Minggu, 04 April 2010

Bersikap lembut pada istri melanggengkan perkawinan



Sikap lemah lembut dapat memelihara kebahagiaan dan menjauhkan rumah tangga dari goncangan. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw. bersabda,
”Apabila Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi penghuni rumah, ia akan menanamkan kepada mereka sikap lemah lembut.”



Salah satu ciri suami yang ideal, ia menebarkan sentuhan kasih sayang pada istri dan keluarganya. Begitu pentingnya arti kasih sayang, kelembutan dan sikap baik suami pada istri, sampai Rasulullah bersabda,”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri. Dan aku adalah sebaik-baiknya orang di antara kalian terhadap istri.”

Sebagai pemimpin yang bijak dalam keluarga, sentuhan kasih sayang suami laksana aura yang memancarkan kebahagiaan ke setiap sudut kehidupan rumah tangga. Dari kasih sayangnya, tertanam kepekaan perasaan dan kelembutan hati. Akhirnya kata2 dan tindakan suami menjadi kekuatan bagi istri saat rumah tangga dirundung cobaan.

Namun, pada sisi lain, istri juga butuh sikap tega dari suami dalam menghadapi persoalan. Di balik ketegasan suami, pihak istri merasa terlindungi. Suami yang tak bisa tegas mengurangi wibawanya di mata istri. Hanya saja, sikap tegas tidak identik dengan keras. Bersikap tegas bisa diartikan memberi teguran pada istri yang melanggar nilai2 agama. Kewajiban suami mendidik istri dalam menjalankan perintah agama.

Suami yang tegas dan berwibawa sedapat mungkin menghindari kekerasan fisik maupun lisan. Sikap keras tak lebih dari upaya menyembunyikan kelemahan diri. Suami tegas akan meletakkan sesuatu pada tempatnya, mengerti pembagian tugas dan tanggung jawab masing2.

Kepada para suami perlu disampaikan ikhwal karakter wanita dalam pandangan Rasulullah Saw. bahwa kaum hawa amat rentan dan mudah ‘bengkok’. Rasulullah bersabda,” Nasehatilah para wanita dengan baik. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sedangkan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, yang apabila engkau luruskan akan patah. Sedangkan bila engkau biarkan, akan tetap bengkok. Karena itu, nasehatilah para wanita dengan baik.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Jika suami tak menyenangi satu sifat istri, hal tsb tak bisa dijadikan alasan untuk berlaku kasar pada istrinya. Suami seyogyanya adil juga dalam melihat sifat2 lain yang baik dari istri, sehingga mencegahnya dari berlaku kasar ketika menghadapi perangai buruk istri. Sebagaimana Rasulullah bersabda,”Janganlah sekali-kali seorang mukmin lelaki benci pada istrinya yang mukminah walaupun ada perangai yang tidak ia suka, boleh jadi ia senang dengan perangai2 yang lain.”

Bagi suami yang suka berlaku kasar dan bertindak keras pada istri, simaklah sindiran dan celaan Rasulullah dalam hadisnya,”Adakah salah seorang di antara kalian memukul istri sebagaimana hamba sahaya yang dipukul, kemudian dia menyetubuhinya pada akhir hari itu pula ? “ (HR.Bukhari dan Muslim)

Sindiran Rasulullah seolah mencela suami yang tak punya rasa malu kepada Allah lantaran memukul istrinya pada siang hari laksana budak. Dan tak punya malu kepada istri, saat malam hari menidurinya.

Bila suami dengan sangat terpaksa harus menegur istri lantaran kekeliruan dan kesalahannya tak bisa ditolerir lagi, berpeganglah pada etika berikut ;

1. Jangan sampai membesar-besarkan masalah


Memberi teguran hendaknya disesuaikan dengan kekeliruan yang dilakukan. Jauhilah prasangka maupun penafsiran yang tidak pada tempatnya, karena hanya memperkeruh masalah. Ibaratnya, menggaruk gatal di tubuh yang sudah terluka.

2. Memilih situasi dan kondisi yang tepat

Jangan sekali-kali menyampaikan teguran ketika emosi tengah bergejolak. Tundalah hingga pikiran dingin dan jiwa kembali tenang.

3. Mulailah teguran dengan sindiran

Seringkali kata2 vokal dan terus terang, apalagi dengan ungkapan tak simpatik, mudah menusuk perasaan. Tidak semua orang mampu mengendalikan perasaan. Terkadang, sindiran lebih efektif untuk menegur ketimbang penyampaian terang-terangan.

4. Jangan menegur di depan orang lain.

Menegur di depan orang akan menambah malu istri. Istri bukannya menyadari dan merubah kesalahannya, justru dibuat jengkel dan sakit hati bukan kepalang. Metode teguran ini sama dengan membuka aib dan mengabaikan perasaan istri di depan orang. Masyarakat Madura biasa menyebutnya ‘menampar matahari’.

Dikisahkan Syaikh Abu Muhammad bin Abu Zaid memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu dan agama, tapi ia memiliki istri yang buruk perangainya, ketus dan tajam perkataannya. Suatu ketika, Syaikh ditanya soal perilaku buruk istrinya dan mengapa Syaikh masih sabar tak menceraikannya. Beliau menjawab,”Aku seorang lelaki yang diberi nikmat secara sempurna oleh Allah dalam hal kesehatan badan dan pengetahuan serta budak yang kumiliki. Boleh jadi, istriku diutus sebagai hukuman atas dosa2ku. Aku takut jika aku menceraikannya, akan turun hukuman yang lebih keras dari ini.”

Kata2 Syaikh yang penuh hikmah mencerminkan sikap lemah lembut dan rendah hati suami yang derajat keilmuannya amat tinggi. Mungkin, sebagian suami beranggapan kalau sikap mengalah bakal merendahkan martabatnya sebagai suami. Padahal, mengalah bagian dari wujud sikap lemah lembut seorang suami yang akan membuat rumah tangganya langgeng. ( Anggun, Agt 2005 ).

http://nanbija.wordpress.com/2009/07/22/bersikap-lembut-pada-istri-melanggengkan-perkawinan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar