Selasa, 17 Maret 2015

Sajak-sajak Pertaubatan Abu Nawas

Abu Nawas dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (ilustrasi).

Abu Nawas bertaubat setelah usianya makin lanjut dan mulai tampak kelemahan fisiknya. Ia mulai sadar dari mabuknya. Abu Nawas berpikir tentang arti hidup dan segala akibatnya, tentang maut dan hari kemudian.
Abu Nawas yakin betapapun manusia melakukan perbuatan dosa, pintu tobat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun.

Seorang pengarang produktif tentang kebudayaan Islam Dr. Omar Farrukh yang juga menulis biografi Abu Nawas mengatakan, mungkin juga faktor cintanya yang mendalam pada seorang wanita Bagdad, Jinan, mendorongnya segera bertaubat. 

Abu Nawas mencintainya sepenuh hati dan sering dinyatakan dalam sajak-sajaknya. Dengan segala cara penyair itu ingin mendekati Jinan, dan wanita itu pun tampaknya membalas cintanya dengan sembunyi-sembunyi.

Sajak-sajaknya yang ditulis setelah ia bertaubat memang sangat mengharukan. Ia menyesal sekali atas perbutannya yang sia-sia. Shalat lima waktu tak pernah dihiraukan.

Dan hanya kepada Allah, Yang Maha Tinggi ia berdoa memohon pengampunan, seperti yang telah diberikan kepada Nabi Yunus (al-Qalam [68]: 48; as-Saffat [37]: 142).

sumber http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/03/14/nl6j4r-sajaksajak-pertaubatan-abu-nawas

Catatan :

Abu Nawas dikenal sebagai penyair populer pada masa dinasti Abbasiyah saat pemerintahan Harun Ar-Rasyid (sekitar 806). Ayahnya hanya tentara di pemerintahan Marwan bin Muhammad dan ibunya hanya seorang pencuci kain wol. Kisahnya yang lucu dan humoris banyak digambarkan dalam kisah teladan Seribu Satu Malam. Oleh Philip F Kennedy diulas dalam Wine Song in Classical Arabic Poetry pada tahun 1997.

Makamnya hingga kini banyak diziarahi kaum muslimin di kota Baghdad dan irak. Abu Nawas yang nama lengkapnya Abu Nawas al-Hasan bin Hani al-Hakami ini, pernah belajar bahasa dan sastra Arab, hadits dan Quran di Basra melalui ulama-ulama kondang seperti Abu Zaid, Ashar bin Sa`ad as-Samman. Kemudian di Kuffah belajar pada penyair Arab, Khalaf al-Ahmar. Salah satu karyanya yang masih banyak dipakai oleh kaum muslimin sebagai renungan sekaligus iktibar liriknya sebagai berkut
Sajak Pertobatan

Tuhan, walau dosaku besar sekali
Aku tahu Kau Maha Pengampun
Kalau yang berharap padaMU
Hanya orang-orang saleh
Kepada siapakah pendosa ini berlindung…
Kalau tanganku Kau tolak
Siapa lagi yang akan mengampuni dosaku
Hanya padaMu aku berharap dan memohon
Sebab Kau maha Indah dan Maha Pengampun
Selain itu aku ini seorang muslim

Abu Nawas juga dikenal dengan julukan Penyair khamar karena puisinya yang mendeskripsikan lezatnya dan kebusukan minuman khamar dalam puisi Khumrayat. Meski sempat menjadi penyair istana, pada suatu ketika ia melantunkan puisi yang membuat murka khalifah Harun al-Rasyid karena menghina kabilah Arab Mudar yang mengakibatkannya dipenjara. Syair-syair lain yang terkenal dihimpun dalama Dewan Abu Nawas diterbitkan di Wina (1855) dan Bombay (1894). Puisi itu dihimpun dalam manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodiana dan Mosul.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar