Senin, 14 Juli 2014

Menang Politik dan Menang Sosial




Kemenangan politik, tak selalu diikuti kemenangan sosial. Energi untuk menang politik tak elok menepikan rasa sosial. Pascapemungutan suara 9 Juli dan penantian pengumuman hasil akhir penghitungan suara 22 Juli nanti, celah yang bisa membuat bangsa ini naik kelas atau sebaliknya. Pemicunya, elite politik yang tengah berkompetisi. Saatnya adu bijak mengelola emosi massa pendukung.

Analis politik dan politisi adu pendapat. Hati ini lalu pilu saat politik dalam negeri berhasil abaikan peristiwa kemanusiaan di Palestina. Tapi itu tak lama. Tetangga yang baik takkan diam saja tetangganya disakiti. Palestina, punya banyak tetangga yang belum bertindak signifikan atas kebiadaban yang terjadi. Meski begitu, batas bertetangga telah melesat meluas lintasi jarak nan jauh. Seantero dunia satu suara: SOS Palestina! Kami memberi kepanjangan lain: Sympathy of Solidarity, pesan persaudaraan antarmanusia, melintas batas bangsa batas agama. Untuk nestapa panjang Palestina, dan “perang” yang sungguh tak adil.

Indonesia layak bersyukur, tragedi Palestina di tengah Ramadhan, meredakan gesekan yang memanas justru setelah “perang” quick count yang amunisinya dipasok antarlembaga survei. Semua mengaku jujur meski hasilnya bertolak belakang, di saat Ramadhan. Astaghfirullahal adzim. Kedua pihak membawa pengaruh menegangkan. Lalu Israel membombardemen Palestina, negeri para Nabi. Mesin politik yang habis-habisan “melanjutkan” membangun opini meski pencoblosan usai, sadar atau tidak mereka memanaskan massa masing-masing. Bombardemen ke Palestina meredakan ketegangan sejenak. Semburat darah dan luluh lantak bangunan sipil di Gaza, menghentikan pematangan emosi di kedua kutub politik di Indonesia. Anak-anak bangsa Indonesia urung bercakar karena kepekaan nuraninya belum pudar, semua masih bisa diajak tafakur syukuri limpah nikmatNya untuk negeri ini.

Palestina tak hanya membara, sebagian besar sudah jadi puing. Tapi tidak keimanan warganya. Itu semua selalu membuat berjuta hati bergetar. Juga hati bangsa Indonesia yang sedang berpuasa. Tragedi Palestina menyiram “bara politik” di Indonesia, menyadarkan kemenangan politik harus dilambari kemenangan sosial. Elit politik dipaksa menjawab: apa wujud nyata nurani hidupmu? Semua menata langkah, berempati, bersimpati dan solider terhadap Palestina.

Takdir apapun bagi orang beriman, selalu ditangkap sebagai kebaikan. Prasangka baik orang beriman, mengalahkan penderitaan sementara di dunia yang fana. Penderitaan melahirkan kekuatan iman: fakta Palestina mengajarkan itu. Berapa banyak negeri bangsanya menjadi lembek saat kenyamanan duniawinya berlapis-lapis. Bangsa besar, bangsa yang tahan dalam gempuran derita, seperti Palestina. Apalagi, fakta menggurat sejarah Indonesia-Palestina. Betapa dekat batin kita dengan Palestina. Jarak bukan soal, kalau hati sudah bertaut.

Sejarah menunjukkan, saat Ibu Kota Indonesia pindah ke Yogyakarta karena situasi darurat perang melawan Belanda, RRI juga siaran di Jogjakarta. Tanggal 3 Oktober 1947, penyiar RRI mengatakan, Indonesia menentang pembagian Palestina antara penduduk asli Arab dan pendatang Yahudi. Usul ini sebelumnya disarankan Komisi Internasional PBB.  Hal itu dinukil  Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Drs.H. Mubarok, Msi, dalam acara pelepasan relawan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat  11 Juli lalu.

Indonesia dalam siaran resminya di RRI, menentang saran Komisi Internasional PBB untuk membagi penduduk Palestina antara penduduk asli Arab dan pendatang Yahudi. Bahkan RRI menyiarkan  kecaman pendirian Komisi Internasional PBB itu sendiri. Pembentukan komisi ini tidak berpedoman pada kenyataan di Palestina, juga tidak menghiraukan keadilan dan kebenaran. Menurut Mubarok, persoalan Palestina pada dasarnya persoalan kebenaran, keadilan, dan kemerdekaan. “Palestina harus mendapatkan keadilan, mencapai kemerdekaan penuh dan memperoleh hak-haknya,” kata Mubarok.

Indonesia-Palestina sama-sama saling menyokong dalam kemerdekaan. Mubarok memaparkan, Indonesia menjelang kemerdekaan berada di bawah penjajahan Jepang seumur jagung, sebelumnya dalam waktu yang cukup panjang berada di bawah penjajahan Belanda. Palestina pasca perang dunia pertama berada sebagai protektorat Inggris atau berada dijajah Inggris.

Pada langkah perjuangan itu, Palestina terbentur kemerdekaannya dengan pendudukan pihak Israel yang mendapat dukungan Barat, khususnya Inggris. Namun, selama perjuangannya, Palestina yang ketika itu penduduk bangsa Arab, selalu mengecam agresi yang dilakukan Belanda, seperti ketika agresi militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947.

Pascaagresi militer Belanda kedua 19 Desember 1948, seorang pemimpin Palestina yang mencintai Indonesia, Syekh Muhammad Ali Thohir mengadakan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia,  Muhammad Zain Hasan. Zain saat itu Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah yang berkedudukan di Kairo, Mesir.

Syekh Muhammad Ali Tohir mengajak Muhammad Zain Hasan ke Bank of Arabia. Tokoh Palestina ini menarik semua tabungannya di bank itu dan menyerahkannya kepada ketua pembela kemerdekaan Indonesia tersebut. Syekh Palestina ini mengatakan,”Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.”

Sebuah kisah indah yang pantang dihapuskan. Kita bangsa tahu diri, sekaligus punya rasa kemanusiaan tinggi. Maka perhelatan demokrasi yang nyaris membenturkan dua kutub perbedaan keberpihakan, bersatu membela Palestina.  Ini kemenangan sosial, hal yang melampaui kemenangan politik semata. Saatnya, akhiri kebohongan untuk kemenangan politik, kalahkan dengan keluhuran budi dan kejujuran. Apalagi kita yang sudah dibantu Palestina sudah merdeka bahkan sudah tujuh kali memilih presiden, sementara Palestina masih berdarah-darah di penjara terbesar bernama Gaza!

Hidupkan nurani, agar bangsa (dengan umat Islam) yang besar ini tidak selalu menjadi objek politik semata. Menjadi manusiawi, mengalahkan agitasi dan akal-bulus politik. Kemanusiaan membentengi nurani dari kecurangan.  Menangkan Ramadhan dengan amal terbaik kita. 




Oleh: Ahyudin (Presiden Aksi Cepat Tanggap/ACT)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar