Jumat, 11 September 2015

Mengenal Syamsi Ali , Dai Rendah Hati Meski Kiprah Mendunia

 



Ada yang menarik dari Syamsi Ali, dai asal Bulukumba Sulawesi-Selatan meski dengan kiprah dakwah internasional yang membanggakan, namun ia tetap menunjukkan diri sebagai pribadi yang rendah hati. Ribuan non muslim telah mengucapkan syahadat lewat upayanya memperkenalkan Islam dengan cara yang moderat. Di negeri sendiri ia kurang populer, dibanding dai populer lain Indonesia yang sering tanpil di televisi. 

Jika Wikipedia Indonesia menuliskan profil Syamsi Ali tidak lebih dari tiga paragraf, tanpa foto dan tanpa referensi sama sekali (mungkin dirasa karena kurang pentingnya), Wikipedia Inggris justru menuliskan lebih detail mengenai profil Syamsi Ali yang ditelusuri dari 25 sumber rujukan.

Shamsi Ali (untuk penyebutan bahasa Inggris) adalah seorang dai muslim yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Pengaruhnya di AS bahkan disebut setara dengan Malcolm X pada 1970-an silam. Ia dinobatkan sebagai satu dari tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di AS versi New York Magazine. 

Ia terkenal karena aktif mempromosikan dialog antar agama di antara Agama-agama Ibrahimi di Amerika Serikat. Posisinya saat ini menjadi Ketua Masjid Al-Hikmah dan Direktur Jamaica Muslim Center Jamaika, Queens, New York City. 

Sebagai imam masjid Islamic Cultural Center -yang merupakan masjid terbesar dan tertua kota New York yang berpengaruh, ia mendapat julukan prestisius dari jamaahnya, Imam Besar. Media-media AS dan Barat sering menyingkat namanya menjadi Imam Ali.

Selain sebagai imam masjid, ia juga khatib hebat dipodium. Kefasihannya berbahasa Arab dan Inggris membuat ia sering diundang Voice of America (VOA) untuk diwawancarai seputar dunia Muslim. Ia juga diundang berceramah di berbagai gereja, serta synagog yang dimiliki umat Yahudi di New York. Bahkan ia memperkenalkan Islam secara langsung di hadapan Presiden AS, George W Bush, Bill Clinton dan Barack Obama. 

Kepopulerannya di AS menjadikan  namanya termasuk dalam daftar pemimpin Islam yang diundang Presiden George W Bush untuk mengunjungi Ground Zero, beberapa hari setelah tragedi yang menghancurkan WTC 2001 silam. Sejak tahun 2002, ia ditunjuk sebagai duta perdamaian atau “Ambassador of Peace” oleh International Religious Federation. Dan pada tahun 2011, ia adalah satu dari 100 orang penerima Medal of Honor Award.

Metode dakwahnya yang inklusif, toleran, ramah dan penuh persahabatan menjadikan dakwahnya disukai baik oleh muslim Indonesia di AS, maupun warga muslim asing dan AS sendiri termasuk oleh komunitas non muslim. Pelan-pelan, lewat keterbukaan dakwahnya, Islam mulai diterima di AS dan tidak lagi dipandang sebagai agama teroris pasca tragedi WTC 11 September 2011 yang menyisakan traumatik yang mendalam bagi warga AS. 

Ia menulis buku, "Menebar Damai di Bumi Barat" satu dari empat bukunya. 

Ia mengisi dialog-dialog antar agama diseantero Eropa dan Amerika. 

Ia perkenalkan Islam yang mampu hidup bersama membangun peradaban yang lebih manusiawi dengan penganut agama apapun.


Tetap Rendah Hati

Dengan popularitasnya yang mendunia, ia tetap sosok yang rendah hati, setiap pulang kampung, ia senyap dari pemberitaan, kalaupun muncul, itu karena namanya disebut sebagai pembicara sebuah seminar atau acara-acara yang membedah bukunya di kota. Itupun masih kurang populer dari Felix Siaw. Padahal di AS, Koran-koran yang memuat artikel Islamnya laku keras bak kacang goreng. Ia tidak melupakan kampung halamannya di tanah Kajang, Bulukumba, Setiap pulang, ia tetap bersedia menjadi imam masjid kampung dan berceramah dengan bahasa Bugis untuk masyarakat di tanah kelahirannya.


Ia tetaplah Utteng (nama kecilnya) yang dulu dikenali teman-teman masa kecilnya. Tidak ada kebanggaan intelektual sama sekali. Ia bisa saja menjadi sangat kaya jika mau. Tapi ia tetap hidup sederhana. Ia tidak pernah berpose menaiki motor gede, atau bercerita ke media bagaimana rasanya menunggagi Lamborgini saat diundang berceramah. Tapi dialah yang pertama bahkan satu-satunya dai Indonesia yang menyampaikan dakwah Islam secara langsung, dihadapan tiga presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, George W Bush dan Barack Obama. 

Dia dai Indonesia pertama yang muncul dan diwawancarai di sejumlah stasiun TV Internasional, di ABC, PBS, BBC World, CNN, Fox News, National Geographic, al-Jazeera, dan Hallmark Channel. Artikel-artikelnya mengenai Islam dimuat di koran-koran terkemuka Amerika. Ia didaulat sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di kota New York oleh New York Magazine pada tahun 2006. Tidak cukup dengan itu, ia termasuk dari 500 tokoh paling berpengaruh di dunia, selama 3 tahun berturut-turut, 2009-2011 oleh Universitas Georgetown.

Saat ini, tiba-tiba ia diperbincangkan di Indonesia, bukan karena semua prestasi dakwahnya itu, melainkan karena ia mendapatkan ancaman somasi dari Fadli Zon, wakil ketua DPR RI. Kritikannya terhadap kehadiran sejumlah petinggi DPR RI di konferensi pers Donal Trump yang mengkampenyakan dirinya sebagai bakal calon Presiden AS tentu sangat beralasan. Dukungan terhadap Donal Trump, berpeluang meruntuhkan dakwah Islam di AS yang selama ini dirintis dan dibangunnya. 

Donal Trump bukan saja berbisnis dibidang real state dan namun juga perjudian. Sebagai raja judi di AS, tentu akrab dengan bisnis minuman keras dan wanita penghibur. Sementara itulah yang ditentang dan dilawan  Syamsi Ali sejak memulai dakwahnya di AS tahun 1996.

Bukan hanya itu Donal Trump juga anti Islam. Ia sering mengeluarkan pernyataan yang memicu kontroversial dan menyakiti hati umat Islam. Bahkan pada tahun 2015, Trump dianugerahi "Liberty Award" pada acara "Algemeiner Jewish 100 Gala" sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi positifnya dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Israel. 

Memimpikannya menjadi Presiden AS adalah mimpi buruk bagi dakwah Islam di AS. Syamsi Ali berteriak keras di media, ia protes. Mengiyakan rakyat Indonesia menyukai Donal Trump adalah kesalahan fatal yang dapat merusak citra rakyat Indonesia dimata warga AS. Kritiknya justru disikapi negatif, ia dianggap hendak numpang tenar. Syamsi Ali mundur, ia tak mau lagi berpolemik di media. 

Menurutnya, ia telah melaksanakan kewajibannya, yaitu cukup menyampaikan. 
Ia memilih tetap melanjutkan kerja-kerja dakwahnya, meski senyap dari pemberitaan. Seperti akar, yang tersembunyi didalam tanah, namun akarlah yang membuat batang pohon bisa bertahan kokoh dan tegar dari terjangan badai. 
Ia tidak perlu numpang tenar untuk disegani dunia. 
Ia telah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia, berkat dedikasinya yang tiada habisnya memperkenalkan Islam yang moderat dan ramah kepada dunia.
Oleh :  Ismail Amin, Mahasiswa Universitas Internasional al Moustafa Qom, Republik Islam Iran

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=500780980098329&set=a.370439869799108.1073741828.100004992946940&type=1




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar