Rabu, 02 Januari 2013

Muhasabah Awal Tahun




Pergantian tahun, hakikatnya tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang sama: memperkuat DZIKRULLAH, mengingat Allah ta’ala. 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran, 3: 190 – 191).

Memahami hakikat ini, setiap kita hendaknya mau meluangkan waktu untuk TADZAKKUR (merenung) dan TAFAKKUR (berpikir). Menyegarkan kembali RUHUL IBADAH, dengan membiarkan tetesan KHAUF (takut) membasahi qalbu. Menghirup sejuknya RAJA’(berharap), TAWAKAL (berserah diri), dan KHUSYU’ (tunduk), dengan RAGHBAH (penuh minat), dan RAHBAH (cemas).

Pergantian waktu ini, hendaknya kita gunakan untuk INABAH (kembali), ISTI’ANAH (memohon pertolongan), ISTI’ADZAH (memohon perlindungan), dan ISTGHOTSAH (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) kepada Allah Ta’ala.

Mari kita bercermin. Adakah ruhani kita tumbuh subur, ataukah kering kerontang? Nafsu manakah yang menguasai jiwa, apakah nafsu AMARAH BISHU yang selalu mendorong pada kejahatan, nafsu LAWWAMAH yang mengombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, ataukah nafsu muthmainnah yang menentramkan jiwa dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah Ta’la ?

Pergantian tahun ini hendaknya menyadarkan kita, tentang pentingnya RI’AYAH MA’NAWIYAH, pemeliharaan maknawi, agar kita terhindar dari penyakit AL-WAHN  (kelemahan jiwa), HUBBUD DUNYA WA KAROHIYATUL MAUT, cinta dunia dan takut mati; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa mendapat AL-GHIDA (gizi) yang cukup, berupa ibadah yang dibarengi ruh, bukan sekedar rutinitas dan seremonial belaka; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa yang sakit mendapatkan ASY-SYIFA (pengobatan), berupa taubat dan istighfar.

Berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas karena Allah dan tidak tercampur oleh syahwat nafsu atau kompetisi dengan orang lain, atau mengejar popularitas atau gegap gempitanya media, atau ikut-ikutan kepada SUFAHA (orang-orang yang bodoh dan tidak memperhitungkan akhirat)?

Coba kita lihat amal yang sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya?
Berapa berat timbangannya, dan berapa banyak pengaruhnya?
Bandingkan antara kebaikan dan keburukan kita?
Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak pula yang kita dapatkan?

Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri. Seandainya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami. Sungguh kami termasuk orang merugi…

***************

Catatan :

Sudah menjadi bagian dari kodratnya, manusia memilki sifat mudah lupa, khilaf, kikir dan berkeluh kesah, dan terkadang lemah saat menghadapi godaan yang gencar dari segala penjuru. Menyadari begitu rentan dan lemahnya kita sebagai manusia dari godaan setan yang menyesatkan dan menghalangi kita dari ajaran Allah serta melalaikan kita dari mengingat-Nya, maka jelas pemahaman dan kesadaran untuk selalu murâqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah) dan muhâsabah (introspeksi diri) adalah satu keharusan.

Introspeksi diri atau Muhâsabah adalah kewajiban yang sangat penting dilakukan. Ia adalah kunci kemuliaan dan kebersihan diri seorang muslim. Banyak ayat Al-qur’an yang menyiratkan perintah muhâsabah ini, antara lain seperti dalam QS. Ali Imran: 30

"Pada hari kiamat tiap-tiap diri memperoleh segala kebajikan yang telah ia lakukan dihadirkan kepadanya, begitu pula dengan kejahatan yang ia kerjakan. Ia ingin agar kejahatan itu dijauhkan darinya. Dan memperingatkanmu terhadap siksa diri (siksa)-Nya. Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya“

Muhâsabah adalah jalan orang-orang yang beriman. Seorang mukmin yang bertakwa kepada Rabb-nya akan selalu memuhâsabahi dirinya. Evalusi diri menjadi suatu yang penting untuk tetap menjaga keseimbangan diri agar selalu berada di jalan yang benar.

Al-Hasan berkata: "Sungguh Allah merahmati seorang hamba yang memperhatikan keinginannya dan melakukan muhâsabah terlebih dahulu. Apabila pekerjaan itu karena Allah dia segera melaksanakannya, namun bila perbuatan itu bukan karena-Nya dia meninggalkannya secepatnya"

Cara Mengevalusi dan Mengetahui Kekurangan Diri

Sesungguhnya bila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan memberikan kesempatan kepada hamba tersebut untuk mengetahui aib dan kekurangannya untuk diperbaiki di kemudian hari. Dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-dîn, Imam Al-Ghazali menyebutkan empat cara yang bisa digunakan untuk mengetahui kekurangan diri sendiri:


Pertama; duduk di hadapan seorang syekh yang bisa melihat aib dan kekurangan diri, minta pengarahan darinya untuk menunjukkan kekurangan yang ada sekaligus meminta solusi bagaimana menutupi kekurangan-kekurangan tersebut.

Kedua; meminta kepada kawan yang jujur dan baik dalam beragama untuk mengawasi dan mengingatkannya serta menunjukkan kepadanya kekurangan dirinya. Dalam sebuah pepatah dikatakan; temanmu adalah orang yang berkata benar tentangmu, bukan orang yang selalu membenarkanmu.

Ketiga; memanfaatkah lidah para musuh. Orang yang dihatinya ada kedengkian dan permusuhan akan selalu mencari-cari kekurangan orang yang dimusuhinya. Hal ini ini bisa dimanfaatkan untuk mengetahui celah-celah diri dan kemudian memperbaikinya.

Keempat; memperluas pergaulan dan interaksi. Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Ia dapat memperhatikan tingkah laku orang-orang yang ada di sekitarnya untuk memperbaiki dirinya.

Bisa ditambah satu lagi yaitu dengan meluangkan waktu untuk memikirkan tentang diri sendiri. Tentang perjalanan hidupnya yang panjang, apa saja yang sudah ditemuinya, apa yang sudah ia lakukan selama ini, bagaimana hubungannya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat dan lingkungannya sekitarnya. Apakah masih tetap harmonis ataukah terdapat kelalaian di sana sini.

Apa kewajiban yang belum ia tunaikan, apa saja tugas yang belum ia laksanakan. Bagaimana gambaran dan visi misi hidupnya ke depan. Apakah yang ia lakukan saat ini sejalan untuk meraih kehidupannya yang lebih baik atau itu tidak.

Proses muhasabah yang rutin seperti ini akan sangat membantu dalam menjadikan kehidupan lebih dinamis. Hidup menjadi lebih terarah dan waktu demi waktu dilalui dengan penuh kepuasan dan kesadaran tinggi yang tinggi. Di penghujung jalan sana ada akhir yang indah menanti atas segala usahanya selama ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar