Sabtu, 14 Maret 2015

Malam adalah makhluk Allah yang sangat spesial.

Saat itu malam masih tersisa. Bulan masih berenang dalam ruang semesta. Dan, bintang-gemintang masih setia bergelantungan. Dan dalam keheningannya ini, di salah satu bilik yang sangat sederhana, terdengar suara berbisik. “Wahai istriku, ikhlaskah dirimu jika malam ini aku beribadah kepada Allah?”

“Wahai suamiku, kekasih Allah. Sesungguhnya (jika menuruti kata hati) aku merasa nyaman jika selalu berada di sampingmu. Namun, aku ikhlas dengan apa yang engkau sukai. Engkau sangat gemar beribadah kepada Allah. Bagaimana mungkin aku tidak mengikhlaskanmu.” sahut Aisyah lembut.

Sejurus kemudian, pasangan suami istri agung ini berwudhu. Keduanya lalu tegak dalam kesalihan malam bak Jabal Rahmah yang memancang kuat menembus lazuardi imani. Takbirnya melesat bersama keagungan Sang Pencipta. Rapalan firman-firman-Nya bergetar bersama air mata yang memburai berharap rida Allah. Begitu juga dengan gerak rukuk dan sujudnya, lekat dalarn harmoni gerak jagad raya. Demikian ikhlas keduanya memenuhi panggilan suci untuk menjadikannya lebih mulia dalam menggapai maqamam mahmuda (tempat terhormat).

Inilah sepenggal peristiwa malam yang dikisahkan oleh Aisyah RA kepada Atha’ saat ia dan temannya bertandang ke rumah ummul mukminin. 

Cerita yang dituturkan melalui jalur Ibnu Mardawih ini merupakan satu dari sekian kisah mengesankan Rasulullah dalam upaya menghidupkan sisa-sisa malamnya.

Subhanallah, malam itu Rasulullah dan Aisyah shalat dengan cukup lama. Bahkan hingga menjelang azan Subuh. “Tak biasa Rasul datang terlambat ke masjid. Ada apakah gerangan?” tanya Bilal kepada para jamaah. Ia pun kemudian diutus menuju rumah Rasulullah.

Sesampai di rumah, didapatinya sang Nabi pembawa rahmat itu sedang dalam keadaan menangis. “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau menangis. Bukankah Allah telah mengampuni semua dosa dan kesalahanmu?” tanya Bilal heran.
“Bagaimana mungkin aku tidak menangis, wahai sahabatku. Semalam wahyu turun kepadaku, surah Ali Imran [3]: 190-191. Merugilah orang yang membaca ayat ini tapi tidak menghayati kandungannya,” jawab Rasul SAW kepada Bilal.

Subhanallah. Sebuah malam keintiman seorang hamba dengan Sang Pencipta. Kalau bukan dari golongan manusia pilihan dan bukan dari orang-orang besar, berlalunya malam mungkin hanya perjalanan sebuah waktu. Tidak lebih dari itu. Padahal, tak sedikit orang yang beribadah pada waktu malam mendapatkan keberkahan.

Berbagai peristiwa besar, juga terjadi di waktu malam. Di samping tahajud, ada nuzulul Quran, lailatul qadar, Isra Mi’raj, dan hijrah dari Makkah ke Madinah. Semua itu telah mengubah perjalanan peradaban manusia.

Malam adalah makhluk Allah yang sangat spesial. Malam bukan sebatas kumpulan waktu atau bergulirnya gerak alam. Tapi, dengan bergeraknya malam diciptakannya waktu senyap menjadi hidup. Dan alam turut berotasi dalam gerak zikir membesarkan asma-Nya.

Tampaknya malam memang diprogram untuk menerima estetika hidup yang luhur. Ingat, Allah telah bersumpah dengan makhluk-Nya yang bernama malam ini. (QS al-Lail [92]. Hal itu menggambarkan betapa eksotisnya waktu malam. Bacaan Al-Quran dan aktivitas memahami serta merenungi kehidupan, juga sangat berkesan jika dilakukan pada malam hari. (QS al-lsra [17]: 78).


Sumber: Kolom Hikmah Republika, Jum’at 9 Desember 2011
http://mimbarjumat.com/archives/1399#sthash.3O72BbNr.dpuf


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar