Rabu, 02 Januari 2013

Takut Kepada Allah dan Siksa-Nya




Jalan keselamatan dari bahaya hawa nafsu dan syahwat adalah dengan memperkuat rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagaimana adzab-Nya yang amat pedih, dan bahwasannya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu mengadzabnya secara tiba-tiba dalam keadaan ia tidur di waktu malam atau bermain di waktu dhuha, Allah Ta’ala berfirman,

 Apakah penduduk negeri itu merasa aman untuk ditimpa adzab Kami di waktu malam dalam keadaan mereka tidur? Ataukah penduduk negeri itu merasa aman untuk ditimpa adzab Kami di waktu dhuha dalam keadaan mereka bermain? Apakah merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 97-99)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu untuk mencabut keberkahan hidupnya dan menimpakan kepadanya berbagai macam malapetaka dan kesempitan hati. Jadilah dia seorang yang kehilangan kebahagiaan dan ketenangan. Kenikmatan yang ia rasakan hakikatnya adalah buah simalakama yang mengulurnya agar lebih bertambah kesesatannya dan bertambah penderitaan batinnya yang berakhir dengan kebinasaan.

Tatkala mereka meninggalkan apa yang telah diperingatkan, Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu segala kesenangan, sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, tiba-tiba Kami adzab ia dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Apabila engkau melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba apa yang ia sukai akibat maksiat-maksiatnya sesungguhnya ia adalah istidraj (penguluran waktu agar lebih sesat) kemudian beliau membacakan ayat di atas.” (HR Ahmad dan lainnya).[1]


Berjuang Melawan Hawa Nafsu

Maka hendaknya kita berjuang melawan hawa nafsu. Imerupakan jihad yang agung sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
Dan jihad yang paling utama adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah.” (HR Ibnu Nashr)[2]

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa jihad melawan diri sendiri lebih dikedepankan dari pada jihad melawan musuh, beliau mengatakan, ”Tatkala jihad melawan musuh-musuh Allah adalah cabang dari jihad seorang hamba melawan dirinya di jalan Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
            “Mujahid adalah orang yang menjihadi dirinya dalam rangka menta’ati Allah, dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.“ (HR Ahmad)[3]

Maka jihad melawan diri sendiri untuk menaati Allah lebih didahulukan dari pada jihad melawan musuh, bahkan jihad ini merupakan inti jihad itu snediri. Orang yang tidak mampu berjihad melawan dirinya sendiri untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tidak mungkin ia mampu berjihad melawan musuh.

Bagaimana ia mampu berjihad melawan musuh, sementara musuh yang ada pada dirinya sendiri telah menguasai dirinya. ia tidak mampu berjihad melawannya di jalan Allah?! 

Ia pun tidak mungkin keluar melawan musuh sampai ia menaklukkan dirinya agar berani keluar ke medan pertempuran.
Dua musuh ini adalah sebagai ujian bagi seorang hamba. Selain itu, di antara dua hal tersebut terdapat juga musuh yang ketiga bagi manusia. Tidak mungkin jihad melawan dua musuh yang pertama kecuali menaklukkan musuh yang ketiga –yang hakikatnya musuh yang utama- Musuh ini selalu menggembosi hamba untuk takluk terhadap dirinya dan musuhnya, menakut-takuti hamba dan terus-menerus membayang-bayangi seorang hamba dengan sesuatu yang amat berat, dimana ia akan meninggalkan kesenangan, kelezatan dan syahwatnya.

Tidak mungkin ia menjihadi diri dan musuhnya kecuali dengan menjihadi yang ketiga ini, ia adalah pondasi untuk kedua jihad itu, musuh yang ketiga itu adalah setan, Allah berfirman :

Sesungguhnya setan itu musuh untuk kalian, maka ambillah ia sebagai musuh.”

Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh adalah sebagai peringatan untuk mengeluarkan seluruh kemampuan kita dalam rangka memerangi dan menjihadinya. Ia adalah musuh yang tak pernah lelah dan tidak pernah berkurang baik jumlah maupun semangat mereka, untuk memerangi seorang hamba selagi nafas hamba tersebut masih ada.“[4]

Namun janganlah pembaca memahami bahwa perkataan di atas dianggap meniadakan jihad melawan musuh, karena ini adalah konsekwensinya. Dan jihad melawan musuh tentu telah ada aturannya dan telah dibicarakan oleh para ulama, namun pada kesempatan ini kami tidak akan membahasnya.


Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.
http://padistudio.wordpress.com/2012/03/30/takut-kepada-allah-dan-siksa-nya/




[1] Ahmad dalam musnadnya no.17349 dari jalan Risydin bin Sa’ad Abul Hajjaj Al-Mahri dari Harmalah bin Imran At-Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurutku, “Sanad ini dha’if karena Risydin adalah perawi yang dha’if sedangkan perawi lainnya tsiqah (terpercaya). Namun ia di-mutaba’ah oleh Abdullah bin Shalih Al-Mishri sebagaimana dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, no.913. Abdullah ini adalah Katib Laits dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Fiihi liin (terdapat kelembekan)”. Sehingga hadis ini naik menjadi hasan ligharihi. Juga di-mutaba’ah oleh Hajjaj bin Sulaiman Ar-Ra’ini dikeluarkan oleh Ad-Dulaabi dalam Al-Kuna no. 605 tahqiq Abu Qutaibah Al-Faryani dan Hajjaj ini dikatakan oleh Abu Zur’ah munkarul hadis dan ibnu Hibban berkata, “Haditsnya mu’tabar (dianggap) bila ia meriwayatkan dari tsiqah (orang terpercaya).” Maka hadis ini menjadi semakin kuat dan hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam silsilah shahihah no.413.

[2]  Lihat Silsilah Shahihah, no.1491.

[3] Al-Musnad, no.24004, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilah Shahihah, no.549.

[4] Zadul Ma’ad 3:6 Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar