Minggu, 03 Juni 2012

Meraih Kekayaan Hakiki




Setiap orang tentu menginginkan memiliki kekayaan yang cukup, bahkan berlimpah. Namun, tidak semua orang bisa membangun kekayaan tersebut. 

Mengapa bangsa Indonesia hidup dalam kemiskinan padahal negerinya kaya raya? Mengapa pula banyak pengusaha yang bangkrut dan terlilit utang dan hanya sedikit yang benar-benar berhasil?

Membangun kekayaan bisa dimulai detik ini juga, tidak peduli seperti apa keadaan kita sekarang. Menjadi kaya atau miskin tidak ditentukan oleh banyaknya uang atau aset yang kita miliki hari ini. Menjadi kaya atau miskin ditentukan oleh cara kita hidup dan bermain. Menjadi kaya atau miskin adalah persoalan karakter.

Buku ini mengajak pembaca untuk mengelola diri agar menjadi pribadi yang kaya. Jika ingin kaya, apa yang harus dilakukan? Lewat buku ini penulis mengajukan sembilan pertanyaan fundamental kepada orang yang ingin kaya, sudah kaya, dan yang ingin tetap kaya.

Sembilan pertanyaan tersebut adalah seberapa besar kapasitas yang anda siapkan, mampukah anda mendahulukan diri anda, kepada siapa anda berkomitmen, ke manakah fokus anda arahkan, seberapa murah biaya hidup anda. Selain itu, seberapa cerdas anda menggunakan daya ungkit, bagaimana cara anda menyikapi risiko, dan di level manakah anda bermain?

Banyak orang yang gamang memahami konsep ‘kaya’. Banyak di antara kita yang menganggap orang kaya adalah yang tampil ‘wah’ dengan mobil bagus, bisa jalan-jalan ke luar negeri, punya rumah megah, atau bisa enteng membayar segelas kopi dengan harga sekarung beras.

Banyak sahabat Rasulullah SAW yang merupakan orang kaya. Antara lain, Abu Bakar Ash-Shidiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Umar bin Khathab. Selain kaya mereka juga mulia. Dan memang mentalitas dan pola pikir orang kaya adalah ingin menjadi kaya sekaligus mulia. Sebaliknya, mentalitas orang miskin menganggap kaya dan mulia adalah dua hal yang berbeda.

Mereka membangun bisnis dan kekayaan dengan kerja keras dan ketakwaan. Dan bukan dari hasil riba. Bisnis dengan menggunakan uang riba memang menggiurkan. Modal besar bisa diperoleh dalam waktu singkat dan persyaratan yang ringan. 

Namun, bisnis yang mengandalkan riba hanya menghasilkan keuntungan dan kesuksesan semu. Ini beda dengan bisnis yang dikelola berdasarkan nilai-nilai agama yang mulia. Dengan berpegang teguh pada agama maka bisnis akan membawa semangat keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan saling menolong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar