Minggu, 20 Juli 2014

Sedekah Terbaik





Sedekah merupakan amalan sunah yang sangat umum di kalangan umat Islam. Apalagi, pada bulan suci Ramadhan.

Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, kala Ramadhan, Rasulullah SAW lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.

Bahkan, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad ada tambahan, “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.” Artinya, Rasulullah SAW adalah ahli sedekah.

Dan, jika kita perhatikan, ternyata di dalam Alquran, Allah SWT berulang kali memberikan penekanan khusus terkait amal yang bisa memberikan kebahagiaan pada sesama ini.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS [63]: 10).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya tidak berlebih-lebihan dalam soal harta (sehingga menjadi kikir), yang akan menjadikannya menyesal di hadapan Allah.

Sementara itu pada ayat lain, Allah SWT memberikan perintah khusus kepada orang beriman, sebagaimana khsusunya perintah berpuasa ini. “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafaat.” (QS [2]: 254).

Dengan demikian dapat dipahami, meskipun sedekah merupakan amalan sunah, pada hakikatnya sedekah merupakan perisai bagi umat Islam untuk menolak segala macam keburukan di dunia dan akhirat.

Dari sini dapat ditemukan alasan logis mengapa kala Ramadhan Rasulullah SAW lebih dermawan dibandingkan dengan angin yang berhembus.

Ternyata, sedekah sangat efektif untuk menyelamatkan masa depan kita yang sesungguhnya, yakni kelak pada hari akhir kala berjumpa dengan Allah SWT.

Jadi, sangat pantas jika suatu ketika ada seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW, lantas bertanya tentang sedekah terbaik (yang paling besar pahalanya).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mengatakan, “Datang seorang laki-laki dan berkata kepada Nabi, Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama (terbaik)?

Nabi SAW bersabda, “Engkau bersedekah dan engkau dalam keadaan sehat dan sangat menginginkan, engkau takut kefakiran dan menginginkan kekayaan, dan janganlah engkau lalai. Hingga apabila (napas) telah sampai di kerongkongan, engkau berkata: Untuk fulan sekian dan untuk Fulan sekian, dan telah menjadi milik Fulan!” (HR Bukhari).

Artinya, sedekah yang paling utama itu ialah ketika kita dalam kondisi sangat berhajat terhadap harta, lantas kita merelakannya untuk orang lain demi membantu sesama atau tegaknya agama Allah.

Terhadap siapa saja umat Islam yang mampu melakukan hal tersebut maka insya Allah baginya surga seluas langit dan bumi (QS [3]: 133-134).

Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya berkeluh kesah meskipun dalam kesempitan. Sebab, sedekah dalam kesempitan adalah sebaik-baik sedekah.


Oleh: Imam Nawawi
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/07/21/n90xoj-sedekah-terbaik


Catatan:

 

Bersedekah tak terbatas jumlahnya, walau sedikit sekalipun.

Kekuatan sedekah sangat dahsyat. Ibadah ringan ini sekilas memang sederhana dan mungkin sepele di mata orang. Tetapi, sentuhan sedekah begitu menakjubkan. Sedekah, seperti penegasan Umar bin Khatab, akan menghapuskan dosa kecil yang dilakukan. Aktivitas berbagi ini pula pahalanya akan dilipatgandakan. Ini seperti yang ditegaskan di surah al-Baqarah ayat 261.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS al-Baqarah [2]: 261).

Dan, ingatlah sedekah pada hakikatnya tidak akan mengikis kekayaan. Malah tiap harinya, sebagaimana penegasan hadis Abu Hurairah Hurairah, bahwa malaikat akan mendoakan bagi para pesedekah agar harta mereka bertambah berkah dan melimpah.

Bersedekah bukan sebatas aktivitas memindah tangankan harta kepada orang lain, lalu selesailah urusan. Sedekah memiliki nilai dan filosofi yang dalam. Termasuk soal bagaimana aktivitas bersedekah sukses dan diterima oleh Allah SWT. 

Atas dasar inilah perlu menyusun strategi agar sedekah membawa berkah dan bernilai ibadah. Tak cuma berisikan kegiatan memberi dan menerima. Supaya sedekah kian berkah, seperti diungkapkan oleh Syekh Imad Hasan Abu al-Ainaini dalam esainya berjudul “Jumal Mukhtasharat fi Fawaid wa Adab as-Shadaqat”, ada rententan hal yang penting diperhatikan.

Maka pertama kali, kata Syekh Imad, tekankan niat dan motif bersedekah. Sedekah bukan untuk mencari kepentingan duniawi, melainkan bersedekah untuk mendapatkan rida Ilahi. Keikhlasan bisa menentukan diterima atau tidaknya amal sedekah seseorang.

Karena itu, bila Anda bersedekah, jangan menyertainya dengan mengumbar-umbar atau mengungkit-ungkit sedekah yang Anda berikan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS al-Baqarah [2]: 264). Bila sedekah disertai riya, misalnya, maka seketika itu pula akan menggugurkan pahala bersedekah. Laksana air yang menyapu bersih pasir di atas bebatuan.

Pastikan, harta yang Anda gunakan untuk bersedekah bagi sesama berasal dari sumber yang halal. Sedekah tidak akan diterima bila diperoleh dari cara dan jalan yang haram. Sekalipun niatnya baik untuk membantu sesama, tetapi cara negatif yang ditempuh tidak bisa dibenarkan. Hadis riwayat Muslim menyebutkan, Allah SWT Mahasuci dan hanya akan menerima apa pun yang suci pula.

Bila terbesit sedekah, jangan ditunda-tunda. Tak ada bisa memastikan nasib dan kondisi keuangan seseorang pada kemudian hari. Bisa jadi, hari ini Anda diberi kecukupun, tetapi kondisi ini bisa berubah dalam sekejap. Peluang emas itu janganlah disia-siakan.

Di riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah menyerukan agar menyegarakan sedekah saat muncul keinginan. Akan datang suatu masa, saat tak satu pun orang siap menerima sedekah. Yang tersisa hanyalah ucapan, seandainya sedekah itu diberikan kemarin, pasti akan diterima. Sementara sekarang, tak lagi diperlukan, sabda Nabi SAW.

Ibnu Bathal mengatakan, kebaikan sebaiknya disegerakan. Pasalnya, halangan akan datang tiap waktu, tanpa terduga. Kematian tak akan menunggu siap atau tidakkah seseorang. Dengan menyegerakan sedekah, akan sangat membantu para dhuafa, menjauhkan sifat kikir, menghapus dosa, dan mendekatkan rida-Nya.

Bersedekahlah, meski hanya dengan sebutir kurma, sabda Rasul dalam hadis riwayat Bukhari Muslim. Tak harus menunggu Anda kaya untuk bersedekah harta. Seberapa pun jumlah harta yang Anda miliki maka seyogianya kesempatan meraup pahala dari sedekah, masih terbuka lebar.

Dan terakhir kali, untuk menekan potensi riya saat bersedekah sunat maka usahakan bersedekah tanpa publikasi apa pun dan jauh dari penglihatan publik. Publikasi sedekah sunat rentan dengan unsur riya yang bisa menghapus pahala bersedekah.

Maka, bila Anda lakukan hal itu, persiapkan diri Anda menjadi satu dari ketujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat, ketika tak pertolongan apa pun kecuali dari-Nya. Karena, tangan kanan Anda telah bersedekah sementara tangan sebelah kiri tidak mendeteksi aktivitas mulia tersebut



, Oleh Nashih Nashrullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar