Minggu, 29 Maret 2015

Menyiapkan Hari Esok



Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW pada permulaan siang. Lalu, ada suatu kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, membungkus diri dengan kulit macan atau sejenis mantel dengan menyandang pedang. Kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruhnya berasal dari suku Mudhar."

Maka, (raut) wajah Rasulullah pun berubah ketika melihat keadaan mereka yang demikian miskin itu. Kemudian, beliau masuk, lalu keluar lagi dan memerintahkan Bilal mengumandangkan azan. Maka, Bilal mengumandangkan azan, kemudian iqamah. Lalu, Rasulullah SAW mengerjakan shalat, setelah itu beliau berkhutbah.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,”-sampai akhir ayat-Lalu, beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan, hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Kemudian, seseorang menyedekahkan sebagian dari dinar, dirham, pakaian, satu sha' gandum, dan satu sha' kurma ….-hingga akhirnya Rasulullah SAW bersabda, "… meskipun hanya dengan satu belah kurma.” (HR Muslim).

Demikianlah yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebelum menjelaskan tentang makna atau kandungan dari surah al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap Muslim untuk menyiapkan hari esok, yang ternyata bukan soal menimbun harta, melainkan justru menyedekahkannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan.

Dengan demikian, bisa diambil pemahaman, sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan adalah cara terbaik seorang Muslim untuk benar-benar bahagia pada hari esok (dunia-akhirat). Dan, bersegera dalam sedekah, meski itu hanya satu belah kurma, sudah cukup untuk mempermudah kehidupan kita pada hari esok yang sekaligus menyolusikan kesulitan sesama.

Dengan kata lain, peka dan peduli terhadap kebutuhan sesama (dengan bersegera melakukan sedekah), utamanya mereka yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan adalah wujud nyata keimanan seorang Muslim. Bahkan, itulah manivestasi dari ketakwaan seorang Muslim.

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS al-Baqarah: 3).

Inilah salah satu perkara yang setiap Muslim harus perhatikan setiap harinya. Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal saleh untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian.”

Maka, sungguh tidak mengherankan jika sahabat-sahabat Rasulullah, seperti Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf, berlomba-lomba untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah.
Ternyata, semua itu adalah wujud kesungguhan mereka dalam mempersiapkan kebahagiaan kehidupan mereka pada hari kemudian.

Subhanallah, demikian indahnya ajaran Islam. Kebahagiaan hari esok ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas ibadah kita secara pribadi.
Tetapi, juga dipengaruhi oleh sejauh mana kepedulian kita kepada sesama yang membutuhkan. Dan, itulah tabungan masa depan yang sesungguhnya. Wallahu a'lam.




Oleh: Imam Nawawi

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/03/27/nlu3d3-menyiapkan-hari-esok

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar