Senin, 28 Januari 2013

IMAN, SYUKUR DAN SABAR


Hidup di dunia pada hakekatnya adalah ujian untuk meraih kesuksesan hidup dunia dan akherat. Sebagaimana ujian-ujian yang dilakukan bagi para pelajar pada hakekatnya ujian adalah untuk menaikkan derajatnya. Bahkan seseorang terkadang sengaja mengikuti ujian-ujian tertentu dalam rangka untuk mengetahui kemampuannya. Semakin tinggi derajat yang hendak diraih maka ujian yang dihadapi juga semakin sulit dan berat. Derajat keimanan akan semakin tinggi seiring keberhasilan seseorang dalam mengahadapi ujian atau cobaan yang Allah berikan kepadanya. 

Dalam hadits sahih Rasulullah bersabda, “Orang yang paling banyak mendapat cobaan adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, dan selanjutnya orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi dalam agama. Karena seseorang diberikan cobaan sesuai dengan kualitas agamanya. Jika agamanya teguh, maka ia mendapatkan tambahan cobaan.”

Ujian dengan demikian tidak perlu ditakuti. Ujian mesti dihadapi karena pada hakekatnya ujian adalah suatu kesempatan untuk mengetahui tingkat atau derajat kita. Ujian hidup manusia atas keimanannya juga tergantung pada derajat iman seseorang. Menurut Hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi bahwa iman itu terbagi 2 bagian, yaitu separo ada dalam syukur dan separo ada dalam sabar. Maka syukur dan sabar harus dipegang teguh karena merupakan tanda lulus tidaknya ujian keimanan seseorang.

Syukur dan sabar adalah merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebagaimana kehidupan kita yang terkadang senang atau susah, lapang atau sempit, kaya atau miskin dan lain-lain. Hidup adalah ujian, maka atas kondisi apapun kita ada dalam ujian Allah swt. Pada saat kita mendapatkan kesenangan, kelapangan rizki, menjadi orang kaya ujiannya adalah pandai tidak kita bersyukur. Sedangkan pada suatu ketika kita mendapatkan kesusahan, kesempitan rizki, menjadi orang miskin ujiannya adalah mampu tidak kita bersikap sabar.

Kalau kita sadari banyak sekali nikmat yang telah Allah swt berikan kepada kita dan bahkan kalau mau dihitung sungguh tidak akan sanggup menghitungnya. Maka   sungguh beruntung orang yang mampu bersyukur dan kasihan betul orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat Allah swt yang sangat banyak itu. Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7 yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Dalam ayat ini Allah swt bahkan telah menjanjikan akan menambah nikmatnya bagi siapapun yang pandai bersyukur.

Para ulama mengemukakan 3 (tiga) cara bersyukur kepada Allah. 

Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Hati nurani manusia selalu benar dan jujur. Maka orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Pada hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh tidak lain berasal dari Allah.

Kedua, bersyukur dengan ucapan. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah melafalkan hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca Alhamdu lillahi Rabbil Alamin, maka baginya 30 kebaikan.”

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif.

Dalam surat An-Nahl ayat 78 yang artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Kalau kita pikir lebih dalam, bagaimana jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli? Maka dia tidak dapat berbuat apa-apa, hidupnya dihabiskan di rumah sakit, dan menjadi beban orang lain. Demikianlah nikmat penglihatan, pendengaran, dan akal menjadi nikmat sarana dasar kehidupan manusia. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. 

Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang riwayatkan imam Muslim yang artinya: “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.”

Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga yaitu: pertama, sabar dalam ketaatan kepada Allah. Dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah memang membutuhkan kesabaran, karena pada umumnya jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti: berkata dusta, meningkari janji, memandang sesuatu yang dilarang dan lain-lain. Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah atau malapetaka.

Syukur dan sabar demikian penting sebagai sarana peningkatan kualitas diri dan keimanan seseorang. Untuk itu marilah kita sama-sama berharap akan pertolongan-Nya, semoga Allah Yang Maha Pemurah, senantiasa menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mampu bersyukur dan bersabar. Syukur atas semua nikmat-Nya, bersabar atas ujian yang ditimpakan-Nya. Aamiin


by abdul fadlil
http://blog.uad.ac.id/afadlil/2011/01/29/iman-syukur-dan-sabar/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar