Jumat, 18 Juli 2014

Perhatian Islam Terhadap Akhlak



Sejarah membuktikan, kebahagiaan menjalankan syariat Islam hanya dapat diperoleh dengan terwujudnya akhlak yang baik.

Keterputusan hubungan antara pelaksanaan syariah dengan akhlak atau sebaliknya, merupakan hal yang dapat menghancurkan jiwa dan kehidupan manusia.

Akhlak yang dituntut untuk dipelihara adalah akhlak yang merupakan pilar agama di sisi Allah. Jadi, bukan sekedar mengetahui bahwa kebenaran adalah mulia dan kebohongan adalah hina, keikhlasan adalah sesuatu yang agung dan tipu daya adalah suatu kehancuran. Juga bukan sekedar teori atau obrolan antarmanusia.

Akhlak yang dituntut adalah reaksi jiwa dan pengaruhnya terhadap jiwa itu sendiri. Yakni, segala sesuatu yang sepatutnya dilakukan, maka dilakukannya, dan segala sesuatu yang tidak pantas dikerjakan, maka ditinggalkannya. Jadi, akhlak dalam pengertian ini adalah benteng bagi pelaksanaan seluruh syariat Islam.

Karena itu, Islam sangat mementingkan akhlak, sehingga Rasulullah SAW menjadikan akhlak sebagai pokok risalahnya, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).

“Sesuatu yang paling berat dalam timbangan pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. At-Turmudzi).

Untuk membentuk akhlak mulia dalam bentuk lahiriyah, hendaknya dimulai dari pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), sehingga hasilnya akan kekal.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Apabila gumpalan darah itu baik, maka akan menjadi baiklah seluruh tubuh, tetapi jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa ia adalah hati.” (HR. Muslim).
 

Pilar-Pilar Akhlak Mulia

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Madarij mengatakan, akhlak mulia berdiri di atas empat pilar utama yang saling mendukung antara satu dan yang lain. Empat pilar itu adalah kesabaran, keberanian, keadilan dan kesucian.

Sifat sabar akan membantu seseorang untuk lebih tahan banting, mampu menahan amarah, tidak merugikan orang lain, bersikap lembah-lembut, dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.

Sifat selalu menjaga kesucian diri dapat mendorong seseorang untuk tidak tergelincir ke dalam perkataan dan tindakan yang merendahkan dan menjatuhkan martabatnya. Selain itu, dapat mendorongnya untuk selalu lekat pada perasaan malu yang merupakan kunci segala kebaikan. Sifat menjaga kesucian ini juga menghindarkannya untuk terlibat dalam perbuatan keji, kikir, dusta, menggunjing, dan mengadu domba.

Sifat berani menjadikan seseorang kuat untuk menjaga harga diri, mudah untuk membumikan norma dan akhlak mulia, serta ringan tangan. Dengan begitu, ia tidak ragu mengeluarkan atau berpisah dengan harta yang dicintainya.

Sifat ini juga mempermudah untuk menahan amarah dan bersikap santun. Dengan modal keberanian, seseorang dapat menggenggam erat ketegasan jiwanya serta mengekangnya dengan tali baja yang tak mudah putus.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW  bersabda, “Keberanian bukanlah seperti ditunjukkan dalam bergulat, melaikan dalam menguasai jiwa ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, hakikat keberanian seseorang adalah kemampuan  untuk melawan musuh besarnya, yaitu hawa nafsu.

Sifat adil dapat mengasah sikap seseorang untuk terus berupaya meluruskan perangainya, membantunya memilah antara bersikap terlalu berlebihan dan bersikap terlalu kurang. Sifat ini mendorong untuk terus bersikap dermawan dan murah hati; sikap tengah-tengah antara kikir dan boros.

Selain itu, sifat ini dapat menyuntikkan sifat pemberani; sikap tengah-tengah antara pengecut dan nekat. Adil juga dapat melahirkan sifat santun; penengah antara sifat pemarah dan rendah diri.
 

Anjuran-Anjuran Rasulullah

Berikut ini anjuran-anjuran Rasulullah SAW yang mendorong umatnya untuk berakhlak mulia:

Abu Dzar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada. Iringilah kesalahan kamu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskan perbuatan buruk tersebut. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Abu Darda RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesuatu yang paling berat dalam neraca adalah akhlak mulia." (HR. Ahmad).

Rasulullah SAW bersabda, "Hal yang paling berat dalam neraca amal seorang mukmin adalah akhlak mulia. Sungguh, Allah membenci orang yang keji." (HR. Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Usama bin Syarik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah orang-orang yang berakhlak mulia." (HR. Hakim dan Thabrani).

Nabi SAW juga bersabda, "Berpegang teguhlah (pada agama Allah) dan perbaikilah akhlak terhadap manusia." (HR Ibnu Hibban dan Thabrani).

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang berakhlak mulia." (HR. Bukhari-Muslim).

Beliau juga bersabda, "Allah benar-benar Maha Indah dan menyukai keindahan, menyukai akhlak mulia, dan membenci akhlak tercela." (HR. Thabrani).

Usamah bin Syarik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya manusia tidak pernah dikaruniai sesuatu yang lebih baik daripada akhlak mulia." (HR. Hakim dan Thabrani).

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa saat ditanya hal apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, Rasulullah SAW menjawab, "Takwa kepada Allah dan akhlak mulia."

Rasulullah SAW juga bersabda, "Sungguh yang paling kucintai dari kalian adalah orang yang berakhlak paling mulia..." (HR. Thabrani)

Gambaran Akhlak Rasulullah

Jika ingin mengetahui kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, kita perlu menyelami seluruh sisi kehidupan beliau. Hal ini perlu dilakukan karena memang seluruh kehidupan Rasulullah SAW dipenuhi akhlak mulia.

Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa ketika para sahabat sedang berada di dalam masjid bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seorang Badui datang lalu kencing di dalam masjid.

Para sahabat spontan menghardik Badui itu dan hendak mengusirnya. Namun, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menghentikannya (Badui itu dari kencingnya). Biarkanlah dia!"

Para sahabat pun membiarkannya hingga ia selesai kencing. Setelah itu, Rasulullah SAW menasihati si Badui agar jangan lagi kencing di masjid, kemudian meminta sahabat mengambil seember air, Rasulullah pun menyiram bekas air kencing itu. (HR Muslim).

Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berkata dan berbuat keji atau berpura-pura berbuat keji untuk membuat orang lain tertawa. (HR Bukhari-Muslim).

Anas juga berkata, "Selama aku berkhidmat kepada Rasulullah selama sepuluh tahun, aku tidak pernah mendengar beliau berkata "Ah". Beliau juga tidak pernah mempertanyakan apa yang aku kerjakan, tidak pernah mengatakan kenapa kamu tidak begini, kenapa tidak begitu." (HR Bukhari-Muslim).

Aisya RA menuturkan, Rasulullah tidak pernah tidak pernah membalas perlakuan orang lain demi memuaskan diri. "Namun, jika perlakuan itu merusak peraturan Allah, beliau akan membalasnya (menegakkan hukum baginya) demi agama Allah semata," kata Aisyah.

Suatu ketika Rasulullah dan Anas berjalan bersama. Saat itu beliau mengenakan selendang besar dari Najran. Tiba-tiba seorang Badui mendekati mereka dan menarik selendang beliau itu dengan keras. Pundak Rasulullah sedikit berbekas akibat tarikan itu.

Badui itu lalu berkata, "Wahai Muhammad, berikanlah harta Allah yang tengah ada padamu ini!"

Nabi SAW pun menengok kepadanya dan tersenyum. Beliau kemudian memerintahkan Anas untuk memberikan selendang tersebut kepadanya. (HR Bukhari-Muslim).

Begitulah sebagian kecil akhlak Rasulullah SAW. Marilah bersama-sama kita terapkan dan jadikan panutan. Sungguh, Allah SWT telah berfirman, "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21).

Akhlak Nabi adalah Alquran

Jiwa Rasulullah SAW merangkum banyak akhlak mulia, seperti sifat malu, mulia, berani, menetapi janji, ringan tangan, cerdas, ramah, sabar, memuliakan anak yatim, berperangai baik, jujur, pandai menjaga diri, senang menyucikan diri, dan berjiwa bersih.

Ibnu Qayyim menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat luhur. Takwa kepada Allah SWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk Allah SWT. Jadi, takwa kepada Allah SWT akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya dan akhlak mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim).

Sungguh, jawaban Aisyah ini singkat, namun sarat makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat, akhlak Nabi SAW adalah Alquran.

Allah SWT berfirman, "...Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus..." (QS. Al-Israa': 9).

"(Yang) memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus..." (QS. Al-Jinn: 2).

Akhlak beliau adalah Alquran; kitab suci umat yang disifati dengan firman Allah, "...tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2).

Pada masa permulaan dakwah Islam, Nabi Muhammad SAW tidak hanya membangun sisi tauhid, tetapi juga membangun sendi dan pilar akhlak mulia. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." (HR. Baihaqi dan Al-Hakim).

Anas RA berkata, "Sungguh, Rasulullah SAW benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia. (HR Bukhari-Muslim).

Anas juga berkata, "Selama sepuluh tahun aku berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), aku tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata "Ah", sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, 'Kenapa kamu mengerjakan ini? atau 'Bukankah seharusnya kamu mengerjakan seperti ini?" (HR Bukhari-Muslim).

Klasifikasi Akhlak Mulia

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, seorang ulama membagi akhlak mulia dalam dua klasifikasi; akhlak mulia kepada Allah SWT dan akhlak mulia kepada para makhluk-Nya.

Akhlak mulia kepada Allah bermakna meyakini segala sesuatu yang berasal dari diri kita pasti pmemungkinkan terjadinya kesalahan sehingga kita perlu memohon ampunan. Adapun segala sesuatu yang berasal dari Allah SWT patut disyukuri. Jadi, kita harus senantiasa bersyukur, memohon ampunan-Nya, mendekat kepada-Nya, serta berusaha menelaah dan mengintrospeksi diri.

Akhlak mulia kepada makhluk terangkum dalam dua hal, yaitu banyak mengulurkan tangan untuk amal kebajikan serta menahan diri dari perkataan dan perbuatan tercela. Kedua hal ini mudah dilakukan jika memiliki lima syarat, yaitu ilmu, kemurahan hati, kesabaran, keseharan jasmani, dan pemahaman yang benar tentang Islam.

Dengan ilmu seseorang dapat mengenal dan mengetahui akhlak mulia dan akhlak tercela. Kesederhanaan adalah sikap kemudahan memberikan sesuatu kepada orang lain sehingga menjadikan nafsunya bersedia mengikuti kata hati yang baik.

Sabar merupakan sifat yang sangat penting karena jika seorang hamba tidak dapat bersabar atas apa yang menimpa dirinya, ia tidak akan berhasil mencapai derajat luhur. Fisik yang sehat dibutuhkan karena Allah telah menciptakan manusia dengan karakteristik mudah mencerna dan cepat meresap nilan-nilai kebajikan.

Memahami Islam dengan baik juga dibutuhkan karena hal itu merupakan dasar untuk melakukan sifat-sifat mulia. Dengan begitu, tindakan yang didasarkan pada akhlak mulai dapat "diakui" oleh sang Pencipta. Semakin kuat dan mantap keyakinan seseorang bahwa kelak akan memperoleh pahala yang pasti diterimanya, semakin mudah pula ia melewati latihan berakhlak mulai. Di samping itu, ia semakin mudah menikmati ketenteraman hati.

Source :


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar