Senin, 04 Mei 2009

Arti dan makna kata rahmat

Jika merujuk tafsir Al-Qur’an, kata rahmat yang tersirat mengindikasikan banyak arti, misalnya ;

1.(QS. al-Isra[17]:28), jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhan mu yang kamu harapkan.
Kata rahmat dapat bermakna Rezeki

2. (QS. Hud [11]:9), jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa dan lagi tidak berterima kasih.
Kata rahmat dapat bermakna Nikmat

3. (QS. Asy-Syura[42]:28), Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebutkan rahmat-Nya.
Kata rahmat dapat bermakna Hujan

4. (QS. az-Zukhruf [43]:32), Apa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan mu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Kata rahmat bermakna Risalah Kenabian.

Prof.Dr. Muhammad Mutawali dalam bukunya tafsir Asy-Sya’rawi ;

“Allah SWT disebut Dzat Yang Maha Penyayang di dunia karena banyaknya makhluk Allah yang tercakup oleh sifat rahmat-Nya ini.
Rahmat Allah SWT di dunia berlaku umum kepada makhluk-Nya, baik orang mukmin, pelaku maksiat, maupun orang kafir. Di dunia Allah SWT memenuhi semua kebutuhan mereka secara merata tanpa memperhitungkan dosa-dosa mereka. Dia memberi rezeki dan ampunan kepada mukmin dan non-mukmin.
Dengan demikian, semua manusia di dunia mendapat rahmat-Nya tanpa memandang apakah mereka beriman atau tidak. Akan tetapi, di akhirat Allah SWT hanya memberikan rahmat kepada orng mukmin saja, sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak akan memperoleh Rahmat-Nya.
Oleh karenanya penerima rahmat di akhirat jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan saat berada di dunia.

Dalam Ensiklopedia Ar-Rahman Ar-Rahim, kata rahmat dari segi bentuknya, berarti suatu ungkapan dari sekumpulan perasaan yang memiliki hubungan yang tidak terputuskan (saling berhubungan erat) saat menghadapi suatu kejadian atau orang tertentu. Dengan demikian penjelasan diatas mengantarkan kita pada adanya sifat perasaan dalam diri manusia.

Pertanyaannya, “ apa yang dimaksud dengan perasaan ? ”

Jawabannya, perasaan adalah suatu emosi yang muncul sebagai hasil dari proses kimiawi dalam otak manusia.

Pertanyaan berikutnya, “ apakah yang disebut dengan otak ? ”

Jawabannya, otak adalah sebuah laboratorium kimia yang rumit.

Pertanyaan berikutnya, “ apa yang disebut dengan laboratorium kimia (yang terjadi dalam otak manusia) ? ”

Jawabannya, suatu piranti lunak yang menjadi inti dari segala perubahan (transformasi) kimiawi yang terjadi terus menerus tanpa henti dengan kerja yang sangat menakjubkan. Aktivitas ini menghasilkan pemikiran, perasaan takut, ambisi, cita-cita, rencana dan lain sebagainya.

Maka sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan kehidupan di atas bumi ini dengan rahmat-Nya, dan berkat rahmat-Nya pula kehidupan terus berjalan, sehingga sekalipun bumi ini kering dan tandus, maka berkat rahmat-Nya hujanpun turun sebagai sumber kehidupan dan anugerah-Nya.
Kehidupan diatas muka bumi ini sama dengan kehidupan di dalam hati. Allah telah menciptakan hati, lalu Dia menghiasinya dengan keindahan Rahmat-Nya.

(QS.at-Tin [95]:4), Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Allah SWT meninggikan derajat manusia dengan memberikan nya akal dan hikmah, mengistimewakan nya dengan penglihatan yang baik, dan bentuk tubuh yang indah, menjadikan struktur tubuhnya berfungsi dengan aturan-aturan yang harmonis dan penuh keindahan.

Contoh paling utama orang yang mendapatkan rahmat Allah SWT, adalah Nabi Muhammad.
Dalam Al-Qur’an difirmankan bahwa karena Beliau mendapat rahmat Allah, maka Beliau itu lemah-lembut dan penuh pengertian kepada sekalian orang sekeliling Beliau. Tanpa pernah menunjukkan sikap kasar dan bengis kepada mereka.

(QS. Alu-Imran[3]:159), Maka dengan rahmat Allah, engkau ( Muhammad ) berlaku lemah lembut kepada mereka. Kalau seandainya engkau itu bengis dan keras hati, maka tentulah mereka akan buyar dari sekeliling engkau.

Oleh karena itu Nabi diperintahkan Tuhan untuk mengajak mereka bermusyawarah dalam membuat keputusan-keputusan bersama, dan perintah Tuhan itu Beliau laksanakan denganteguh dan setia.

NB : Tulisan ini, adalah inti sari yang coba disimpulkan dari tiga ( 3 ) sumber, yaitu : 1. Tafsir Al-Qur'an, 2. Tafsir asy-Sya'rawi karya Prof.Dr. Syech Muhammad Mutawali, 3. Raudhah an-Naim fi ma'rifah ar-Rahman ar-Rahim karya Sayyidah Hanan Fathi.

Semoga bermanfaat....

Salam,
Hilman Muchsin

1 komentar:

  1. Subhanallah..
    Bermanfaat sekali tulisan ini bagi saya.
    Saya telah baca dan simpan page ini.
    Terima kasih atas sharing ilmunya.

    Salam
    M.H.Haikal

    BalasHapus