Sabtu, 05 Juli 2014

Semangat Ramadhan





Allah swt. menurunkan Al Qur’an untuk menjadi pedoman agar manusia dapat meniti jalan menuju fitrahnya dan tetap komitmen dengan kemanusiaannya. Yaitu manusia yang saling mencintai karena Allah, saling memperbaiki menuju keimanan sejati, saling tolong menolong menuju peradaban yang kokoh, saling membantu dalam kebaikan bukan saling membantu dalam dosa dan kemungkaran. Allah mengutus nabi-nabi sepanjang sejarah sebagai contoh terbaik bagaimana menjalankan misi ubudiyah kepada-Nya (wa ma khalaqtu aljinna wal insa illa li ya’buduni) dan khilafah di muka bumi ini (inni ja’ilun fil ardhi khalifah). Tidak ada keselamatan kecuali menapaki jejak para Nabi. Dan tidak ada keberkahan kecuali bersungguh-sungguh menjalankan ibadah seperti yang para Nabi ajarkan. Itulah tuntunan fitrah. Bahwa setiap manusia tidak akan bisa kembali ke titik fitrahnya tanpa mengikuti ajaran yang disampaikan para Nabi.

Pada bulan Ramadhan, kita selaku hamba Allah mendapatkan kemerdekaan hakiki yang merupakan inti pokok dari fitrah kemanusiaan kita.

Puasa telah mengajarkan kepada kita untuk zuhud terhadap dunia.
Artinya puasa Ramadhan harus berhasil mengantarkan hamba Allah untuk memerdekakan nafsunya dari perasaan cinta dunia (hubbud dunya)! Selama sebulan penuh hamba Allah terdidik dan terbina untuk menjauhi segala kesenangan duniawi yang dihalalkan Rabb-Nya. Mereka tinggalkan makan, minum, dan berhubungan suami-istri hanya untuk mendapat ridha Allah dengan tujuan dapat menjauhi semua larangan Allah.

Orang yang lulus dari madrasah ramadhan sejatinya memandang dunia ini hina, karena ia menyadari betapa dunia hanyalah tempat persinggahan dan ladang untuk menanam amal saleh menuju kehidupan abadi di akhirat. Orang yang berpuasa sadar bahwa kehidupan dunia sementara dan tidak tertipu oleh kilauan dan gemerlap dunia.

Puasa itu adalah pelajaran ketakwaan yang sesungguhnya. Artinya, puasa mendidik kita untuk memerdekakan nafsu agar takut dan taat hanya kepada Allah, bukan makhluk! Semua amaliahnya dikerjakan dengan ikhlas karena Allah, bukan untuk dipuji makhluk. Ringkasnya puasa ramadhan telah menciptakan “Kesalehan Pribadi” yang tiada bandingannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal anak-anak Adam adalah kembali untuk dirinya sendiri, kecuali puasa dikarena ia dilakukan hanya untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya!” (HR. Muttafaq ‘Alayhi)

Puasa ramadhan memerdekakan jiwa hamba Allah dari sifat bakhil dan serakah. Hal ini dibuktikan dengan dorongan jiwa yang berangkat dari keyakinan ajaran Rasulullah SAW yang mendorong umat untuk berbagi dengan sesama hamba yang tidak mampu secara ekonomi. Di bulan ramadhan itulah, Rasulullah SAW menunjukkan kedermawanannya yang luar biasa melebihi zakat (mal dan fitrah), sedekah, infak dan amal filantropis yang dikeluarkan pada bulan selain ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah RA. Artinya puasa ramadhan juga sukses mengantarkan hamba Allah agar memiliki “Kesalehan Sosial” dengan sikap kedermawanan dan saling berbagi rizki kepada sesama.
Kita tak hanya memerdekakan diri kita dari sifat bakhil dan zalim, tetapi juga sekaligus memerdekakan kaum dhuafa dan fakir miskin dari belenggu ekonomi yang melilit mereka..!

Puasa itu dengan akhlak Muraqabatullah (perasaan diawasi Allah) yang melekat dalam dirinya, sanggup memerdekakan jiwa dari nafsu untuk lacur, curang, korup dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Sikap-sikap tercela itulah yang selama ini telah membelenggu bangsa kita yang dikenal dengan indeks korupsi dan penegakan hukum yang lemah dan tak kunjung membaik. Puasa ramadhan sudah seharusnya kita jadikan sarana dan alat yang efektif untuk menekan nafsu dan syahwat kerusakan etika politik dan hukum dengan mewujudkan “Kesalehan Publik”.

Firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah : 188) sebagai sinyal kuat agar ibadah puasa dapat mewujudkan Kesalehan Publik, dan tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi saja.

Allah SWT memilih bulan Ramadhan sebagai titik tolak turunnya petunjuk Allah bagi seluruh manusia yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Rabbul ‘Alamin untuk memerdekakan manusia dari hukum dan sistem nilai buatan manusia yang zalim, dan mengarahkan mereka untuk tunduk kepada hukum dan system nilai Ilahi yang adil.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar