Kamis, 19 Januari 2012

Geliat Muslim di Masjid Islamic Center Wina



Lebih dari 30 tahun, masjid ini menjadi pusat studi, kajian, serta perkembangan Islam di Austria.


Keberadaan bangunan-bangunan tua bersejarah nan indah dan megah begitu terpelihara apik di pusat kota Zentrum, Wina, Austria. Mulai dari bangunan parlemen, museum, taman nasional, monumen mozart yang terkenal, hingga gedung-gedung bersejarah lainnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Menariknya, di negara yang disebut-sebut sebagai salah satu dari sepuluh negara terkaya di dunia ini juga terdapat bangunan-bangunan masjid bersejarah yang tidak kalah indahnya.

Di negara sosialis Eropa Barat ini, kebebasan beragama terjamin. Persoalan keagamaan mendapat perhatian serius pemerintah Austria. Pemerintah setempat memberikan kebebasan kepada umat agama apa pun untuk menjalankan ibadahnya masing-masing.

Negara yang terkenal dengan minuman wine yang berasal dari anggur berkualitas terbaik ini memasukkan kurikulum pelajaran keagamaan pada sekolah pemerintah. Termasuk Islam, yang pada umumnya diajarkan oleh guru keturunan Turki.

Di negara ini, Islam adalah agama ketiga terbesar dengan persentase 8%, dengan populasi muslim sekitar 430 ribu dari 5,375 juta warga, setelah agama Katolik dan Protestan. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

Meskipun Islam menjadi agama ketiga, geliat dan semangat muslim menjalankan ajaran agama Islam di Wina sangat tinggi. Ini bisa terlihat dari semaraknya warga muslim dari beragam etnis untuk menjalankan shalat di masjid.

Setidaknya, terdapat kurang lebih sembilan masjid menghiasi kota Wina. Pada umumnya, masjid-masjid di Wina dibangun oleh muslim Austria berdasarkan komunitas tertentu. Selain untuk sarana beribadah, masjid tersebut juga dimanfaatkan untuk bersilaturahim di antara mereka, akan tetapi tetap terbuka untuk muslim dari luar komunitasnya, baik untuk menjalankan ibadah shalat maupun mengikuti kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

Sebut saja misalnya Masjid Telfs dan Masjid Rashid, yang didirikan oleh komunitas muslim Ghana dan Nigeria, Masjid Bad Voslau dan Masjid Ridvan, yang dibangun oleh komunitas muslim Turki. Demikian juga dengan Masjid Syura, yang diimami langsung oleh imam dari Palestina, Syaikh Ibrami Adnani, yang biasanya dilanjutkan dengan kajian tafsir berbahasa Arab. Peserta atau jama’ah kebanyakan warga Arab atau jama’ah yang bisa berbahasa Arab.

Memiliki Kapasitas Terbesar

Yang paling megah dan menjadi pusat kegiatan keislaman di Wina adalah Masjid Islamic Center Vienna. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid yang memiliki kapasitas jama’ah terbesar.

Masjid yang mendapatkan sumbangan besar dari Raja Faishal bin Abdul Aziz, raja Arab Saudi, ini merupakan masjid yang tampilan bangunannya paling utuh. Tidak seperti “masjid” lainnya, baik di Autria khususnya, maupun di negara-negara Barat pada umumnya, yang hanya berbentuk bangunan apartemen, perkantoran, ataupun rumah, yang didesain untuk kegiatan beribadah.

Masjid Islamic Centre Vienna begitu sempurna. Berada di atas tanah kurang lebih seluas satu hektare, bangunan masjid terbagi dalam tiga lantai. Lantai basement, lantai dasar, dan lantai atas. Ruangan shalatnya berukuran 100 x 200 meter.

Lantai marmer masjid dihiasi hamparan karpet merah untuk shalat. Terdapat hijab pemisah berwarnah hijau yang lembut untuk jama’ah shalat, juga dilengkapi mimbar bagi khatib, yang didesain sangat serasi dengan warna senada.

Seperti masjid pada umumnya, masjid ini, yang memiliki pemandangan menarik lantaran keberadaannya tepat di tepi Sungai Donau yang membentang melingkari Austria dan pusat-pusat kantor badan internasional, termasuk perwakilan PBB, memiliki kubah masjid di bagian tengah, dengan diameter 20 meter.

Tidak ketinggalan, menara setinggi 32 meter menjulang tinggi ke langit kota Wina. Akan tetapi menara tersebut tidak digunakan untuk mengumandangkan adzan. Untuk menghormati sesama, kumandang adzan dilantunkan di dalam masjid tanpa menggunakan pengeras suara. Praktis, hanya terdengar di dalam masjid.

Masjid Islamic Center Wina dibangun selama kurun waktu tahun 1975 hingga 1979 dengan dana sumbangan dari Raja Faisal bin Abdul Aziz. Sementara lahannya dibeli dari dana yang berasal dari sumbangan negara-negara Islam pada tahun 1968. Pemerintah Austria juga begitu mendukung pembangunan masjid tersebut.

Begitu Terasa

Geliat muslim di Masjid Islamic Center Vienna juga begitu terasa. Lebih dari 30 tahun, masjid ini menjadi pusat studi, kajian, serta perkembangan Islam di Austria.

Tiap waktu shalat Jum’at, masjid ini selalu dipadati jama’ah. Kurang lebih 2.000 jama’ah datang dari dalam dan luar kota Wina.

Termasuk muslim asli Indonesia. Mereka terdiri dari staff KBRI, diplomat, pekerja profesional di PBB, OPEC, Badan Atom International, dan mahasiswa. Selain untuk beribadah, biasanya juga untuk melepas rindu dengan sesama maupun melepas rindu dengan suasana masjid di tanah air.

Masjid ini juga menjadi pusat informasi tentang waktu shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat Tarawih, dan sebagainya, termasuk penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Semakin Ramai saat Ramadhan


Pada bulan Ramadhan, masjid ini semakin semarak. Umat Islam dari beragam etnis di Austria datang dari jauh untuk menjalankan shalat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an di masjid ini.

Menariknya, di masjid ini diadakan dua shalat Tarawaih. Lantai atas melaksanakan shalat Tarawih sebayak 11 raka’at termasuk Witir, lantai bawah mengerjakan shalat Tarawih 23 raka’at termasuk Witir. Jenis kedua ini lebih banyak dihadiri oleh mayoritas warga muslim Turki, sedang warga muslim Indonesia umumnya lebih memilih shalat di lantai atas.

Perbedaan shalat ini tidak menjadi konflik, justru menjadi sarana perekat dan wujud toleransi di antara mereka.

Masjid yang letaknya cukup strategis ini kerap menjadi tempat favorit umat Islam di Austria untuk berbuka puasa. Panitia masjid pun selalu menyediakan makanan berbuka puasa (ta’jil).

Selain untuk kegiatan ibadah, masjid ini juga digunakan untuk kegiatan pendidikan. Setiap weekend ada engajian Islam.

Jadwal rutin selama ini di antaranya kajian tentang I’jazul Qur’an Al-Ilmiy, keluarbiasaan ilmiyah dalam Al-Qur’an yang tidak bisa ditiru manusia, yang disampaikan secara berkala setiap pekan oleh Dr. Abdullah Al-Mushlih dari Liga Muslim Dunia, yang bermarkas di Makkah Al-Mukarramah. Demikian juga kajian ba’da Tarawih, tentang tafsir maupun aqidah, yang menggunakan bahasa Arab.

Tidak ketinggalan, pembacaan syahadat bagi warga Austria yang baru masuk Islam juga diadakan di masjid ini.

Bagi anak-anak, ada juga forum-forum untuk belajar dasar-dasar agama serta les bahasa Arab.

http://majalah-alkisah.com/index.php/component/content/article/976-geliat-muslim-di-masjid-islamic-center-wina

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar