Senin, 14 Juli 2014

Nuzul Al-Qur’an




Peristiwa Nuzul Alquran merupakan momentum untuk menanamkan kembali nilai-nilai Alquran kepada tiap individu Muslim, mendorong setiap Muslim berperan aktif dan berkonstibusi maksimal dalam kehidupan dunia.

Allah SWT menugaskan Rasulullah SAW untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar akidah, syariah dan akhlak: “Kami telah turunkan kepada-mu Al-Qur’an untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berfikir” (QS 16:44).

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat,
apa yang harus kita kerjakan dalam kehidupan dunia ?  
Beliau menjawab Muamalah atau hubungan antarmanusia.
Mengapa hubungan antar manusia menjadi prioritas Nabi, karena hakikatnya hubungan antar manusia adalah kunci utama dalam kehidupan

Allah SWT tidak akan mengampuni kesalahan hambanya, jika seorang hamba itu tidak bisa memaafkan antarsesama atau antarmanusia. Ini artinya jalinan hubungan antarmanusia (Habulumminannas) memiliki urgensi yang utama serta vital dihadapan-NYA. Sehingga apabila seorang hamba akan melakukan hubungan dengan Allah SWT (Hablumminallah), alangkah baiknya dibenahi sejak awal hubungan antar manusianya.

Kenyataannya kita sering lebih asyik dan merasa cukup dengan ibadah mahdhah (ibadah ritual), seperti zikir, shalat, puasa, zakat, dan haji. Dengan ibadah mahdhah itu kita berharap mendapat ketenangan, kedamaian, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Ibadah mahdhah harusnya mengantarkan kita pada dua kesalehan, yakni saleh secara individu dan saleh sosial. Kita bersyukur karena kegiatan ibadah ritual itu semakin meningkat, termasuk pada bulan Ramadhan ini.

Pelaksanaan puasa akan kehilangan maknanya, kalau kita sekadar menggugurkan kewajiban, sekadar menahan lapar dan haus dari fajar hingga Maghrib.
Puasa harus dimaknai sebagai upaya mengasah kepedulian kepada sesama, mengasah simpati dan empati.
Puasa harus mampu melahirkan pribadi yang saleh secara individu dan sosial.
Puasa mengajak manusia memasuki proses penyucian diri, kemudian menegakkan komitmen sosial, yang dijabarkan dengan berbagai bentuk, seperti sedekah, zakat dan membantu antar sesama dengan berbagai cara.

Pemberian sedekah, zakat dan bantuan lainnya agar didasarkan pada keikhlasan sebagai manifestasi nilai-nilai tauhid, keadilan sosial dan menjalin hubungan secara baik dengan sesamanya.  Kesemua itu, sebenarnya kunci dari perwujudan akhlak karimah.

Jadi seseorang dikatakan mendapat kemenangan, jika mereka memiliki kesalehan INDIVIDU seperti melakukan aktivitas shalat (rukuk dan sujud) dan kesalehan SOSIAL, yakni berbuat kebaikan (amar makruf). [surah Al-Hajj (22) ayat 77]

Semoga Puasa dapat juga membangkitkan semangat ukhuwah islamiah dan ukhuwah wathoniah sebagaimana yang diserukan al-Quranul karim. Dan kita perlu berlomba-lomba dalam kebajikan dan kebaikan universal, yaitu kebaikan yang tidak mengenal batas agama, ras atau dari golongan manapun. Sehingga berlomba-lomba dalam kebaikan tidak melihat identitas orang itu, dari mana ia berasal dan kebaikan universal inilah yang harus ditanamkan sebagai wujud masyarakat yang berahlak mulia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar