukan, saran dan nasihat.


Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Al-Khoirot Malang


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar