Rabu, 23 Juli 2014

Renungan Ulang Tahun




 “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran ” ( QS. Al-‘Ashr: 1-4)

“Selamat ulang tahun semoga panjang umur ….”, ucapan ini sering kita dengar dan sering kita terima terutama pada saat bertepatan dengan hari kelahiran kita. Umur kita milik Allah dan ketentuan sampai kapan hak pakai terhadap umur kita hanya Allah Yang Maha mengetahui.

Hari kelahiran atau yang sering disebut hari ulang tahun, sesungguhnya adalah perhitungan waktu setahun kita menjauh dari batas awal kelahiran kita, dan perhitungan setahun kita mendekat pada batas akhir umur yang disediakan Allah untuk kita: KEMATIAN.

Umur kita sudah ditentukan Allah. “Semoga panjang umur”, hakekatnya bukan umur kita bertambah setahun, lima tahun, sepuluh tahun dan seterusnya, karena batas waktu umur kita sudah tertulis di Lauh Mahfuz. Panjang umur yang sesungguhnya adalah pemanfaatan waktu dalam ketaatan kita kepada Sang Pemilik waktu yaitu Allah SWT, pemanfaatan waktu untuk mengumpulkan bekal kembali kita menghadap Sang Pencipta.

Perayaan ulang tahun sering dirayakan dengan acara pesta gemerlap, padahal secara tidak sadar kita telah merayakan berkurangnya jatah waktu kita. Tetapi marilah ulang tahun kita jadikan sebagai moment perenungan atas sisa waktu yang kita miliki, moment sebagai introspeksi diri, muhasabah dengan apa yang sudah pernah kita perbuat, serta ber-istighfar atas dosa dan kesalahan kita.

Mari di sisa usia ini benar-benar kita pacu untuk sesuatu yang bermanfaat. Waktu berpacu dan tak sedetikpun bisa terhenti oleh keinginan kita. Kalau kita menengok ke belakang, misal usia kita sekarang 25 tahun, alangkah singkatnya kenangan 25 tahun itu. Bila kita ulas balik dari baligh hingga 25 tahun, tidak membutuhkan waktu hingga satu jam, sungguh pastilah banyak penyesalan-penyesalan yang muncul dari perjalanan hidup kita.

Rasanya kalau bisa, kita ingin mengulang merapikan kehidupan kita yang telah lalu. Inilah bentuk penyesalan itu. Perbaikan masa lalu bisa kita aplikasikan dengan perbaikan masa kini dan masa depan kita. Segala macam keburukan, dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan di masa lalu, kita redam sekuat tenaga untuk tidak muncul dan terulang kembali, sebagai bukti kesungguhan taubatan nasuha kita. Perbanyak istighfar  untuk meredamnya, serta selalu dzikrullah untuk mengisi sisa waktu kita.

Tidak ada yang tahu berapa banyak sisa waktu yang kita miliki. Mungkin saat ini kita sudah lalui setengah waktu, atau mungkin kita sudah di penghujung waktu yang kita miliki. Allahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui, Yang Menggenggam waktu kita.

Demi Allah, setiap detik waktu pasti akan dipertanggungjawabkan. Dan sangatlah tepat moment ulang tahun adalah moment introspeksi, moment perenungan untuk menganalisa pemanfaatan waktu kita. Muhasabah setiap waktu.

Melihat dan mengaku kekurangan diri sendiri sangatlah berat. Kecenderungan kita lebih mudah melihat dan mencela kelemahan orang lain. Setiap manusia pastilah punya aib, bersyukur kita Allah masih menutupi aib kita. Mari hindarkan waktu kita yang sedikit ini untuk mencela dan mencari keburukan orang lain.

Mari kita isi waktu untuk memperbaiki diri sebagai bentuk muhasabah diri. Orang yang kita gunjing mungkin orang yang sepertiga malamnya terbangun mengirimkan doa untuk kita. Bayangkan alangkah malunya kita nanti apabila peradilan itu dibuka. Nauzdubillah! Semoga kita menjadi hamba Allah yang saling mencintai karena Allah.

Sekali lagi marilah moment Ulang Tahun kita jadikan saat terkhusuk untuk introspeksi dan muhasabah diri. Semoga kita menjadi hamba Allah yang bisa memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk meraih kebahagiaan waktu yang kekal kelak. Aamiin Allahumma Aamiin.






http://alveesyukri.wordpress.com/2013/11/27/renungan-ulang-tahun/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar