Rabu, 16 Desember 2015

Mengenal HbA1c, apa hubungannya dengan diabetes ?


Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik endokrin yang dapat menyerang pada semua kelompok umur dan jenis kelamin, akan tetapi pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa, kelainan ini ada korelasinya dengan perubahan mutasi pada jenis gen tertentu, sehingga sifatnya akan diturunkan pada garis keturunan secara langsung. 

Beberapa faktor juga dapat memicu timbulnya kelainan ini diantaranya pola makan yang kelebihan karbohidrat, berat badan berlebih, peminum alkohol berat dan lain-lain. Akan tetapi semua faktor di atas dapat dicegah dengan perbaikan gaya hidup. 

Sebenarnya keadaan yang ditimbulkan pada DM ini dapat diatasi dengan pengobatan yang adekuat dan diet makanan yang seimbang, akan tetapai yang ditakutkan adalah timbulnya komplikasi pada penderita DM. 

Seperti yang kita ketahui bahwa DM merupakan kelainan metabolik endokrin pada tubuh manusia, sebagai akibat peningkatan kadar gula darah di dalam aliran darah, sehingga menyebabkan perlambatan aliran darah karena konsentrasi dan viskositas yang meningkat. Keadaan seperti ini lama kelamaan akan menimbulkan kerusakan beberapa organ vital yang bersifat endartery seperti ginjal, jantung, otak dan retina pada mata. 

Kerusakan ini akan menimbulkan gangguan fungsi ginjal sampai terjadi gagal ginjal, penyumbatan pembuluh darah koroner jantung dan menyebabkan penyakit jantung koroner, penyumbatan pembuluh darah otak yang bisa menyebabkan stroke serta menimbulkan kebutaan jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada organ mata terutama retina. 

Peranan dokter umum di dalam kesehatan masyarakat adalah mencegah terjadinya kelainan, menemukan diagnosis lebih dini pada kelompok populasi dengan faktor risiko yang tinggi dan mencegah komplikasi yang terjadi kalau seseorang telah mengalami kelainan ini. Selain pemberian pengobatan yang adekuat dan menjaga pola makan yang baik, penderita perlu melakukan pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain seperti rontgen atau funduskopi dan elektrokardiogram (rekam jantung) secara berkala. Pemeriksaan di atas bertujuan untuk mengetahui lebih dini komplikasi yang terjadi pada penderita DM, sehingga dapat dicegah dan diobati lebih dini. 

Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengetahui komplikasi lebih dini dan mengontrol kepatuhan berobat penderita DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c. 

Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan kadar HbA1c? 

HbA1c yang lebih dikenal dengan hemoglobin glikat, adalah salah satu fraksi hemoglobin di dalam tubuh manusia yang berikatan dengan glukosa secara enzimatik. 

Hal ini dapat dimengerti jika kadar glukosa yang berlebih akan selalu terikat di dalam hemoglobin, juga dengan kadar yang tinggi. Akan tetapi kadar HbA1c yang terukur sekarang atau “sewaktu” mencerminkan kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang lampau (sesuai dengan umur sel darah merah manusia kira-kira 100-120 hari), sehingga hal ini dapat memberikan informasi seberapa tinggi kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang lalu. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita juga dapat mengetahui seberapa besar kepatuhan dalam berobat pada penderita DM. 

Sebagai ilustrasi seorang penderita telah didiagnosis DM kira-kira 3 tahun dan telah diberikan pengobatan yang adekuat, namun seberapa patuh atau teraturnya pasien tersebut minum obat, kita tidak dapat mengetahui dengan pasti. Setiap datang kontrol ke dokter selalu membawa hasil pemeriksaan laobatorium (Glukosa darah) yang normal atau sedikit lebih tinggi, hal ini bisa terjadi jika pasien minum obat 2 atau 3 hari sebelum kontrol ke dokter dengan dosis yang teratur, akan tetapi setelah diukur kadar HbA1c, ternyata menunjukkan hasil yang tinggi, hal ini menunjukkan kepatuhan berobat atau minum obat masih rendah. 

Selain dapat memberikan informasi mengenai kepatuhan berobat penderita DM, juga dapat memprediksi kemungkinan terjadinya komplikasi dan prognosis (dugaan perbaikan). 

Berapakah nilai rujukan kadar HbA1c? 

Sebenarnya pada manusia normal, juga terdapat keterikatan antara hemoglobin dengan glukosa, tetapi dalam jumlah yang normal yaitu sekitar 4-6 %, pada penderita DM yang diprediksi memiliki kerentanan terhadap terjadinya komplikasi adalah di atas 8 – 10%. 

Jika melebihi 10% berarti penderita harus selalu diwaspadai untuk berobat secara teratur dan berusahan untuk menghindari risiko terjadinya komplikasi yang bakal terjadi serta mengatur pola hidup yang lebih baik. Sebagai kesimpulan, peranan pemeriksaan kadar HbA1c penting di dalam mengontrol kepatuhan pengobatan dan memprediksi kemungkinan terjadinya komplikasi berbagai organ pada penderita DM.


Jawaban TanyaDok.com di : http://www.tanyadok.com/tekno/hba1c-sebagai-kontrol-penderita-diabetes-mellitus


-----------------------------

Catatan :

1.  Interpretasi Hasil Pemeriksaan HBA1C. Pengukuran kadar glukosa darah hanya memberikan informasi mengenai homeostasis glukosa yang sesaat dan tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi pengendalian glukosa jangka panjang (misalnya pada beberapa minggu sebelumnya). Untuk keperluan ini dilakukan pengukuran hemoglobin terglikosilasi dalam eritrosit atau juga dinamakan hemoglobin glikosilat atau hemoglobin A1c (HbA1c).


Pengertian dan Cara Interpretasi Hasil Pemeriksaan HBA1C


Glikosilasi adalah apabila hemoglobin bercampur dengan larutan dengan kadar glukosa sangat tinggi serta rantai beta molekul hemoglobin mengikat satu gugus glukosa secara irreversibel. Glikosilasi dapat terjadi secara spontan dalam sirkulasi dan tingkat glikosilasi ini meningkat apabila kadar glukosa dalam darah tinggi. Pada orang normal, sekitar 4-6% hemoglobin mengalami glikosilasi menjadi hemoglobin glikosilat atau hemoglobin A1c. Pada kasus hiperglikemia yang berkepanjangan, dapat meningkatkan kadar hemoglobin A1c hingga 18-20%. Glikosilasi tidak mengganggu kemampuan hemoglobin dalam hal mengangkut oksigen, akan tetapi kadar hemoglobin A1c yang tinggi mencerminkan kurangnya pengendalian diabetes selama 3-5 minggu sebelumnya. Setelah jumlah kadar normoglikemik menjadi stabil maka kadar hemoglobin A1c kembali normal dalam waktu sekitar 3 minggu.

Karena HbA1c terkandung dalam eritrosit yang hidup sekitar 3 – 4 bulan, maka HbA1c dapat mencerminkan pengendalian metabolisme glukosa selama 100 – 120 hri sebelumnya. Hal ini lebih menguntungkan secara klinis karena memberikan informasi yang lebih jelas tentang keadaan penderita dan seberapa efektif terapi diabetik yang diberikan. Peningkatan kadar HbA1c > 8% mengindikasikan diabetes mellitus yang tidak terkendali sehingga menyebabkan  penderita berisiko tinggi dapat mengalami berbagai macam komplikasi jangka panjang seperti nefropati, neuropati, retinopati, dan/atau kardiopati.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan HBA1C
Kriteria Nilai HBA1C

Eritrosit yang tua karena berada dalam sirkulasi lebih lama dari pada sel-sel eritrosit yang masih muda memiliki kadar HbA1c yang lebih tinggi. Penurunan hasil palsu kadar HbA1c bisa disebabkan oleh penurunan dari jumlah eritrosit total. Pada penderita dengan gejala hemolisis episodik  atau kronis, darah dapat mengandung lebih banyak eritrosit muda sehingga jumlah kadar HbA1c dapat dijumpai dalam kadar yang sangat rendah. Adanya Glikohemoglobin total dalam darah merupakan indikator yang lebih baik untuk pengendalian terhadap penyakit diabetes pada penderita yang mengalami anemia ataupun kehilangan darah.

Prosedur Pemeriksaan HBA1C

Hemoglobin glikosilat  atau yang dikenal dengan Pemeriksaan HbA1C dapat diukur kadarnya dengan menggunakan beberapa metode, seperti kromatografi afinitas, metode elektroforesis, immunoassay, atau metode afinitas boronat. Spesimen / sampel yang digunakan untuk Pemeriksaan HbA1C adalah : darah kapiler atau vena dengan menggunakan antikoagulan (EDTA, Na sitrat, atau heparin).
Hindari adanya hemolisis pada saat  pengumpulan sampel. Sangat dianjurkan untuk menjaga batasan asupan karbohidrat sebelum dilakukan uji laboratorium.

 

Nilai Normal Serta Interpretasi Hasil Pemeriksaan HBA1C


Orang normal :  4,0 – 6,0 %
DM terkontrol baik :  kurang dari 7%
DM terkontrol lumayan :  7,0 – 8,0 %
DM tidak terkontrol :  > 8,0 %
Nilai Hasil rujukan dapat berlainan Pada setiap laboratorium tergantung dari metode yang digunakan.

Masalah Klinis 

Terjadi Peningkatan kadar : Diabetes Mellitus yang  tidak terkendali, hiperglikemia, Diabetes Mellitus yang baru terdiagnosis, ingesti alkohol, Faktor kehamilan, hemodialisis.

Pengaruh obat seperti : asupan kortison jangka panjang, ACTH.

Penurunan kadar : adanya anemia (pernisiosa, hemolitik, sel sabit), penyakit talasemia, kehilangan darah jangka panjang, penyakit gagal ginjal kronis.


2, Diabetes melitus (DM) tidak seharusnya menjadi mimpi buruk yang selalu menghantui penyandang diabetes, atau menjadi penghambat dalam menikmati hidup bersama keluarga tercinta. Salah satu syaratnya adalah pengendalian gula darah yang baik, dan dapat dipantau dengan pemeriksaan HbA1c setiap 3 bulan sekali.Diabetes melitus (DM) atau kencing manis adalah kondisi di mana konsentrasi gula (glukosa) darah berada di atas normal dalam jangka waktu lama (kronis). Penyandang DM harus menjaga agar konsentrasi glukosa darahnya terkendali dengan baik untuk mencegah timbulnya komplikasi di kemudian hari. Selain dengan pengaturan pola makan, olahraga dan pengobatan, hal lain yang perlu dilakukan adalah :

·  Pemeriksaan konsentrasi glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan
·  Pemeriksaan konsentrasi HbA1c setiap 3 bulan sekali untuk menilai pengendalian DM

HbA1c & Apa Manfaatnya

HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi kimia antara glukosa dan hemoglobin (bagian dari sel darah merah). HbA1c yang terbentuk dalam tubuh akan disimpan dalam sel darah merah dan akan terurai secara bertahap bersama dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari).
HbA1c menggambarkan konsentrasi glukosa darah rata-rata selama periode 1-3 bulan. Jumlah HbA1c yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi glukosa darah. Pemeriksaan HbA1c digunakan untuk kontrol glukosa jangka panjang pada penyandang diabetes. Pemeriksaan HbA1c dianjurkan untuk dilakukan setiap 3 bulan sekali atau 4 kali dalam setahun.

Perbedaan Pemeriksaan HbA1c & Glukosa Darah

Pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan hanya dapat mencerminkan konsentrasi glukosa darah pada saat diukur saja dan sangat dipengaruhi oleh makanan, olahraga dan obat yang baru dikonsumsi. Jadi, tidak dapat menggambarkan bagaimana pengendalian konsentrasi glukosa dalam jangka panjang.

Bagi Anda yang melakukan pemeriksaan HbA1c  di laboratorium klinik Prodia untuk pertama kalinya, akan diberikan Kartu Kontrol HbA1c.

Hasil setiap pemeriksaan HbA1c akan diplotkan pada kartu yang telah ditandai dengan warna merah untuk pengendalian gula darah yang buruk, warna kuning untuk pengendalian sedang dan warna hijau untuk pengendalian gula darah yang baik. Dengan memanfaatkan kartu ini, Anda dapat lebih waspada terhadap pengendalian gula darah Anda dan membantu dokter untuk menentukan penanganan yang lebih tepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar