Senin, 14 Juli 2014

Sabar: Belajar Menerima dan Memahami, Makna Sebuah Ujian


by Herawati Suryanegara

Kehidupan yang kita lalui  tak selalu menyenangkan, sering kita merasa berputus asa dalam menyikapi ujian hidup yang  datang bertubi – tubi. Manusia sering menganggap bentuk ujian hidup hanyalah berupa penderita dan kesedihan belaka. Padahal kecukupan dan kebahagiaanpun adalah wujud dari sebuah ujian . namun kita sering lupa menganggap semua kesenangan itu sebagai ujian.

Ujian yang berupa kebahagiaan sering membuat kita lupa untuk bersyukur kepada Sang Maha Pemberi Nikmat yaitu Allah SWT dan kita sering sekali tidak menginginkan ujian yang berupa kesenangan dan kebahagiaan itu cepat berlalu.
Sangat berbeda dengan saat  dimana kita menghadapi  ujian  yang berupa kesedihan ,kekecewaan, sakit, merasa serba kekurangan  atau tertimpa suatu bencana , kita menginginkan semuanya cepat berlalu. Disaat – saat tersebutlah baru kita teringat kepada Allah SWT. Kita mengetuk pintuNya sdi  malam buta, menangis dan mengadukan nasib yang menimpa.

Salahkah….?

Tentu tidak!

Allah SWT senang dengan hamba yang kembali padaNya. Allah SWT senang melihat hambaNya yang mengetuk pintuNya ditengah malam buta, Allah SWT senang melihat hambaNya berdoa  dan menangis mengharap pertolonganNya. Allah SWT senang dengan hambaNya yang mendekat dan mengingatNya. Allah SWT senang dengan hamba yang tidak menggantungkan hidupnya kepada sesama makhluk. Allah SWT senang dengan prasangka baik dari hambaNya.

Dalam  sebua hadist Qudsi  Allah SWT berfirman  :
“ Aku akan berada disamping persangkaan hamba Ku kepada Ku. Jika dia ingat kepada Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri Ku. Jika dia ingat kepada Ku dalam kerumunan yang ramai, maka Aku ingat kepadanya dalam kerumunan yang lebih baik daripada kerumunan mereka. Jika dia mendekat kepada Ku satu jengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu lengan. Jika dia mendekat kepada Ku satu lengan , maka Aku mendekat kepadanya satu depa. Jika dia mendekat Ku dengan berjalan, maka Aku mendekat kepadanya dengan berlari “  (HR. Abu Hurairah)

Dengan demikian , hamba yang tengah galau dilanda duka cita janganlah  berputus asa lalu bunuh diri atau mencari – cari kesalahan orang lain dan melampiaskannya dalam kemarahan yang luar biasa atau mencari penolong kepada selain Allah SWT mis. melalui perdukunan . Sama sekali tidak menyelesaikan masalah bahkan menambah panjang permasalahan .

Tidak mudah memang untuk  mampu bersikap sabar dan ikhlas, Penulispun demikian. Namun kita harus belajar dan terus belajar. Kita harus melatih diri kita untuk siap sedia menerima apapun cobaan yang diberikan Allah, baik berupa duka cita maupun senang dan bahagia. Bagaimana seseorang dapat dikatakan sabar bila tidak diuji terlebih  dahulu .

Allah SWT telah berfirman :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)

Dan satu hal penting yang harus selalu kita ingat, disaat mendapat ujian seberat apapun kita harus percaya diri bahwa kita akan mampu menyelesaikan persoalan – persoalan tersebut dengan baik karena Allah SWT berfirman :
“Allah SWT tidak akan memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya” (Qs Al Baqarah :286)

Maka yakinlah, bahwa semua cobaan pahit dalam kehidupan tidak mungkin Allah SWT ujikan bila kita dianggapNya tidak mampu untuk melaluinya. Allah SWT tidak bermain – main dalam hal penciptaan apapun. Allah SWT sangat memahami dan tahu akan kekuatan dan kemampuan hambaNya. Allah SWT tidak asal memilih seorang hambanya untuk diuji. Berat  ringannya suatu ujian  yang diujikan Allah SWT kepada hambaNya telah Allah SWT tetapkan dengan pengetahuanNya.

Hikmah dibalik sikap sabar kita dalam menghadapi ujian  diantaranya adalah seperti apa yang disabdakan Rasullah saw  :
Dari Abu Said dan Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda,
“Tiadalah seorang Muslim itu menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan (kerisauan hati) hingga tertusuk duri melainkan semua itu akan menjadi penebus kesalahan-kesalahannya.” ( HR Bukhari - Muslim) 

Akhir kata, penulis memaparkan ini sekedar untuk sharing dan berdasarkan pengalaman hidup yang pernah penulis lalui sendiri. Disaat keputus asaan mendera dan persoalan hidup datang bertubi – tubuh, penulis  dapat bangkit dengan mengkaji  dan mencoba memperbaiki  diri serta memandang persoalan – persoalan bukan dengan  kesempitan fikir dan keterbatasan akal  serta usaha saja . Melainkan adanya keyakinan diri bahwa Allah SWT tidak akan pernah membiarkan umatnya  tenggelam dalam duka selamanya . karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan dan Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi kita untuk kehidupan kita nanti.

“ Hai hamba – hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang – orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah SWT itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang – orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS Az Zummzr 10 )

Semoga kita semua menjadi hamba yang dicintaiNya… amin..



http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/20/sabar-belajar-menerima-dan-memahami-makna-sebuah-ujian-471188.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar