Selasa, 05 Mei 2009

Kiai

Oleh : Abdul Djamil

PEMUDA jebolan pesantren terkenal itu bersungut-sungut tatkala pembawa acara pengajian tak menyebut kiai di depan namanya, sementara sesepuh kampung yang tak pernah menamatkan Kitab Taqrib (kitab fikih yang beredar di dunia pesantren), malah diberi gelar Kiai Haji masih ditambah almukarrom. Apa mau dikata gelar kiai memang tak ada dasar juridisnya dan tak ada SK serta juklaknya. Parameternya juga tak jelas sebagaimana ketidakjelasan asal usul kata (etimologi) dan penerapannya. Maka harap dimaklumi kalau pemakaiannya sering tidak bisa diduga dan kurang tepat sasaran. Pada suatu saat ia dipakai untuk nama sebilah keris sakti seperti Kiai Crubuk dan di kali lain dipakai untuk nama seekor kerbau yang dianggap keramat seperti Kiai Slamet. Masyarakat pun tak mau ambil pusing dengan penerapan kata yang tidak konsisten ini. Dengan ilmu titen mereka sudah tahu kalau Kiai Slamet itu jelas bukan seorang alim yang fasih membaca kitab kuning dan mengajar di pesantren.

Di tengah-tengah ada syahwat tinggi untuk disebut kiai, ada yang malah risih mendapat gelar ini karena sehari-hari selalu tampil necis berdasi dan tidak pakaikopiyah dan sorban. Meski fasih berbahasa Arab dan paham betul mubtada' khabar (subjek dan predikat) dalam tata bahasa Arab, ia malu mendapat julukan itu. Pasalnya, ya penampilan sehari-hari itu yang menjadikan masyarakat tak mau memberi julukan kiai. Dia pun tak mau ambil pusing, apakah layak disebut kiai atau tidak. Baginya gelar itu justru membelenggu kreativitasnya karena harus tampil dengan sederet kepatutan seperti memakai kopiyah atau sorban, sedikit bicara dan tak lupa melumuri tangan dengan minyak Arab untuk persiapan manakala banyak santri yang ingin mencium tangannya untuk tabarrukan.

Clifford Geertz yang dedengkotnya peneliti Agama Jawa (The Religion of Java) pernah menulis mengenai kiai yang disebutnya sebagai makelar (broker). Bukan makelar sapi atau sepeda motor tetapi makelar budaya (cultural broker) yang memiliki posisi menentukan dalam mengubah jalannya kebudayaan. Jangan heran kalau komentar kiai bisa amat menentukan dalam masyarakat. Pada saat jelang Pilkada banyak calon yang minta restu pada kiai dan semua calon boleh jadi mendapatkan restu kiai sehingga sang calon bingung sendiri seraya bergumam "pak kiai itu mendukung siapa sih kok sana diberi restu dan didoakan dan saya juga didoakan". Pak kiai pun tak merasa menciptakan antagonisme karena yang punya wewenang itu Allah bukan manusia, jadi apa salahnya semua didoakan. Pemberontakan Petani Banten, disertasi Sartono Kartodirjo memberikan uraian akan keterlibatan sejumlah kiai dalam aksi perlawanan terbuka terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1888 di Cilegon, Banten. Demikian pula dengan Kiai Mojo dan Kiai Ahmad Rifa'i yang keduanya diasingkan ke luar Jawa dan dimakamkan di Kampung Jawa Tondano Menado adalah contoh betapa keberadaannya amat menentukan di tengah-tengah masyarakat.

Rifa'i adalah kiai politik karena ajarannya mengandung perlawanan terhadap pemerintah dalam kerangka amar makruf nahi munkar. Seperti biasa, kiai macam ini akan menjadi tumbal bagi "keberanian"-nya untuk masuk kawasan politis di luar ajaran agama murni (mahdah). Pada masa Orde Baru ada kiai yang dilarang tampil berpidato di depan publik karena bicaranya terlalu keras mengusik kemapanan dan akibatnya ia selalu diawasi karena omongnya suka clemang-clemong terhadap pemerintah.

Pesantren sebagai lembaga yang dianggap memproduk kiai juga tak ambil pusing manakala alumninya tak mendapat julukan kiai karena di pesantren sendiri banyak cerita seputar kiai yang nasibnya tak selalu mulus pada akhir hayatnya. Kalaupun seorang alumni pesantren menjadi kiai di desanya, ya alhamdulillah kalau tidak,insya Allah ada tugas mulia lainnya meski terpaksa tak jadi kiai.

Kalau di televisi sebutan ahli agama amat beragam tak terbatas kiai tetapi juga ustaz. Sebutan ini dulu dipakai untuk guru madrasah yang penuh dedikasi mengajarkan agama pada anak-anak didik dengan gaji yang serba pas-pasan. Sekarang yang namanya ustaz, apalagi di bulan Ramadan nanti penampilannya oke, orangnya keren, gaya bicaranya atraktif, busananya dirancang secara khusus dan pemirsa pun menanti dakwahnya. Namanyapun tak seperti nama santri pondok tradisional bahkan mirip-mirip dengan nama bintang film sehingga pas disebut ustaz masa kini. Yang ini tentu tak mudah untuk diundang dakwah di pengajian kampung karena musti berurusan dengan organizernya, tak bisa langsung to the point. Namanya sudah telanjur ngepop ya musti membutuhkan pengorganisasian yang rapi dan profesional, padahal yang kayak begini tak masuk dalam kurikulum pondok pesantren yang lebih banyak menerapkan "ilmu ikhlas".

Seorang kiai desa dengan tugas keagamaan memberantas buta huruf Alquran anak-anak desa, tak mematok honorarium untuk jasanya. Sebagai gantinya ia cukup diberi ganti minyak untuk lampu penerang para santri untuk mengaji. Memang bersahaja tetapi mereka toh banyak melahirkan tokoh-tokoh yang antara lain malang melintang di Senayan sebagai DPR yang kiai dan kiai yang DPR. Disegani kawan karena kekiaiannya dan dohormati lawan juga karena kekiaiannya. Betapa murahnya pendidikannya ketika ia belajar dengan kiai yang hanya meminta urunan ganti minyak penerang saja.

Entah dari mana Emha Ainun mendapat cerita Kiai Slilit yang menggambarkan keharusan kiai untuk berhati-hati dalam soal dosa hingga yang sekecil-kecilnya. Alkisah tersebutlah seorang kiai yang menghadiri kenduri di rumah tetangganya dan makan begitu lahab jamuan yang suguhkan termasuk daging kambing kesukaannya hingga kenyang. Saat pulang ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di sela giginya, daging yang terjepit di antara dua gigi. Sambil ngobrol dengan sesama kiai ia mengambil seutas tali di pagar tetangganya untuk mencongkel daging yang terselib di giginya. Nah liding dongeng, ketika meninggal dunia, kiai ini amat sulit masuk surga karena terganjal oleh perkara seutas tali di pagar tetangganya yang diambil tanpa izin. Bagi orang kebanyakan tindakan seperti ini dianggap lumrah tetapi bagi seorang kiai, akan berakibat lain karena ia adalah sosok yang jadi panutan atau kaca benggala dalam kata dan perbuatan.

Tak usah heran manakala suatu saat nanti ada kejenuhan pemakaian kosakata kiai karena tak lagi berwibawa seperti masa lalu. Tak usah bersedih hati karena di samping sebutan ustaz masih ada cadangan kata lainnya untuk memberi julukan pada tokoh agama yang punya wibawa yaitu syekh. Masih sedikit yang mendapat julukan ini misalnya Syekh Nawawi al-Bantani penulis tafsir Marah Labid, Syekh Maulana Maghribi, Syekh Arsyad al-Banjari. Syekh lainnya akan segera datang menghiasi sejarah orang-orang berilmu dan beramal, satu antara kata dan perbuatan, sedikit bicara banyak menulis, banyak mengabdi tak mematok honorarium. Wallahua'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar