Senin, 21 Juli 2014

Pertanyaan Kita...



Bagi bangsa Indonesia, Ramadhan tahun ini menjadi bulan yang sangat bersejarah. Sebab, umat Islam di Indonesia kembali akan mengetahui pemenang pemilihan Presiden di tengah-tengah ibadah puasa, dan Peristiwa ini mengingatkan umat Islam mengenai pentingnya Ramadhan sebagai starting point menuju menuju masa-masa perubahan.

Bagi pemimpin, pejabat dan pebisnis di negeri ini, puasa harusnya bisa menjadi ajang introspeksi untuk mengukur tingkat pengabdian terhadap bangsa dan negara. Benarkah selama ini telah berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan rakyat?

Ramadhan, sejatinya adalah perjuangan bagi umat Islam untuk mendapat predikat muttaqin (orang yang bertakwa, saleh secara ritual) (QS Al-Baqarah: 183). Ramadhan juga menjadi ujian untuk mencetak umat yang memiliki kesalehan sosial (dimensi sosial). Sebab, selain bersifat vertikal (hablun minallah), puasa juga bersifat horizontal (hablun minannas).

Keberhasilan menjalankan ibadah puasa tidak hanya dilihat dari kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi juga dari sisi kepekaan dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, puasa menjadi instrumen muhasabah, introspeksi, dan ajang perenungan nasib sesama yang diikuti perbuatan nyata lewat sedekah, infak, maupun zakat.

Kini, secara perlahan, Ramadhan yang agung 6 hari lagi akan meninggalkan kita. Tinggal menghitung hari, kita akan menyelesaikan ibadah puasa dan setelah itu berlebaran.

Kemudian muncul pertanyaan, apa yang telah kita dapatkan selama bulan penuh rahmat dan ampunan ini?
Apakah ada sesuatu yang baru dapat kita petik dari hikmah puasa yang bakal kita terapkan dalam kehidupan kita setelah Ramadhan?
Apakah puasa kita kali ini tidak jauh beda dengan puasa-puasa sebelumnya?
Berbagai pertanyaan itu patut kita sampaikan dalam rangka merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan selama menjalankan ibadah Ramadhan. 

Banyak yang mengatakan, kecenderungan kita lebih banyak melaksanakan ibadah puasa sebagai ritual rutin karena bulan Ramadhan akan selalu ditemui setiap tahun. 

Banyak orang berpuasa karena memang waktunya berpuasa. Kita berpuasa malah karena kebanyakan orang berpuasa. Artinya, puasa tidak lebih karena mengikuti tradisi.

Tentu saja kita semua tidak mau dituduh berpuasa karena mengikuti tradisi. Bagaimanapun, ada juga dalih bahwa kita berpuasa karena benar-benar mau mengikuti ajaran agama.

Ada yang ingin kita kejar yaitu kesucian diri dan kemenangan.
Ada yang ingin kita incar, yaitu menjadi manusia ikhlas, zuhud, dan istikamah dalam merangkai ketakwaan. Dalam takwa, ada keseriusan dan ketaatan. Berarti Ramadhan menempa kita untuk menjadi manusia yang serius dalam ketaatan kepada-Nya 

Kita tegakkan yang wajib, bahkan ditambah dengan yang sunah, tangan kita terbuka dan membentang sedekah, yang semua itu harus dikendarai dengan penuh keikhlasan dan kezuhudan sehingga akan mudah sampai pada terminal ridha dan surga-Nya.... In Syaa Allah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar