Minggu, 27 Januari 2013

Di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, Banyak yang tak Bisa Baca Al-Quran




Banyak siswa di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat tidak bisa membaca Al-quran, sehingga harus dicarikan solusi pemerintah.
"Ini menjadi keprihatinan kita semua dengan banyaknya siswa yang tidak bisa membaca Al-quran di Mamuju," kata anggota DPRD Mamuju, Hajrul Malik.

Ia mengatakan, berdasarkan data kementerian agama Mamuju dari sekitar 14.000 siswa di Mamuju pada tingkat SD, SMP dan SLTA yang diuji bacaan Alqurannya, hanya sekitar 400 orang siswa yang dinyatakan lulus atau bisa Baca Alquran.

Menurut dia, kondisi itu sangat memprihatinkan sehingga pemerintah di Mamuju harus meningkatkan jumlah taman pengajian Al-quran guna memberikan pelajaran tata cara baca Al-quran bagi peserta didik.
"Ini tak bisa dibiarkan harus ada solusi ini menjadi sebuah kemunduran bagi rasa keagamaan kita, sehingga pemerintah harus melakukan secepatnya program peningkatan jumlah taman pengajian alquran sebagai solusi," katanya.

Ia berharap pemerintah tidak berdiam diri dengan kondisi itu sehingga selain wadah yang disiapkan seperti taman pengajian Al-quran tenaga pendidik membaca Alquran juga harus disiapkan agar tidak ada lagi masyarakat kita yang buta dalam membaca Alquran.

Hajrul juga mengatakan, DPRD Mamuju akan segera membahas rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang baca tulis alquran sebagai regulasi atau aturan dalam rangka menekan jumlah masyarakat yang tidak mau mengaji.

"Tahun ini ranperda tentang baca tulis Alquran tersebut akan kita susun dan diharapkan dapat disahkan menjadi perda tahun ini pula, sehingga dukungan pemerintah sangat dibutuhkan pula dalam  penyusunannya," katanya.

Kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mengaku turut prihatin karena sekitar 70 persen siswa muslim di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, tergolong buta aksara Alquran.

"Siswa SD, SMP hingga SMA sederajat di Mamuju masih sangat memprihatinkan karena hasil evaluasi yang dilakukan selama ini tercatat sekitar hanya 30 persen siswa muslim yang mampu membaca Alquran. Artinya, ada sekitar 70 persen buta aksara Alquran,"kata Anggota DPRD Mamuju, H.Hajrul Malik di Mamuju, Jum'at.

Menurutnya, data ini bukan analisis Badan Pusat Statistik (BPS), namun penilaian ini berdasarkan hasil tes yang dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten Mamuju.

"Pemerintah telah membentuk tim penguji baca Alquran yang dikerahkan ke sejumlah sekolah-sekolah di Mamuju sejak sebulan yang lalu. Hasilnya, ternyata siswa muslim yang ada belum mengenal huruf hijaiyah alias buta huruf baca Alquran,"ungkapnya.

Salah satu sampel yang ditemukan kata dia, di SMP 2 Mamuju yang nota bene salah satu sekolah pavorit di daerah ini yang memiliki jumlah siswa 1.200 siswa ternyata tidak cukup 20 persen yang mampu membaca Alquran.

Karena itu kata dia, secara kelembagaan DPRD akan mendorong pembuatan perda pendidikan baca huruf Alquran, melalui hak insiatip DPRD Mamuju.

"Tahun ini kita akan mendorong pembuatan perda baca tulis Alquran. Tentunya, kami inginkan ada pula Yayasan yang bergerak pada bidang pendidikan mendorong pembuatan perda ini," ujar Hajrul.

Politisi PKS ini menambahkan, saat ini pemerintah kabupaten Mamuju telah memprogramkan penuntasan angka buta aksara Al Quran yang dimulai di sekolah-sekolah di kabupaten.

Melalui program ini kata dia, diharapkan kemampuan baca Quran akan menjadi syarat bagi anak yang ingin masuk sekolah.

Ia mengatakan, pemerintah di Mamuju dan Kementerian Agama Kabupaten Mamuju, telah melakukan kerja sama menggairahkan baca tulis Al Quran kepada para siswa dalam menghapus buta aksara Alquran di Kabupaten Mamuju.

"Pemerintah di Mamuju dan Kemenag Mamuju mulai memprogramkan menggairahkan baca tulis Alquran kepada para siswa. Ini tentu akan lebih baik jika dikuatkan lahirnya perda pendidikan baca huruf Alquran," katanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar