Jumat, 23 Januari 2015

Allah dan ‘Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk



Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam hati-nurani tiap makhluk
"Dimanakah sebenarnya Allah berada?". Padahal 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Gaib dan
Maha Suci, memang tersucikan dari segala sesuatu hal, termasuk mustahil bisa dicapai
atau dijangkau oleh segala alat indera pada tiap makhluk (termasuk para malaikat-Nya
dan para nabi-Nya), di dunia dan di akhirat. Maka berikut ini diungkap, bahwa Allah
dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk. Walau hal ini juga tetap
bukan letak keberadaan Zat Allah, tetapi letak pemahaman tentang Allah.
https://islamagamauniversal.files.wordpress.com/2011/08/bd21315_up.gif?w=500&h=14
Daftar isi
·         Pendahuluan.
·         Kesimpulan.
https://islamagamauniversal.files.wordpress.com/2011/08/bd21427_.gif?w=500&h=5
Pendahuluan
Adanya berragam keterangan dalam kitab suci Al-Qur'an tentang keberadaan Allah, yang diungkap di bawah, sedikit-banyak justru telah bisa menimbulkan kebingungan pada sebagian kalangan umat Islam, khususnya jika ayat-ayatnya yang terkait dipahami secara 'tekstual-harfiah'. Tetapi jika umat justru telah bisa memahami 'hikmah dan hakekat', yang terkandung 'di balik' teks ayat-ayatnya, maka umat juga mestinya tidak perlu mengalami kebingungan. Bahkan umat sekaligus bisa membenarkan ayat-ayat tersebut.
Maka dalam uraian-uraian di bawah akan diungkap pendapat penulis, bahwa "Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk". Walau hal ini bukan berupa 'letak keberadaan' Zat Allah, namun hanya berupa 'letak pemahaman' tentang Allah. Juga akan diungkap, bahwa pendapat tentang keberadaan Allah seperti ini, bahkan justru telah bisa menghubungkan, mencakup atau mewakili semua ayat tersebut, secara 'sekaligus' (semua ayatnya tetap relatif benar). Selain itu, pendapatnya justru tetap berdasar atas "ke-Esa-an Allah" (tauhid), karena memang sama sekali tidak terkait dengan 'esensi' Zat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Gaib dan Maha Suci.
Keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an
Berikut inipun diungkap ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menerangkan tentang keberadaan Allah, seperti: "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4), "di langit" (pada QS.67:16), "Maha Dekat" (pada QS.34:50), "dekat" (pada QS.2:186), "lebih dekat daripada urat leher" (pada QS.50:16), "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" (pada QS.56:85) dan "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7, QS.2:115), beserta ayat-ayat lainnya yang terkait.
"Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. …" – (QS.7:54) dan (QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4).
"Apakah kamu merasa (aman) terhadap Allah, Yang di langit, bahwa Dia menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang," – (QS.67:16).
"…. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, lagi Maha Dekat." – (QS.34:50).
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. …" – (QS.2:186).
"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih (dekat) kepadanya daripada urat lehernya," – (QS.50:16).
"dan Kami lebih dekat kepadanya (nyawamu), daripada kamu. Tapi kamu tidak melihat," – (QS.56:85).
"…. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan." – (QS.57:4).
"…. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka, di manapun mereka berada. …" – (QS.58:7).
"Dan kepunyaan-Nya-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah (ada) wajah-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui." – (QS.2:115).

"Dan Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah 'Arsy-Nya di atas air (di langit), …" – (QS.11:7).
"Allah, tiada Ilah Yang disembah, kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai 'Arsy yang besar'." – (QS.27:26).
"Katakanlah: 'Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh, dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?'. …" – (QS.23:86-87).
"…. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." – (QS.2:255).
'Esensi' Zat Allah, tersucikan dari segala sesuatu hal
Perlu diketahui, bahwa tiap zat pasti memiliki 'esensi' dan/atau 'perbuatan'. Karena keberadaan suatu zat telah terbukti, jika salah-satu dari keduanya bisa dibuktikan. Namun 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Gaib dan Maha Suci, memang tersucikan dari segala sesuatu hal, termasuk mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh segala alat indera 'lahiriah' (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dsb) dan alat indera 'batiniah' (hati / kalbu), pada tiap makhluk ciptaan-Nya (bahkan juga termasuk para malaikat-Nya dan para nabi-Nya), di dunia dan di akhirat. 'Esensi' Zat Allah juga mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Maka keberadaan Zat Allah memang hanya bisa dibuktikan, melalui pengamatan atas hasil segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya").
Hal itu relatif mudah dipahami, karena segala sesuatu hal di alam semesta, tentunya hanya berupa hal-hal yang bisa dijangkau oleh segala alat indera lahiriah ataupun batiniah pada tiap makhluk, secara langsung ataupun tidak (tanpa / dengan alat). Sedangkan segala sesuatu hal yang bisa dipikirkan oleh tiap makhluk, tentunya hanya hasil dari segala olahan akalnya, berdasar atas hal-hal yang telah bisa dijangkau oleh segala alat inderanya (hampir mustahil memikirkan hal-hal yang justru sama sekali tidak diketahuinya sedikitpun).

Padahal di lain pihak, "tidak ada sesuatupun di alam semesta, yang setara ataupun serupa dengan 'Zat Allah'". Maka 'esensi' Zat Allah tentunya sama sekali berbeda, daripada hal-hal yang bisa dijangkau, oleh segala alat indera dan akal-pikiran pada 'segala' makhluk. Sedangkan hasil dari segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta, tentunya hanya berupa hal-hal yang bisa dijangkau, oleh segala alat indera dan akal-pikiran pada 'segala' makhluk (pasti 'terwujud' melalui segala sesuatu hal yang terdapat di alam semesta).
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, …" – (QS.6:103) dan (QS.50:33).
"dan tidak ada seorangpun (sesuatupun), yang setara (serupa) dengan Dia." – (QS.112:4) dan (QS.42:11).
Membicarakan 'esensi' Zat Allah, bisa melahirkan kemusyrikan
Sedangkan segala usaha manusia dalam membicarakan, menguraikan, menjelaskan, mendefinisikan ataupun mendeskripsikan tentang 'esensi' Zat Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta yang sebenarnya, justru pasti akan menghadapi segala dilema atau kegagalan. Terutama hal inipun pasti melahirkan segala bentuk 'ketidak sempurnaan', dalam pemahaman umat manusia tentang sifat-sifat Allah, Tuhan Yang Maha Sempurna.
Bahkan paling parahnya, hal ini justru bisa melahirkan segala bentuk 'kemusyrikan' (menyekutukan Allah), seperti halnya yang biasanya diketahui terjadi, pada agama-agama yang 'musyrik' (Tuhannya 'tidak sempurna', dan berupa seperti: para malaikat, para dewa, manusia biasa, patung / berhala, dsb). Dengan diakui ataupun tidak, hal ini justru biasanya sekaligus pula melahirkan 'banyak' Tuhan (politeisme), yang masing-masingnya bisa relatif 'sempurna', hanya terbatas dalam hal-hal tertentu saja. Maka agama-agama seperti itupun perlu 'banyak' Tuhan, agar bisa terbentuk kesempurnaan ketuhanan yang utuh.
"Maha Suci dan Maha Tinggi Dia, dari apa yang mereka katakan (sifatkan), dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." – (QS.17:43) dan (QS.21:22, QS.23:91, QS.37:159, QS.43:82).
"…. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan." – (QS.16:1) dan (QS.10:18, QS.28:68, QS.30:40, QS.39:67).
"…. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." – (QS.2:22) dan (QS.4:36, QS.6:150-151, QS.16:74, QS.18:110, QS.28:87, QS.30:31, QS.31:13).
Tidak ada keterangan tentang 'esensi' Zat Allah, dalam kitab suci Al-Qur'an
Perlu diketahui pula, bahwa dalam kitab suci Al-Qur'an justru tidak pernah disebut tentang 'esensi' Zat Allah, namun hanya disebut tentang segala 'perbuatan' Zat Allah. Juga serupa halnya dengan seluruh sifat dan nama Allah, tidak ada yang terkait dengan 'esensi' Zat Allah. Bahkan sifat-sifat-Nya yang seolah-olah terkait dengan 'esensi' Zat Allah, antara lain: Ada (wujud), Maha Esa, Maha Gaib (Tersembunyi), Maha Kekal, Maha Awal, Maha Akhir, Maha Hidup, dsb, justru hanya diperoleh dari mempelajari segala hasil 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta, seperti halnya bagi seluruh sifat-Nya lainnya.
Tentunya untuk memahami hal di atas, umat Islam memang mestinya mempelajari kitab suci Al-Qur'an, kitab-kitab Hadits Nabi, ataupun bahkan segala kitab dan risalah dari para nabi-Nya terdahulu, secara amat hati-hati dan cermat, ayat-per-ayat. Hal seperti ini amat perlu dilakukan, agar umatpun bisa menjawab, "apakah para nabi-Nya benar-benar pernah menerangkan, tentang 'esensi' Zat Allah?", "apakah nabi Musa as benar-benar bisa melihat dan berbicara dengan Allah?" dan "apakah segala perbuatan Allah di alam semesta (selain penciptaan paling awalnya), benar-benar dilakukan 'langsung' oleh Allah sendiri?".
Sedangkan jawaban penulis atas semua pertanyaan seperti ini jelas "tidak". Karena segala makhluk mustahil menjangkau 'segala sesuatu hal' tentang tiap ciptaan-Nya, apalagi tentang Zat Allah; 'esensi' dan 'perbuatan' Allah justru sama sekali berbeda daripada segala sesuatu hal pada tiap ciptaan-Nya; Allah bernteraksi dengan segala makhluk hanya semata dari balik 'hijab-tabir-pembatas' (pasti melalui perantaraan wahyu dan para utusan-Nya); kalam atau wahyu yang 'sebenarnya' hanya berupa 'alam semesta' (bentuk wahyu lainnya berupa hasil pemahaman atas alam semesta); juga segala perbuatan Allah di alam semesta (selain penciptaan paling awalnya), justru dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya, berdasar segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak.
Baca pula Sunatullah sebagai wujud perbuatan Allah, yang perwujudannya memang dilaksanakan oleh segala makhluk ciptaan-Nya (terutama para malaikat-Nya). Serta juga Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk.
Lalu mungkin timbul pertanyaan "apakah keterangan tentang Allah, seperti: 'kursi', 'wajah', 'tangan', 'kaki', 'pendengaran', 'penglihatan', dsb, bukan menunjukkan 'esensi' Zat Allah?". Jawaban ringkasnya, "hal-hal seperti ini hanya 'contoh-perumpamaan simbolik', bukan fakta-kenyataan yang sebenarnya". Baca pula pada uraian berikut.
Segala hal 'gaib' mestinya selamanya tetap bersifat 'gaib'
Hal yang relatif sering dilupakan oleh tiap umat Islam, bahwa hal-hal 'gaib' mestinya tetap ditempatkan sebagai 'gaib' (mestinya mustahil memiliki wujud 'fisik-lahiriah-nyata'), termasuk mustahil bisa dirasakan atau diketahui, melalui segala alat indera fisik-lahiriah. Hal-hal 'gaib' hanya semata bisa dirasakan atau diketahui, melalui alat indera batiniah pada zat ruh tiap makhluk ("hati / kalbu"), ataupun lebih luasnya melalui akal-pikirannya.
Dengan sendirinya, pada pemahaman umat atas segala keterangan dalam kitab suci Al-Qur'an, tentang hal-hal 'gaib', juga mestinya tetap ditempatkan sebagai 'gaib', seperti: 'esensi' dan 'perbuatan' Zat Allah; 'Arsy-Nya; Kitab mulia (Lauh Mahfuzh); zat ruh; para makhluk gaib; alam akhirat (Surga dan Neraka); Hari Kiamat; Qadla dan Qadar (Takdir); dsb. Maka segala keterangan seperti itu mestinya sekaligus tetap tidak dibandingkan atau dipadankan begitu saja, dengan segala wujud 'fisik-lahiriah-nyata'. Khusus terkait dengan keberadaan Zat Allah, tentunya mestinya sama sekali tidak bisa ditunjuk 'disini' / 'disitu'.
Di samping itu pula, bahwa dalam kitab suci Al-Qur'an justru banyak dipakai segala bentuk "contoh-perumpamaan simbolik". Hal ini dipakai terutama untuk bisa meringkas, menyederhanakan dan memudahkan segala penjelasan bagi hal-hal gaib dan batiniah, yang sebenarnya relatif amat rumit dan panjang. Sedangkan hal-hal gaib dan batiniah memang sama sekali tidak memiliki bandingan atau padanan yang persis sama, secara fisik-lahiriah-nyata. Segala "contoh-perumpamaan simbolik" berupa analogi atau pendekatan, agar umat telah bisa merasakan secara 'tak-langsung', atas segala hal yang sebenarnya dimaksud 'di baliknya', walau belum benar-benar dipahaminya.
Di lain pihak, segala "contoh-perumpamaan simbolik" itu, beserta maknanya secara 'tekstual-harfiah', sama sekali bukan 'kekeliruan', bahkan tiap umat Islam justru tetap bisa memakainya dalam kehidupan beragamanya. Tetapi makna seperti inipun memang bukan berupa "makna yang sebenarnya" atau "makna yang tertinggi" (Al-Hikmah / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Serta tiap "contoh-perumpamaan simbolik" itu sendiri tentunya justru bukan berupa fakta-kenyataan yang sebenarnya.
Akal-pikiran tiap makhluk, jangkauannya tertinggi
'Esensi' Zat Allah justru mustahil bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Sekalipun jangkauan akal-pikiran tiap makhluk justru relatif 'tak-terbatas', serta bisa melampaui jangkauan segala alat inderanya, misalnya bisa mencapai: dari saat paling awal penciptaan alam semesta, sampai saat berakhirnya (akhir jaman); dari isi perut Bumi terdalam, sampai di luar batas tepi alam semesta; dari materi yang terkecil, sampai benda langit yang terbesar; dari paling benar, sampai paling sesat; kecepatannya bisa melebihi kecepatan cahaya (bisa berubah amat sangat cepat); dsb.
Bahkan termasuk pula segala hal yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, memang mestinya masih bisa dijangkaunya, karena Nabi memang mustahil menerangkan segala hal yang berada 'di luar' akal-pikiran manusia. Sedangkan umat-umat di jaman Nabi, tentunya justru meyakini dan mengikuti ajaran-ajaran Nabi, pasti karena memang ada mengandung 'kebenaran' di dalamnya (pasti bisa diterima oleh akal-pikiran mereka). Maka umat Islam mestinya bisa memisahkan atau membedakan, antara 'amat sangat sulit' terhadap 'tidak bisa' atau 'mustahil' dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk.
Dengan kata lainnya, segala sesuatu hal (nyata & gaib; lahiriah & batiniah; esensi & perbuatan; zat & non-zat; sedikit & banyak; mudah & rumit; jelas & kabur; dsb), "selain" tentang 'esensi' Zat Allah, tentunya justru mestinya masih bisa dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Ringkasnya, batasan akal-pikiran tiap makhluk justru hanya berupa 'esensi' Zat Allah. Sedangkan segala 'perbuatan' Zat Allah di alam semesta ini (melalui sunatullah), justru mestinya masih bisa dijangkaunya.
Baca pula keistimewaan akal-pikiran manusia, termasuk menurut Imam Al-Ghazali.
Segala perbuatan-Nya di alam semesta, dalam jangkauan akal-pikiran tiap makhluk
Segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), memang justru masih bisa dicapai atau dijangkau oleh akal-pikiran tiap makhluk. Hal ini terutama karena melalui segala perbuatan-Nya itu, Allah memang hendak menunjukkan kemuliaan, kekuasaan atau kesempurnaan-Nya kepada segala makhluk ciptaan-Nya, agar bisa mengenal-Nya, Tuhan Pencipta dirinya dan alam semesta, serta sekaligus pula agar bisa menyembah-Nya.
Hal ini juga karena perwujudan atau pelaksanaan sunatullah justru dilakukan 'bukan langsung' oleh Allah sendiri, tetapi oleh tak-terhitung jumlah makhluk ciptaan-Nya di alam semesta (terutama para malaikat-Nya), dengan segala macam tugasnya masing-masing, di dalam melaksanakan segala perintah-Nya, secara sadar ataupun tidak. Selain itu, tentunya karena perwujudan sunatullah justru bisa dilihat, dirasakan atau diketahui, melalui segala alat indera lahiriah ataupun batiniah, pada tiap makhluk.
Tiap makhluk bisa mengenal tindakan atau perbuatan-Nya, dengan cara mengamati segala kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta, yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah). Karena hal seperti ini memang hanya semata hasil dari perbuatan-Nya, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Tetapi persoalan pengenalannya justru terletak pada segala kejadiannya, yang juga bersifat 'gaib' (tersembunyi / amat tidak jelas kentara).
Pertanyaannya, "apakah umat Islam juga harus kalah daripada kaum non-Muslim, dalam memahami hal-hal gaib?". Sir Isaac Newton misalnya, justru telah pula 'bertafakur' di bawah pohon apel, agar bisa menjawab "kenapa apelnya bisa jatuh ke Bumi?". Apel dan Bumi memang 'nyata', namun penyebab gravitasi justru 'gaib'. Padahal di lain pihak, dalam kitab suci Al-Qur'an justru telah amat banyak, luas dan lengkap menerangkan hal-hal gaib. Maka tinggal kemauan umat Islam, untuk bisa relatif makin memperjelas, melengkapi dan menyempurnakannya, sesuai dengan kemajuan perkembangan ilmu-pengetahuan.
"Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,", "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka'." – (QS.3:190-191).
"…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya." – (QS.57:17) dan (QS.16:11, QS.2:164, QS.13:3, QS.16:67, QS.16:69).
"…. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu memikirkannya." – (QS.2:266) dan (QS.16:44).
Alam pikiran tiap makhluk (alam batiniah ruhnya) = alam akhiratnya
Di lain pihak, secara umum segala sesuatu hal di alam semesta bisa dibagi menjadi 2 kelompok besar 'alam', yaitu: 'alam dunia' dan 'alam akhirat'. Jika alam dunia berupa alam fisik-lahiriah, maka alam akhirat berupa alam batiniah ruh (alam pikiran). Alam dunia dan alam akhirat justru berlangsung secara bersamaan, walau keduanya memang berada pada aspek yang berbeda (aspek lahiriah dan aspek batiniah). Hal inipun tentunya jauh berbeda daripada pemahaman umat Islam pada umumnya, karena kehidupan alam akhirat justru dianggapnya terjadi, hanya setelah selesainya kehidupan alam dunia (setelah Hari Kiamat).

Padahal kehidupan alam akhirat bagi tiap makhluk, justru telah dimulai dan berlaku 'kekal' (bersama zat ruhnya), sejak saat awal penciptaan zat ruhnya (saat awal penciptaan alam semesta), sampai saat "dikehendaki-Nya" lain. Sedangkan kehidupan alam dunia bagi tiap makhluk nyata (termasuk tiap umat manusia), dimulai sejak saat zat ruhnya menyatu ke tubuh wadah fisik-lahiriahnya (ditiupkan-Nya ruh), sampai saat zat ruhnya terpisahkan dari tubuh wadahnya (dicabut atau diangkat-Nya ruh di Hari Kiamat / saat kematiannya). Maka kehidupan alam akhirat setelah Hari Kiamat, adalah kehidupan alam akhirat yang sebenarnya dan murni (tidak lagi 'bercampur-baur' dengan kehidupan alam dunia).
Baca pula tahapan umum kejadian manusia dan jagalah hati-pikiran, tentang kaitan antara alam pikiran, alam batiniah ruh dan alam akhirat pada tiap makhluk.
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." – (QS.30:7).
'Alam akhirat' juga biasa disebut 'alam atas' atau 'alam malakut' (alam tempat para malaikat berada). Di alam pikiran tiap manusia misalnya, tiap saatnya memang pasti selalu diikuti, diawasi dan dijaga oleh sejumlah para makhluk gaib (para malaikat, jin, syaitan dan iblis), selama di dunia dan setelah Hari Kiamat, termasuk di dalam memberi segala bentuk ilham (positif dan negatif). Sedangkan 'alam dunia' juga biasa disebut 'alam bawah'.
Alam pikiran tiap makhluk = langit yang sebenarnya dan tertinggi
Dengan adanya pengelompokan 'alam dunia' (alam fisik-lahiriah) dan 'alam akhirat' (alam batiniah ruh / alam pikiran), maka tentunya ada 'langit lahiriah' dan 'langit batiniah' bagi tiap alamnya. Dimana 'langit lahiriah' terisi oleh segala partikel-materi-benda di 'alam semesta'. Sedangkan 'langit batiniah' terisi oleh segala bentuk ilmu-pengetahuan pada tiap makhluk, tentang segala sesuatu hal yang terkait dengan 'alam semesta'.
Dimana ilmu-pengetahuan makhluk, antara lain meliputi: Pencipta alam semesta (sifat, kehendak, perbuatan-Nya, dsb); hakekat dan tujuan penciptaan; segala 'zat' (zat ruh dan zat materi) dan 'non-zat' (aturan, pengajaran, tuntunan-Nya, dsb); segala benda mati dan makhluk hidup; segala alam (akhirat, rahim, dunia, kubur, dsb); dan segala hal lainnya (lahiriah & batiniah, nyata & gaib, fisik & moril, mutlak & relatif, benar & sesat, obyektif & subyektif, hakiki & semu, dsb).
Maka 'langit lahiriah' tentunya justru lebih rendah daripada 'langit batiniah', karena jangkauan akal-pikiran tiap makhluk bisa melampaui 'batas tepi' alam semesta (termasuk bisa melampaui batas daya jangkauan teleskop atau alat indera fisik-lahiriah). Serta 'langit batiniah', adalah langit yang sebenarnya, paling tinggi dan sempurna, yang terletak di alam pikiran tiap makhluk.
Dengan begitu, umat Islam mestinya juga bisa membedakan, antara 'langit lahiriah' (di alam semesta) dan 'langit batiniah' (di alam pikiran tiap makhluk), yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an. Tentunya 'langit' yang disebut terkait dengan keberadaan 'Arsy-Nya, justru hanya berupa 'langit batiniah' (bukan 'langit lahiriah'). Serta 'langit batiniah' juga bisa terdiri dari 'tujuh tingkat' (tingkat kesempurnaan pengetahuan tentang kebenaran-Nya).
Bahkan perjalanan "'Isra dan Mi'raj" yang dialami oleh nabi Muhammad saw, adalah perjalanan 'batiniah' saat menembus 'langit batiniah', sampai bisa 'amat dekat' ke hadapan 'Arsy-Nya. Lebih jelasnya, perjalanan ini berupa pengembaraan kesadaran Nabi, pada saat sedang bertafakur, sambil dituntun oleh malaikat Jibril, dalam mencapai berbagai 'hijab-tabir-pembatas' terdekat (tertinggi), terhadap kebenaran 'mutlak' Allah di alam semesta. Pada saat itu Nabi telah bisa memperoleh banyak pemahaman Al-Hikmah (wahyu-Nya / hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang memang amat tinggi pula nilai kemuliaan dan keagungannya. Baca pula uraian-uraian di bawah.
Juga bisa mudah dipahami, jika dalam kitab suci Al-Qur'an disebut, seperti "Surga (di alam akhirat), seluas alam semesta (langit dan bumi)" dan "'langit lahiriah' adalah langit yang 'dekat'". Sekali lagi, hal ini karena 'alam akhirat' pada tiap makhluk (alam batiniah ruh / alam pikirannya), memang jangkauannya amat sangat luas, bahkan juga bisa melampaui 'batas tepi' alam semesta ('langit lahiriah'), termasuk bisa menjangkau bertingkat-tingkat hakekat, 'di balik' segala hal yang teramati di alam semesta. Kesempurnaan pengetahuan makhluk tentang kebenaran-Nya di alam semesta, memang banyak tingkatannya (tingkat kedekatan antara kebenaran 'relatif' makhluk dan kebenaran 'mutlak' Allah).
Lebih spesifiknya lagi, karena segala kemuliaan dan keagungan yang diperoleh tiap makhluk di Surga, memang seluas segala keadaan batiniah ruhnya sendiri. Segala keadaan ini terbentuk dari hasil balasan-Nya, secara adil atau setimpal, atas segala amal-perbuatan makhluknya, selama hidup di dunia. Saat pemberian balasan-Nya juga pasti dihitung-Nya, secara amat teliti dan adil, atas segala keadaan batiniah ruhnya dalam berbuat, misalnya: niat, tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, beban tanggung-jawab, dsb.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu (bertaubat), dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa," – (QS.3:133) dan (QS.57:21).
"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang, …" – (QS.67:5) dan (QS.37:6, QS.41:12).
Keimanan (kesempurnaan pemahaman atas kebenaran-Nya) = kedekatan di sisi-Nya
Dalam artikel/posting terdahulu "Cara proses diturunkan-Nya wahyu" sekilas telah diungkap, bahwa para nabi-Nya memiliki segala pemahaman yang relatif amat 'sempurna', tentang kebenaran-Nya di alam semesta (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), terutama tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Serta merekapun sekaligus relatif amat 'konsisten' pula mengamalkan segala pemahamannya tersebut, dalam kehidupannya sehari-harinya (terutama dalam melayani seluruh umatnya).
"(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." – (QS.14:52) dan (QS.6:115).
"…. Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi-Nya, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." – (QS.4:82).
"…, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an, sebelum disempurnakan diwahyukannya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'." – (QS.20:114).
"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. …" – (QS.28:14).
Maka mudah dipahami, jika para nabi-Nya memiliki 'tingkat keimanan' yang relatif paling tinggi, dibanding dengan seluruh umat manusia lainnya di tiap jamannya. Hal inipun karena 'keimanan' meliputi aspek 'pemahaman' (ilmu) dan aspek 'pengamalan' (amal). Jika pemahaman berupa keimanan 'batiniah', maka pengamalan berupa keimanan 'lahiriah'.
Tiap pemahaman tanpa pengamalan, sama halnya suatu bentuk 'kemunafikan' (jika pemahamannya memang telah benar), ataupun sebaliknya pemahamannya sendiri belum benar atau belum sempurna (meragukan). Sedangkan tiap pengamalan tanpa pemahaman, sama halnya suatu bentuk 'taklid' (umat hanya mengikuti begitu saja, anjuran dari orang lain). Persoalan bisa amat mudah timbul pada tiap 'taklid', terutama jika pemahaman umat yang keliru atas anjurannya, ataupun sebaliknya anjurannya ada mengandung kekeliruan. Maka keimanan yang tinggi pasti tetap diperoleh hanya melalui gabungan sekaligus, antara 'pemahaman' yang sempurna dan 'pengamalan' yang konsisten.
Terkait dengan tingkat keimanan para nabi-Nya yang relatif paling tinggi, terutama akibat segala pemahamannya yang relatif amat 'sempurna' tentang kebenaran-Nya, maka dalam kitab suci Al-Qur'an, para nabi-Nya juga biasa disebut "amat dekat di sisi-Nya". Hal inipun karena di sisi-Nya memang terdapat kitab mulia (Lauh Mahfuzh), sebagai 'simbol' tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta.
Bahkan dalam kitab suci Al-Qur'an justru juga amat sering disebut berdampingan, antara 'iman' dan 'amal'. Sehingga 'keimanan' memang lebih terfokus kepada 'pemahaman' (ilmu). Hal ini amat mudah dipahami, karena 'ilmu' memang berada di dalam pikiran tiap makhluk. Sedangkan tubuh wadah fisik-lahiriahnya, justru pasti hanya tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah pikirannya (berdasar ilmu, pengetahuan atau kesadarannya). Ringkasnya, 'pengamalan' (amal) pasti timbul berdasar 'pemahaman' (ilmu). Sehingga juga amat mudah dipahami, jika justru amat banyak anjuran-Nya dalam kitab suci Al-Qur'an, agar umat Islam menggunakan akalnya, bagi usaha peningkatan keimanannya. Sebaliknya Allah justru memurkai umat Islam, yang tidak menggunakan akalnya (pada QS.10:100).
"…, dia (nabi-Nya) mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami, dan tempat kembali yang baik." – (QS.38:25) dan (QS.38:40, QS.33:69).
"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan, serta rejeki (nikmat) yang mulia." – (QS.8:4) dan (QS.9:20, QS.10:2).
"Dan orang-orang yang beriman, serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal (tinggal) di dalamnya." – (QS.2:82) dan (QS.2:62, QS.2:277, QS.3:57, QS.4:57, QS.4:122, QS.4:173, QS.5:9, QS.5:69, QS.5:93, QS.7:42, QS.10:4, QS.10:9, QS.11:23, QS.13:29, QS.14:23, dsb).
"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan ijin-Nya. Dan Allah menimpakan kemurkaan, kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." – (QS.10:100).
Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta
Seperti halnya segala hal gaib lainnya, tentunya kitab mulia (Lauh Mahfuzh) justru juga hanya suatu "contoh-perumpamaan simbolik". Selain itu, segala kebenaran-Nya pada fakta dan kenyataannya memang tersebar dimana-mana di alam semesta (pada hembusan angin dan awan; turunnya air hujan; sinar Matahari atau bintang; siang dan malam; pohon yang tumbuh dan berbuah; hembusan napas dan detak jantung; penciptaan dan kematian makhluk; dan pada tak-terhitung hal lainnya). Maka segala kebenaran-Nya memang pada hakekatnya 'berada' atau 'tercatat' di alam semesta (bukan di dalam suatu kitab).
"Segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta" itu terkadang juga bisa disebut "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya", "wajah-Nya", "sabda, firman, kalam atau wahyu-Nya yang 'sebenarnya'" dan "Al-Qur'an dan kitab-kitab-Nya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".
Sedangkan semua sebutan itu hanya berbeda pada fokus, sudut pandang ataupun konteks pemakaiannya. Namun semuanya justru merujuk kepada sesuatu hal yang sama, berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian lahiriah dan batiniah di alam semesta". Serta hal seperti ini memang semuanya hanya semata hasil dari tindakan atau perbuatan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Kekal.
Dalam 'hati-nurani', letak segala pengetahuan tiap makhluk tentang kebenaran-Nya
Lalu "dimanakah letak segala pengetahuan tiap makhluk tentang kebenaran-Nya?". Jawaban ringkasnya, "dalam hati-nuraninya". Lihat pula pada gambar-gambar berikut.
https://islamagamauniversal.files.wordpress.com/2011/09/gb-26b.gif?w=500https://islamagamauniversal.files.wordpress.com/2011/09/gb-27b.gif?w=500

Perlu diketahui dari gambar di atas, bahwa pemahaman atas istilah, definisi ataupun fungsi dari tiap elemen pada zat ruh manusia, bisa berbeda-beda pada tiap umat Islam dan alim-ulama. Hal inipun terutama karena memang terkait hal-hal yang 'gaib' (tersembunyi). Maka para pembaca diharapkan, agar bisa lebih cermat dan fleksibel dalam menelaahnya, terutama dengan lebih menambah kepekaan batiniahnya, serta juga lebih terfokus kepada fungsi dari tiap elemen ruh (bukan kepada istilah dan definisinya).
Menurut pemahaman penulis misalnya, 'hati' dianggap sama dengan 'kalbu', namun berbeda daripada 'hati-nurani'. 'Hati / kalbu' dianggap sebagai 'alat indera batiniah' pada tiap makhluk (penerima segala informasi dari luar zat ruhnya), terutama menerima segala informasi dari segala alat indera fisik-lahiriahnya, dan juga menerima segala ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib (positif dan negatif). Maka segala informasi batiniah pada 'hati / kalbu', juga dianggap bernilai kebenaran relatif paling rendah (mentah).
Sedangkan segala informasi batiniah pada 'hati-nurani', dianggap bernilai kebenaran relatif paling tinggi (telah diolah oleh akal dan pembentuk keyakinan makhluknya), bahkan tidak bisa dilangkahi atau berada di luar pengaruh 'godaaan' dari para makhluk gaib. Serta perbedaan antara 'hati / kalbu' dan 'hati-nurani' relatif mudah dipisahkan. Jika isi 'hati / kalbu' terpakai saat awal makhluknya menghadapi sesuatu hal. Sedangkan isi 'hati-nurani' terpakai saat berikutnya, setelah makhluknya mulai menilai benar / salahnya sesuatu hal.
Proses pemahaman tiap makhluk tentang kebenaran-Nya
Segala informasi yang 'tiap saatnya' telah bisa diketahui, dijangkau, ditangkap atau dirasakan oleh semua alat indera fisik-lahiriah pada tiap makhluk, lalu pasti selalu terkirim dan diterima pula oleh alat indera batiniah, pada zat ruhnya ("hati / kalbu"). Sedangkan kepada "hati / kalbu" itu, justru para makhluk gaib juga 'tiap saatnya' pasti selalu memberi segala bentuk ilham yang 'positif-benar-baik' (dari para malaikat) dan yang 'negatif-sesat-buruk' (dari para jin, syaitan atau iblis), sebagai bentuk pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah kepada tiap makhluk lainnya (termasuk tiap umat manusia).
Lalu segala informasi yang 'murni' dari semua alat indera fisik-lahiriah, dan beserta segala informasi 'tambahan' dari para makhluk gaib, juga 'tiap saatnya' pasti selalu diterima oleh "akal"-nya, untuk dipilih, diolah, dinilai dan diputuskannya, sebagai bahan-bahan bagi penyusunan segala bentuk kebenaran atau pengetahuan 'relatif' (menurut penilaian 'relatif' tiap makhluknya sendiri). Tiap kebenaran 'relatif' ini justru pasti tersimpan ke dalam "hati nurani"-nya, yang membentuk keyakinannya dalam menilai segala sesuatu halnya. Makin sering "akal"-nya digunakan, tentunya relatif makin banyak menumpuk segala kebenaran 'relatif' dalam "hati nurani"-nya. Segala kebenaran 'relatif' makin sempurna (keyakinannya makin kokoh-kuat dan sulit terbantahkan), jika "akal"-nya telah digunakan secara relatif makin obyektif, cermat dan mendalam.
Pada saat paling awal penciptaan zat ruh bagi tiap makhluk, telah ditanamkan-Nya segala "keadaan, sifat atau fitrah dasar", yang suci-murni dan bersih dari dosa, sekaligus di dalamnya terdapat segala kebenaran atau tuntunan-Nya yang "paling dasar", dalam hati nuraninya. Termasuk suatu tuntunan-Nya, agar tiap makhluk bisa mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Yang sebenarnya telah menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta. Hal ini disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, sebagai suatu bentuk 'kesaksian' dari tiap jiwa makhluk, tentang Allah, Tuhan Penciptanya (pada QS.7:172)
Lalu setelah saat penciptaan paling awal itu, segala kandungan isi hati nurani pada tiap makhluk, justru hanya terbentuk dari hasil olahan akalnya. Pada manusia misalnya, hal inipun terutama terbentuk sejak mulai melewati usia akil-baliqnya. Di lain pihak, justru tiap kandungan isi hati nurani juga bisa dipakai kembali oleh akalnya, dalam menilai segala sesuatu halnya, 'selanjutnya'. Maka amat mudah dipahami, jika dalam kitab suci Al-Qur'an amat banyak anjuran-Nya, agar umat Islam menggunakan akalnya. Serta sebaliknya Allah justru memurkai umat Islam, yang tidak menggunakan akalnya (pada QS.10:100). Karena penggunaan akal memang relatif makin menyempurnakan segala kandungan isi hati nurani (makin memahami tiap kebenaran-Nya / makin mengenal Allah / makin beriman).
Namun jika tiap umat manusia justru telah relatif banyak berbuat amal-keburukan (cenderung mudah terpengaruh oleh informasi dari syaitan dan iblis), tentunya kandungan isi hati nuraninya juga mudah terkotori oleh segala pengetahuan yang negatif-sesat-buruk, sekalipun akalnya memang amat cerdas. Hal inipun tentunya karena segala informasi yang terolah oleh akalnya, justru relatif banyak yang jauh dari kebenaran-Nya (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'). Juga kecerdasannya cenderung tidak digunakan sebagaimana mestinya, untuk mencari kebenaran, tetapi justru untuk mengabaikan, menyembunyikan atau merekayasa kebenaran, sekecil, sesederhana atau sehalus apapun bentuknya ("sebesar biji zarrah").
Kesempurnaan pemahaman para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya
Seseorang yang telah bisa memiliki segala pemahaman yang relatif amat 'sempurna' tentang kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), sehingga bisa menjawab hampir seluruh persoalan kehidupan umat kaumnya ataupun seluruh umat manusia, yang paling penting, hakiki dan mendasar, yang justru telah menjadikannya disebut "nabi-Nya", dan tiap pemahamannya juga disebut "wahyu-Nya". Hal ini tentunya relatif mudah dipahami, karena tiap nabi-Nya memang relatif paling memahami kehendak Allah, Tuhan Pencipta alam semesta, dari hasil segala usahanya yang relatif amat keras dalam mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis").
Namun juga relatif mudah dipahami, bahwa 'kenabian' justru telah berakhir secara 'alamiah', pada nabi Muhammad saw. Karena tiap manusia memang memiliki keterbatasan kapasitas dalam memahami seluruh persoalan kehidupan umat manusia, yang pasti makin berkembang, serta juga memiliki keterbatasan waktu dan kemampuannya dalam melayani seluruh umatnya, yang makin banyak jumlahnya. Sedangkan di jaman dahulu (kehidupan umat relatif sederhana), hal-hal seperti ini masih bisa diatasi hanya oleh seorang nabi-Nya.
Segala kebenaran atau pengetahuan pada tiap manusia (bahkan termasuk pada tiap nabi-Nya), memang pasti bersifat 'relatif' (tidak mutlak benar), 'fana' (hanya benar dalam keadaan tertentu) dan 'terbatas' (tidak mengetahui segala sesuatu hal). Namun kebenaran atau pengetahuan 'relatif' manusia juga bisa makin 'sesuai atau mendekati' kebenaran atau pengetahuan 'mutlak' Allah, jika telah diperoleh secara relatif amat 'obyektif' dan telah bisa tersusun secara relatif amat 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), seperti halnya segala pengetahuan pada tiap nabi-Nya. Maka pengetahuan seperti ini relatif amat sulit bisa terbantahkan.
Tiap pengetahuan pada para nabi-Nya (wahyu-Nya), yang telah tersimpan di dalam dada-hati-pikirannya, memiliki segala dalil-alasan-hujjah dan penjelasan, yang relatif amat kokoh-kuat dan lengkap (sulit terbantahkan). Bentuk pengetahuan seperti ini telah biasa disebut "Al-Hikmah", sebagai bentuk pengetahuan yang tertinggi yang bisa dijangkau oleh umat manusia tentang suatu kebenaran-Nya. Juga seperti disebut di atas, tiap wahyu-Nya tersusun sebagai "satu-kesatuan" yang utuh (saling terkait), bersama seluruh wahyu-Nya lainnya pada tiap nabi-Nya. Tidak ada suatu wahyu-Nya yang berdiri sendiri dan terpisah.
'Hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap makhluk
Maka tiap wahyu-Nya ataupun Al-Hikmah, adalah tingkat perbedaan terkecil (jarak terdekat / 'hijab-tabir-pembatas' tertinggi), antara pengetahuan 'relatif' manusia terhadap pengetahuan 'mutlak' Allah. Hakekat wujud dari suatu 'hijab-tabir-pembatas' antara Allah dan tiap manusia, adalah tiap "tingkat kesempurnaan pengetahuan" manusianya, tentang 'sesuatu hal'. Tentunya 'hijab-tabir-pembatas' itu amat banyak, baik jumlah (jumlah segala pengetahuan), maupun tingkatannya (tingkat kesempurnaan tiap pengetahuannya).
Dari kesempurnaan seluruh pengetahuan pada tiap nabi-Nya (seluruh wahyu-Nya), tentunya iapun telah bisa mencapai berbagai 'hijab-tabir-pembatas' tertinggi (baik jumlah maupun tingkatannya). Sedangkan kesempurnaan pengetahuan pada tiap umat manusia biasa lainnya, relatif masih 'amat jauh' daripada para nabi-Nya, terutama tentang segala hal yang paling penting, hakiki dan mendasar, dalam kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Serta umat manusia biasa hanya bisa memperoleh 'Al-Hikmah', tetapi bukan 'wahyu-Nya' (seluruh 'Al-Hikmah' yang tersusun relatif amat sempurna).
Sekali lagi, hal ini telah menjadikan para nabi-Nya bisa "amat dekat di sisi-Nya" (di hadapan 'Arsy-Nya). Dengan kata lainnya, tiap pengetahuan 'relatif' milik para nabi-Nya (tiap wahyu-Nya), justru telah bisa "amat dekat" dengan pengetahuan 'mutlak' milik Allah, di alam semesta. Namun para nabi-Nya justru mustahil bisa 'meraih' atau 'menyentuh' ke 'Arsy-Nya, karena seluruh pengetahuan mereka memang pasti tetap bersifat 'relatif', 'fana' dan 'terbatas'. Hal yang serupa tentunya terjadi pula pada segala makhluk lainnya (bahkan termasuk para malaikat utusan-Nya), dengan segala tingkat kedekatannya di sisi-Nya.
Allah dan 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk
Dari uraian-uraian di atas telah bisa disimpulkan, bahwa Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) memang berada dalam "hati-nurani" tiap makhluk. Hal ini tentunya sama sekali bukan letak keberadaan yang sebenarnya bagi 'Zat' Allah, namun hanya letak pemahaman atau pengetahuan tentang Allah (tentang kebenaran-Nya). Bahkan 'Arsy-Nya tentunya juga bukan 'kursi / tahta' yang sebenarnya bagi 'Zat' Allah. Dan kitab mulia (Lauh mahfuzh) tentunya juga bukan tempat yang sebenarnya bagi tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta, yang meliputi seperti: sifat, kehendak, keredhaan, tindakan / perbuatan, hukum / aturan / ketentuan / ketetapan, qadla dan qadar (takdir), kitab-kitab-Nya, dsb, yang selain tentang 'esensi' Zat Allah.
Serta suatu pendapat tentang "keberadaan Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dalam 'hati-nurani' tiap makhluk", yang justru relatif paling sempurna dan tepat, karena justru bisa mencakup atau mewakili semua 'dalil naqli' dalam kitab suci Al-Qur'an, secara 'sekaligus', seperti: "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4), "di langit" (pada QS.67:16), "Maha Dekat" (pada QS.34:50), "dekat" (pada QS.2:186), "lebih dekat daripada urat leher" (pada QS.50:16), "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" (pada QS.56:85) dan "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7, QS.2:115). Baca pula penjelasan lebih lengkap di bawah, tentang keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an, jika dihubungkan dengan "keberadaan Allah dalam 'hati-nurani' tiap makhluk".
Di samping itu pula, pendapatnya justru tetap berdasar "ke-Esa-an Allah" (tauhid). Dimana semua manusia, dari jaman ke jaman, yang telah 'amat sempurna' bisa memahami 'suatu' kebenaran-Nya, maka pemahamannya masing-masing atas kebenaran itu, dalam 'hati-nurani'-nya, justru pasti 'sama' ('satu'). Hal ini karena segala kebenaran-Nya di alam semesta memang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal', walau juga bersifat 'gaib'.
Contoh sederhananya, tauhid seluruh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman, justru 'sama', seperti "Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa". Hal ini berdasar segala hasil usaha mereka yang maksimal, dalam mengenal Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Tentunya tauhid ini juga sekaligus berupa nilai yang bersifat 'universal' (tidak tergantung konteks ruang, waktu dan budaya). Serta sebaliknya, segala pemahaman atas keberadaan tuhan-tuhan selain Allah, justru 'bukan' hasil usaha yang maksimal dan bersifat 'universal'.
Di lain pihak telah diuraikan di atas, bahwa "'Arsy-Nya, yang amat mulia, agung dan besar, berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk". Hal ini karena kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah memang terkait dengan nilai-nilai kebenaran-Nya, yang tersimpan dalam 'hati-nurani' tiap makhluk (terutama para malaikat Jibril dan para nabi-Nya, yang justru telah diyakini relatif paling memahami tiap kebenaran-Nya). Bahkan para malaikat Jibril disebut khusus dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti “akalnya amat cerdas” (pada QS.53:6).
Tetapi tiap umat manusia biasa lainnya yang telah relatif sempurna memahami tiap kebenaran-Nya, tentunya juga bisa merasakan tiap kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah dalam 'hati-nurani'-nya, setelah bisa berhasil menggunakan 'akal'-nya dengan 'benar' (amat obyektif, cermat dan mendalam). Serta sumber yang paling aman, mudah, lengkap dan sempurna, bagi seluruh umat manusia, dalam berusaha mempelajari atau memahami segala kebenaran-Nya di alam semesta ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), adalah "kitab suci Al-Qur'an", tentunya sebagai "ayat-ayat-Nya yang tertulis", yang terakhir.
Penjelasan tentang keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an
Telah diungkap di atas, bahwa keberadaan Allah dalam kitab suci Al-Qur'an, disebut seperti: "di atas 'Arsy-Nya", "di langit", "Maha Dekat", "dekat", "lebih dekat daripada urat leher", "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" dan "dimana-mana". Lalu mungkin timbul pertanyaan, "bagaimana hubungan antara berbagai keberadaan Allah tersebut, dan keberadaan Allah dalam 'hati-nurani' tiap makhluk?". Maka pada tabel berikut diungkap pula penjelasan dan sekaligus hubungannya masing-masing, secara ringkas.
a.    Allah bersemayam "di atas 'Arsy-Nya" (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4 dan QS.57:4)
Ayat-ayat ini jumlahnya paling banyak dan hanya menyebutkan "Allah bersemayam di atas 'Arsy-Nya", serta justru tidak menyebutkan "di langit".
Namun "'Arsy-Nya" dikaitkan atau disamakan secara tak-langsung dengan "langit", oleh sebagian dari umat Islam, karena ayat QS.11:7 menyebutkan "'Arsy-Nya berada di atas air". Lalu "air" yang dimaksud, dianggap sebagai "air laut", serta "langit", yang dianggap berada di atasnya. Di samping itu, juga karena ayat QS.67:16 menyebutkan "Allah berada di langit". Dan tentunya Allah juga terkadang dianggap berada "di atas".
Walau begitu, pendapat yang menyebutkan "Allah berada 'di langit' ataupun 'di atas'", justru kurang sempurna atau tepat. Karena tiap makhluk bisa menunjuk 'langit' dan 'atas'-nya masing-masing. Juga 'atas' bagi suatu makhluk, justru bisa menjadi 'bawah' bagi makhluk lainnya. Maka pemahaman bagi 'langit' dan 'atas', lebih tepat dianggap sebagai kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, Yang Maha Tinggi (tak-terbatas). Apalagi 'Arsy-Nya memang amat mulia, agung dan besar.
Bahkan 'langit' yang sebenarnya, tertinggi dan sempurna berupa 'langit batiniah', yang berada di alam pikiran tiap makhluk, bukan 'langit lahiriah' (langit yang biasa dikenal).
Di lain pihak telah diuraikan di atas, bahwa 'Arsy-Nya berada dalam 'hati-nurani' tiap makhluk. Karena kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, memang terkait dengan nilai-nilai kebenaran-Nya yang tersimpan dalam 'hati-nurani' tiap makhluk (terutama para malaikat Jibril dan para nabi-Nya), yang telah amat sempurna memahaminya. Sehingga iapun bisa mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi 'Arsy-Nya.
b.    Allah berada "di langit" (pada QS.67:16)
Hanya ayat ini yang langsung menyebutkan "Allah berada di langit".
Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin a di atas.
Namun sekali lagi, segala pendapat yang menyebutkan "Allah berada 'di langit', justru kurang sempurna atau tepat. Lebih tepat dianggap sebagai kemuliaan, keagungan dan kebesaran Allah, Yang Maha Tinggi (tak-terbatas).
c.    Allah "Maha Dekat" (pada QS.34:50)
Ayat ini terkait dengan sifat Allah, Yang "Maha Dekat". Tentunya sifat inipun hanya berupa sifat 'perbuatan' Zat Allah, dan bukan sifat 'esensi' Zat Allah. 'Esensi' Zat Allah bahkan mustahil bisa dijangkau oleh para malaikat dan para nabi-Nya sekalipun.
Segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru bagian yang paling penting dari kebenaran atau pengetahuan-Nya.
Dimana segala perbuatan-Nya secara lahiriah (melalui sunatullah lahiriah), terwujud atau terlaksana oleh para malaikat, yang menempati tiap partikel-materi-benda.
Sedangkan segala perbuatan-Nya secara batiniah (melalui sunatullah batiniah), terwujud atau terlaksana oleh aejumlah para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang menempati alam pikiran tiap makhluk lainnya (termasuk tiap manusia).
Tentunya sifat "Maha Dekat" justru lebih terkait dengan segala perbuatan-Nya secara batiniah (bukan secara lahiriah). Karena alam batiniah ruh atau alam pikiran tiap makhluk, memang berada dalam 'diri' makhluknya (dalam jiwa-ruh-nyawanya).
Di lain pihak, 'hati-nurani' tiap makhluk memang salah-satu elemen dari zat ruhnya. Serta segala informasi batiniah pada "hati-nurani", justru bernilai kebenaran relatif paling tinggi (pembentuk keyakinan batiniahnya), dibanding pada elemen-elemen lainnya. Juga tingkat kebenaran tiap kandungan isi 'hati-nurani' justru menunjukkan tingkat kedekatan antara pengetahuan 'relatif' makhluknya dan pengetahuan 'mutlak' Allah (tingkat kedekatan antara makhluknya dan Allah / tingkat keyakinannya).
d.    Allah "dekat" dengan tiap manusia (pada QS.2:186)
Ayat ini terkait dengan 'kedekatan' Allah dengan tiap makhluk (termasuk manusia).
Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c di atas.
e.    Allah "lebih dekat daripada urat leher" tiap manusia (pada QS.50:16)
Ayat ini terkait dengan 'pengetahuan' Allah, Yang juga meliputi segala bisikan isi hati tiap makhluk nyata (termasuk manusia). Sedangkan hati makhluknya memang 'lebih dekat' daripada urat lehernya (anak tekaknya). Lebih jelasnya, ucapan tiap makhluk melalui urat lehernya, memang timbul atau terwujud berdasar isi hatinya.
Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c dan d di atas.
Namun penyebutan "hati / kalbu" juga kurang tepat (lebih tepat justru "hati-nurani"). Karena menurut pemahaman penulis, segala informasi batiniah pada "hati / kalbu", bernilai kebenaran relatif paling rendah. Dimana "hati / kalbu" dianggap sebagai "alat indera batiniah" pada tiap makhluk (penerima segala informasi dari luar zat ruhnya), terutama menerima segala informasi dari segala alat indera fisik-lahiriahnya, dan juga menerima segala ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib (positif dan negatif).
Di lain pihak, segala informasi batiniah pada "hati-nurani", bernilai kebenaran relatif paling tinggi (telah diolah oleh akal dan pembentuk keyakinan makhluknya), serta tidak bisa dilangkahi atau berada di luar pengaruh 'godaaan' dari para makhluk gaib.
Perbedaan antara "hati / kalbu" dan "hati-nurani" relatif mudah dipisahkan. Jika isi "hati / kalbu" terpakai saat awal makhluknya menghadapi sesuatu hal. Sedangkan isi "hati-nurani" terpakai saat berikutnya, setelah makhluknya mulai menilai benar atau salahnya sesuatu hal.
f.    Allah "dekat ke jiwa-ruh-nyawa" tiap manusia (pada QS.56:85)
Ayat ini terkait dengan 'kedekatan' Allah dengan 'jiwa-ruh-nyawa' pada tiap makhluk nyata (termasuk manusia), daripada dengan tubuh wadah fisik-lahiriahya.
Apalagi hakekat dari tiap makhluk memang berada pada 'zat ruhnya', dan bukan pada tubuh wadah fisik-lahiriahya.
Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c s/d e di atas.
g.    Allah berada "dimana-mana" (pada QS.57:4, QS.58:7 dan QS.2:115)
Ayat QS.57:4 terkait dengan 'keberadaan' Allah, dimanapun tempat tiap makhluk berada (termasuk manusia). Ayat QS.58:7 terkait dengan 'pengetahuan' Allah, Yang juga meliputi segala isi pembicaraan tiap makhluk (termasuk manusia), dimanapun tempat pembicaraannya. Serta ayat QS.2:115 terkait dengan "wajah-Nya", yang berada dimana-mana di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya").
Hal ini serupa dengan penjelasan pada poin c s/d f di atas.
Hakekat dari tiap makhluk memang berada pada zat ruhnya. Maka dimanapun tiap makhluk berada, tentunya di situ pula zat ruhnya pasti berada, ataupun sebaliknya.
Segala sikap, perkataan dan perbuatan dari tiap makhluk memang dikendalikan oleh ruhnya. Maka para malaikat Rakid dan 'Atid yang memang diutus-Nya, dan memang berinteraksi dengan 'hati / kalbu' pada zat ruh makhluknya, tentunya juga pasti bisa mengetahui segala isi pembicaraannya, dimanapun dilakukannya.
Serta perwujudan segala perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru dilakukan oleh tak-terhitung jumlah makhluk ciptaan-Nya di alam semesta (terutama para malaikat-Nya). Maka "wajah-Nya" ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"), tentunya memang berada dimana-mana di alam semesta, tempat segala ruh makhluk berada.

Kesimpulan
Dari seluruh uraian atau penjelasan di atas, maka umat Islam mestinya sama sekali tidak perlu saling berselisih atau bahkan saling mengkafirkan, hanya akibat ada perbedaan pendapat tentang keberadaan Allah. Umat Islam justru bisa menyebutnya seperti: "di atas 'Arsy-Nya", "di langit", "di atas", "Maha Dekat", "dekat", "lebih dekat daripada urat leher", "di hati", "dekat ke jiwa-ruh-nyawa", "dimana-mana" dan juga "di dalam 'hati-nurani'".
Hal ini karena semua pendapat tersebut memang ada mengandung kebenaran (ada dalil-dalilnya dalam kitab suci Al-Qur'an), walau sedikit berbeda tingkat kesempurnaannya masing-masing. Lebih jelasnya lagi, perbedaan ini hanya berupa perbedaan fokus, sudut pandang dan cara pengungkapannya, walau semuanya justru merujuk kepada sesuatu hal yang ‘sama’. Namun jika keberadaan Allah mestinya dipilih atau disebut, maka secara 'tekstual-harfiah' paling tepat "di atas 'Arsy-Nya", karena pengungkapannya relatif paling mudah, sederhana dan ringkas. Sedangkan secara 'hikmah dan hakekat' paling tepat "di dalam 'hati-nurani'" (pada bagian yang paling tinggi, mulia dan agung di dalam 'hati-nurani').
Hal lebih pentingnya lagi, bahwa tiap pendapat tentang keberadaan Allah, mestinya bukan terkait dengan keberadaan yang sebenarnya bagi Zat Allah, ataupun bukan tentang 'esensi' Zat Allah, Yang Maha Esa, Maha Gaib dan Maha Suci, karena tersucikan dari segala sesuatu hal. Namun pendapatnya mestinya hanya terkait dengan "letak pemahaman atau pengetahuan" tiap makhluk, tentang Allah (tentang sifat, kehendak, keredhaan, tindakan / perbuatan, kebenaran / pengetahuan-Nya, dsb), selain tentang 'esensi' Zat Allah.
Segala pendapat yang memang berusaha membicarakan, tentang 'esensi' Zat Allah, justru pasti melahirkan segala dilema, kegagalan, 'ketidak sempurnaan' pemahaman umat tentang sifat-sifat Allah, atau bahkan paling parahnya, melahirkan segala "kemusyrikan", seperti halnya yang terjadi pada agama-agama 'musyrik' (Tuhannya 'tidak sempurna', dan berupa seperti: para malaikat, para dewa, manusia biasa, patung / berhala, dsb).
Serta suatu pendapat tentang "keberadaan Allah, 'Arsy-Nya dan kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dalam 'hati-nurani' tiap makhluk", yang justru relatif paling sempurna dan tepat, karena memang bisa mencakup atau mewakili semua dalil naqli ataupun semua pendapat di atas, secara sekaligus. Selain itu, pendapatnya juga tetap berdasar "ke-Esa-an Allah".
Namun juga pendapat ini tentunya mestinya tetap dijelaskan secara cukup cermat, misalnya: "Dalam 'hati-nurani' bukan berada Zat Allah, tetapi berada pemahaman tentang kebenaran-Nya"; "Jika manusia sedang mengingat Allah (berzikir), maka Allah pasti hadir dalam 'hati-nurani'-nya"; "Allah, Maha mengetahui segala isi hati, sikap, perkataan atau perbuatan manusia, sekecil atau sehalus apapun, kapanpun dan dimanapun berada"; dsb.
Dan harap baca pula buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah SAW", untuk penjelasan yang lebih lengkap, tentang Kembali ke hadapan 'Arsy-Nya dan Kandungan isi kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, di samping dari topik-topik terkait lainnya dalam buku ini, termasuk untuk mengetahui lebih lengkap, ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang mendukung berbagai dalil-alasan bagi tiap penjelasan atau pemahaman di atas.
Wallahu a'lam bishawwab.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar