Selasa, 29 Desember 2015

Putra Administrator Inggris: Kok Tuhan Bisa Mati?

Putra Administrator Inggris: Kok Tuhan Bisa Mati?
Ini kisah tokoh Islam LondonAnthony Vatswaf Galvin Green, ketua The Islamic Education & Research Academy (iERA).
Sebelum memeluk Agama Islam, putra administrator kolonial kerajaan Inggris, Gavin Green, itu, sering membuat heboh atas pertanyaan-pertanyaannya cukup kritis, salah satu pertanyaannya: kok Tuhan bisa mati?
Sebagai anak dari keluarga tokoh nonmuslim, semasa kecil hingga remaja, Anthony hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.
Pria kelahiran 1962 di Dar es Salaam, Tanzania, tersebut disekolahkan Ampleforth College agar menjadi penganut yang taat.
Namun, nasib berkata lain. Semasa dia jadi murid, Anthony sering bertanya kepada ibunya: kok ada Tuhan bisa mati?
Pertanyaan itulah yang membuat kepalanya galau hingga akhirnya jadi muslim pada 1988. Dia pun mengubah namanya menjadi Abdur Raheem Green.
Mencari Jawaban
Ketika berusia 11 tahun, ayah Green mendapat pekerjaan sebagai Manajer Umum di Bank Barclays di Kairo.
Sejak itu, sampai 10 tahun kemudian, Mesir menjadi tempat Green menghabiskan liburan sekolah, karena Green tetap bersekolah di Inggris.
Green selalu menikmati liburannya di Mesir, dan ketika ia kembali ke Inggris, banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya.
Doktrin kehidupan Barat yang ia kenal selama ini, selalu mengukur kebahagiaan hidup dengan kecukupan dan terpenuhi kebutuhan materi.
Membandingkannya dengan kehidupan masyarakat Muslim diMesir, Green jadi bertanya-tanya, mengapa ia harus tinggal di sini (Inggris)? Apa tujuan hidupnya? Untuk alasan apa manusia ada? Apa arti semua ini? apa artinya cinta? hidup itu untuk apa?
Green merenungi semua pertanyaan dalam benaknya. Bukan, hidupnya bukan hanya untuk sekolah, lulus ujian dengan nilai bagus, lalu kuliah, dapat gelar sarjana, kemudian dapat pekerjaan yang bisa memberikannya banyak uang. Lalu menikah, punya anak, mengirim mereka ke sekolah terbaik, dan seterusnya ...
"Tidak, saya tidak percaya hidup hanya untuk melakukan itu semua," kata Rahim Green seperti yang ia pernah ceritakan diRight Islam dan dikutip berbagai media di Inggris, kala itu.
Green termotivasi untuk mencari jawaban sesungguhnya. Ia pun mulai mencari tahu tentang ajaran agama lain, yang ia pikir bisa memberikan pandangan dan pemahaman padanya tentang apa hidup itu dan apa tujuan hidup sebenarnya.
Sebuah peristiwa penting pun terjadi. Selama 10 tahun bolak-balik berlibur di Mesir, Green hanya mengenal satu orang yang mau ngobrol dengannya secara terbuka tentang Islam.
Suatu hari Green terlibat perbincangan dengan orang itu, dan ia seperti merasa tinju seorang Mike Tyson mendarat di mukanya.
Dalam perbicangan selama 40 menit, orang itu akhirnya bertanya pada Green, "Kamu percaya *** itu Tuhan?" Green menjawab, "Ya." Lalu orang itu bertanya lagi, "Dan kamu percaya *** mati di***?". Green menjawab, "Ya."
"Jadi kamu percaya Tuhan itu mati," tanya orang itu lagi.
Pertanyaan itu seakan menampar muka Green, dan ia tiba-tiba menyadari bahwa fakta itu sangat bodoh dan tidak masuk akal, bagaimana Tuhan bisa mati, mana mungkin manusia bisa membunuh Tuhan.
Mendadak Green tersadar bahwa selama ini ajaran Katolik telah mengindoktrinasinya Dalam usia muda, antara 19-20 tahun, Green menjalani kehidupannya sebagai hippis.
"Saya berkata pada diri sendiri, lupakan soal agama, soal spiritualitas, lupakan semuanya. Mungkin hidup itu tidak ada maknanya, tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali menjadi orang kaya," kata Green.
Persoalannya kala itu, Green tidak punya uang banyak. Ia lalu berpikir untuk mendapatkan uang banyak.
Ia berpikir tentang negara-negara yang dianggapnya kaya dan mudah untuk mendapatkan uang, mulai dari Inggris, Amerika yang menjadi negeri impian, Jepang si negara kaya dari hasil kemajuan teknologinya, sampai Arab Saudi yang juga salah satu negara kaya.
Di titik Arab Saudi, Green mulai berpikir tentang apa agama yang dianut orang Arab, apa kita suci mereka? Green langsung mengingat Al-Quran dan ia pun pergi ke sebuah toko buku untuk membeli Al-Quran yang dilengkap dengan terjemahannya.
"Saya adalah seorang yang bisa membaca dengan cepat. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu saya naik kereta, duduk dekat jendela dan membaca terjemahan Al-Quran. Saya memandang ke luar jendela sejenak, lalu membaca lagi. Saya bisa mengatakan inilah momen ketika saya menyadari dan memercayai bahwa Quran berasal dari Allah Swt," tutur Green.
Tak sekedar membaca, Green ingin mencoba apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Pulang ke rumah, Green mencoba menunaikan salat meski ia tak tahu caranya. doktrin-doktrin yang membuat hidupnya tak nyaman.
Ia cuma ingat pernah melihat juru masak keluarganya di Mesirmenunaikan salat, dan Green mencoba meniru gerakan salat yang pernah dilihatnya itu.
Memeluk Islam
Di hari selanjutnya, Green pergi ke sebuah toko buku yang merupakan bagian dari sebuah bangunan masjid.
Ia melihat buku-buku tentang Nabi Muhammad dan buku tentang salat. Ketika melihat buku-buku itu Green berdecak kagum, "Wow, fantastis !"
Seorang lelaki lalu menyapanya, "Maaf, apakah Anda muslim?"
Green lalu menjawab, "Dengar, saya percaya hanya ada satu Tuhan dialah Allah Swt dan saya percaya Muhammad adalah utusan-Nya,"
"Kamu seorang Muslim !" pekik orang tadi
"Terima kasih," jawab Green.
Orang itu lalu berkata lagi, "Ini hampir masuk waktu salat, Kamu mau salat bersama-sama?"
Hari itu hari Jumat, karenanya masjid penuh dengan jamaah yang akan salat Jumat. Green ikut salat meski masih bingung dan gerakannya banyak yang salah.
Tapi hari itu menjadi hari bersejarah bagi Green, hanya dalam waktu singkat, ia mendapatkan banyak saudara baru, yang bersedia mengajarinya tentang Islam.
Ya, hari itu juga, Green secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandai keislamannya. 
Praktisi Da'wah dan Presenter TV
Pada tahun 1987, Vatswaf pertama kali tertarik pada Islam, dan mempelajari Al Quran. Vatswaf kemudian memeluk Islam pada tahun 1988, dan sejak itu menjadi praktisi dakwah.
Ia pun mengganti namanya dengan Abdur Rahim.
Abdur Rahim. (net)
Abdur Rahim merupakan presenter di Peace TV. Ia terlibat dalam kegiatan pendidikan dan media pada stasiun TV itu. Ia pun menjadi Ketua iERA (the Islamic Education & Research Academy).
Rahim aktif memberikan ceramah di luar negeri, termasuk pada konferensi perdamaian yang diadakan di Mumbai.
Ia juga aktif di London Central Mosque and Islamic Cultural Centre. Sebagaimana Dr Zakir Naik, Dr Bilal Philips, Khalid Yasin, dan Yvonne Ridley, Rahim juga memberikan banyak kuliah tentang Islam di seluruh dunia dan juga berdakwah di Hyde Park yang terkenal di London.
Ia memiliki sepuluh anak dari dua istri. Rahim pernah ditanya dalam wawancara, apakah hukum Inggris melarang bigami.
Ia menjawab: “Benar. Namun beberapa orang Inggris melakukan bigamis. Tetapi mereka yang mempraktikan bigami dapat menjalankan pernikahannya sebagaimana ketentuan hukum perkawinan (Islam). Anak-anak yang lahir sah, istri (kedua) pun berhak mendapat mewarisi harta.”
Pada tahun Rahim dilarang ikut dalam penerbangan yang singgah di Brisbane karena ia terdaftar dalam “aktivis yang masuk dalam daftar cegah” oleh pemerintah Australia.
Ini karena ia pernah berceramah yang isinya dianggap ekstrim bagi dunia Barat, yakni “Muslim dan Barat tidak bisa hidup damai bersama-sama dan bahwa kematian saat berperang jihad adalah salah satu cara paling pasti untuk masuk surga dan disenangi Allah.”
Kalangan Muslim Australia berpendapat, Pemerintah sudah terlalu jauh dengan menghentikan seorang pria yang sekarang telah berlaku moderat.
Pada satu wawancara radio berikutnya di Australia, Rahim menyatakan bahwa ia sudah lama meninggalkan pandangan ekstremis apa pun, dan menambahkan bahwa ia secara konsisten mengutuk aksi teroris.
Ayahnya pun Ikut
Seperti dilansiri Right Islam, Abdur Rahim Green yang dikenal sebagai pengkhotbah di Inggris, setelah masuk Islam lebih dari 20 tahun silam tidak menyangka ayahnya, Gavin Green, ikut bersamanya dalam barisan Islam.
Ayahnya memeluk Islam hanya sepuluh hari sebelum ia meninggal dunia.
Gavin Green mantan Direktur Barclays Bank di Kairo, Mesir.
Abdur Rahim Green senantiasa teringat sabda Nabi SAW: “Semoga wajahnya digosok dengan debu (dipermalukan), jika seseorang yang salah satu orang tuanya mencapai usia tua, dan dia tidak masuk Surga karena tidak melayani mereka (orang tuanya).”
Juga hadist, seorang pria datang kepada Nabi untuk berantusias bergabung dengan perang, orang itu berkata kepada Nabi: “Saya meninggalkan ibu saya menangis. Dan Nabi berkata kepadanya: “Kembalilah dan jangan tinggalkan dia, sampai Anda meninggalkan dia dengan tertawa.”
Abdul Rahim menceritakan: Itulah mengapa saya memutuskan untuk menghabiskan beberapa waktu dengan ibu saya setelah kematian ayah saya.
Allah SWT mengatakan kepada kita untuk menyampaikan pesan (agama), tetapi tidak boleh memaksa siapa pun untuk masuk Islam.
Tugas kita hanya menyampaikan pesan, menjelaskan kepada orang lain dengan cara terbaik yang kita bisa, dengan bimbingan melalui Tangan Allah yang Maha Kuasa.
Saya ingin bercerita tentang kematian ayah saya, yang bagi saya luar biasa, yakni hanya sepuluh hari sebelum ia meninggal ia mendapat hidayah untuk mengucapkan Syahadat.
Saya tidak pernah berpikir bahwa ayah saya akan mengucapkan Syahadat. Ayah saya seorang yang luar biasa, berkepribadian luar biasa, dan tidak ada yang bisa menggambarkan dia sebagai orang buruk.
Selama 23 tahun, sejak saya menjadi seorang Muslim, saya telah mengundang ayah saya ke Islam. Dan saya memutuskan untuk memberikan contoh terbaik saya, bagaimana Islam seharusnya, bagaimana Islam harus hidup, bagaimana Islam mengajarkan saya untuk menghormati dia sebagai orang tua. 
Demikianlah kisah Abdur Rahim Green, 23 tahun mencari Tuhan, Allah subhana wa taala. Semoga bermanfaat.
(RightIslam/globalmuslim.web.id/islampos/hidayatullah)
http://makassar.tribunnews.com/2015/11/01/putra-administrator-inggris-kok-tuhan-bisa-mati


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar