Rabu, 18 Maret 2015

Akibat Ambisi Dunia



Hakikat dunia sebagai tempat sementara seharusnya membuat manusia, apalagi kaum muslimin menyadari bahwa dunia ini adalah yang oleh Rasulullah saw dikatakan sebagai tempat bercocok tanam dan panennya dalam kehidupan di akhirat nanti. Namun tetap saja begitu banyak manusia yang lupa akan hakikat dunia sehingga kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi ambisi manusia dan yang lebih tragis lagi adalah menjadi ambisi kaum muslimin yang seharusnya mengingatkan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.

Dunia seringkali dilambangkan dengan harta, tahta dan wanita. Orang yang berambisi terhadap dunia akan mencapai semua itu meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah mencari pembenaran dengan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, salah satunya adalah dengan menggunakan istilah, dalil dan kaidah agama agar sesuatu yang tidak benar yang disikapi dan dilakukannya menjadi seolah-olah benar. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengingatkan bahayanya bila seseorang berambisi kepada dunia. 

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ وَسَدَمَهُ وَلَهَا شَخَصٌ وَإِيَّاهَا يَنْوِى جَعَلَ اللهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَشَتَّتْ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْهَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ مِنْهَا

Barangsiapa yang dunia ini adalah semangat dan hasratnya, kepadanya ia memberikan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah menjadikan kefakiran dihadapan kedua matanya, dan Dia memporakporandakan segala urusannya dan tidak akan ia peroleh darinya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya darinya (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).

Di dalam hadits lain, disebutkan oleh Ibnu Abbas ra:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى مَسْجِدِ الْخَيْفِ فَحَمِدَ اللهَ وَذَكَرَهُ بِمَا هوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ فَرَّقَ الله شَمْلَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يُؤْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ

Suatu ketika Rasulullah saw berceramah kepada kami di masjid Al Khaif, beliau memulainya dengan memuji Allah dan beliau menyanjung-Nya dengan apa yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: Barangsiapa yang dunia adalah semangat (hasrat)nya, niscaya Allah mencerai beraikan kekuatannya dan menjadikan kefakirannya dihadapan kedua matanya dan Allah tidak akan memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya (HR. Thabrani).

Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang memiliki ambisi keduniaan secara berlebihan ternyata tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan ia mengalami kerugian di dunia dan akhirat yang terangkum dalam empat akibat. 


Pertama, menjadi fakir. Berapapun atau sebanyak apapun materi yang diperoleh, orang yang memiliki hasrat dunia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya itu. Orang lain melihatnya sebagai orang yang selalu kekurangan meskipun sebenarnya ia sudah punya harta yang berlimpah. Sudut pandang matanya yang merasa fakir atas harta akan membuatnya terus mencari dengan menghalalkan segala cara, merampas miliki dan hak orang lain. 

Kenyataan menunjukkan begitu banyak pengusaha yang tidak memenuhi hak-hak buruh yang dipekerjakannya, perusahaannya yang besar ternyata tidak membuatnya mau memberi gaji atau kesejahteraan yang memadai meskipun para buruh telah menuntut kesejahteraan bertahun-tahun, bahkan sampai mati ada diantara mereka yang tidak memperoleh hak-haknya. Ketika terjadi musibah, perusahaan besar seolah-olah menjadi begitu kecil karena tidak mau memberikan ganti rugi yang nilainya tidak seberapa dibanding aset perusahaan yang sedemikian banyak. 

Hasrat dunia membuat anggota DPR dan DPRD serta para pejabat di pusat dan daerah yang sudah bergaji besar serta tunjangan yang luar biasa masih saja melakukan korupsi, seperti orang yang masih kekurangan. Begitu juga dengan para padagang yang beromset besar tapi masih saja menimbun barang dan melakukan penipuan yang menyengsarakan masyarakat banyak, masyarakat yang sudah susah menjadi bertambah susah dan masih banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan betapa orang yang berambisi atas kenikmatan dunia tidak membuatnya merasa memperoleh banyak, tapi masih merasa amat sedikit meskipun sebenarnya sudah begitu banyak. 



Kedua. dari orang yang berambisi pada hal-hal yang sifatnya duniawi adalah urusannya menjadi kacau. Ketika upaya menghalalkan segala cara dilakukan untuk mendapatkan ambisi duniawi, maka dampak buruk baginya tidak bisa dicegah, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Qarun dengan kekayaannya yang banyak membuatnya berhadapan dengan azab Allah swt di dunia dengan diamblaskan diri dan hartanya ke dalam bumi, sedangkan para pedagang dibenci oleh masyarakat yang membuat harta yang diperolehnya tidak berkah dan para politisi serta pejabat tidak hanya masuk penjara dan tidak bisa dicalonkan lagi untuk priode berikutnya, tapi citra dirinya menjadi hancur sehingga ia termasuk sebagai penjahat negara dan masyarakat yang harus diwaspadai. Keinginannya membangun negeri menjadi kacau dan ambisi lainnya yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi sekalipun tidak bisa dikejarnya lagi.

Ambisi dunia tidak hanya berupa harta dan tahta, tapi juga wanita. Akibatnya ia lakukan upaya menghalalkan segala cara dengan melakukan perzinahan yang membuat karirnya terhenti dan meninggalkan citra yang sangat buruk. Ini tidak hanya terjadi di negeri kita, pada masyarakat barat yang sedemikian bebas dalam masalah seksual ternyata tidak rela bila pemimpinnya melakukan perzinahan, karena berapa banyak pemimpin yang terpaksa harus mundur atau dimundurkan dari jabatannya karena skandal seksual, ini membuat urusan yang hendak dikerjakannya menjadi kacau dan ibarat bangunan sudah porakporanda.

Ketiga yang merupakan akibat orang yang berambisi kepada dunia adalah menghilangkan kekuatan. Dalam konteks organisasi atau jamaah, ambisi keduniaan terbukti telah membuat kekuatan jamaah itu menjadi hilang, terjadi konflik yang tajam antara orang-orang yang idealis dengan nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan dengan orang yang pragmatis karena sekadar mencapai kenikmatan sesaat berupa harta, tahta dan wanita. Kekuatan pasukan kaum muslimin dalam perang Badar yang dengan mudah mengalahkan kekuatan lawan yang lebih besar ternyata hancur dengan mudah dengan korban 70 sahabat yang menjadi syahid dalam perang uhud karena harta yang diperebutkan meskipun sudah ada aturan pembagiannya yang diatur sesudah parang badar.

Dalam kehidupan sekarang, para aktivis yang ingin memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan menegakkan keadilan, baik dari kalangan Islam maupun nasionalis telah hilang kekuatannya, bahkan sudut pandang materi menjadi semakin kuat untuk meraih kemenangan. Target pencapaian keberhasilan bisa jadi hanya diawang-awang. Akibatnya, jangankan mau menambah keberhasilan, mempertahankan keberhasilan yang sudah dicapai saja menjadi sangat sulit. Konflik dengan sebab ambisi duniawi memang tidak bisa dipungkiri telah mengakibatkan hilangnya kekuatan barisan perjuangan.

Keempat sebagai akibat dari ambisi duniawi yang dilakukan manusia adalah mendapatkan harta hanya sedikit. Keinginan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau paling tidak bertahan pada kedudukan sekarang serta ingin mendapatkan harta yang banyak dan lebih banyak lagi ternyata pupus dengan sebab ambisi duniawi. Hal ini karena ambisi duniawi yang menyebabkan ia melanggar hukum membuatnya menjadi manusia yang bermasalah dari sisi hukum, akibatnya harta yang diperolehnya habis untuk membayar pengacara dan berbagai upaya melindunginya dari jeratan hukum, bahkan kenyataan menunjukkan tidak sedikit orang yang menjadi pejabat di pusat atau daerah hanya dua sampai lima tahun tapi harus masuk penjara lima sampai sepuluh tahun, bahkan lebih lama lagi.

Akibatnya harta yang didapat dan bisa dinikmatinya hanya sedikit, sesuai dengan standar yang ditetapkan, bahkan bisa jadi malah berkurang dengan sebab perkara yang dihadapinya ditambah lagi citra diri yang sudah susah untuk dikembalikan.
Apa yang dikemukakan oleh Rasulullah saw sejak lenih dari 15 abad yang lalu kita rasakan amat relevan dengan kehidupan kita sekarang dan kapanpun, karenanya berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya dalam aspek ubudiyah, tapi seluruh aspek kehidupan yang kita jalani.

Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, Aamiin Ya Rabbal Alamin

Oleh Drs. Ahmad Yani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar