Sabtu, 24 Januari 2015

Mewah , Pangkal Jatuhnya Jiwa



Pada dasarnya tidaklah terlarang hidup mewah, karena dengan demikian kita dapat juga menyatakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah senang sekali apabila hambaNya menunjukkan bekas nikmatNya atas dirinya. Tetapi haruslah digali dalam jiwa apa yang mendorong untuk minat  hidup mewah tersebut?

Kebanyakan orang hidup mewah bukanlah karena mensyukuri nikmat Allah, tetapi hanya menunjukkan kelebihan daripada orang lain, hatinya menjadi kasat kasar, sebab dia lupa bahwa disamping hidupnya yang berlebih lebihan itu ada makhluk Ilahi lainnya yang masih diselubung kemiskinan, kadang kadang makan, kadang kadang tidak.

Selanjutnya kemewahan menyebabkan seseorang tidak lagi dapat menguasai harta bendanya yang dimilikinya, melainkan dia sendiri-lah yang diperbudak oleh kemewahan harta benda, selalu merasa belum cukup, selalu hendak tinggi dibanding orang lain, hingga ujung batas kehendak kemewahan itu tidak pernah ada…

Banyak orang menyangka bahwa nilai kehidupan ditentukan oleh rumah yang indah, mobil model terakhir, tambahan villa yang nyaman, simpanan dana besar di Bank, dan banyaknya pelayan di rumah. Tidak dipedulikan lagi nilai nilai kebenaran dan pegangan hidup. Bahkan untuk kemewahan inilah orang hendak berebut kekuasaan, sebab kekuasaan adalah kesempatan yang luas untuk berbuat mewah dan sekehendak hati.

Keruntuhan sebuah bangsa apabila ketika kemewahan sudah amat berlebihan, sehingga tidak ada lagi orang yang berada di tengah di antara kaum kaya dan kaum miskin. Nilai kebenaran diabaikan orang. Di masyarakat hanya ada lambung melambungkan, puji memuji, perkataan yang kosong nilai, amal dan usaha sedikit, tapi reklame dan propaganda menjadi banyak. Si miskin yang berkeringat, si tani yang menanam dan mengeluarkan hasil, menghilang, karena mereka tidak termasuk orang yang mewah. Namun orang yang mewah mendapatkan tumpukan pujian dan hormat, lantaran itu kian lama pintu menerima kata yang benar tertutup ke dalam hati mereka. Akhirnya apabila musibah datang, si mewah tidak dapat bertahan, hanya si miskin yang tetap menjadi kurban sejarah.

Kejatuhan bangsa Yunani dan Romawi kuno ialah kala kemewahan telah merusak jiwa, dan  orang Islam pun pernah mendapat giliran kuasai dunia , mencapai Eropa , seperti Spanyol hingga 700 tahun lamanya. Spanyol pernah menjadi kemegahan Islam dengan nilai seni yang tinggi tak ternilai, dan fikirannya yang sesuai dengan tauhid. Tetapi mereka akhirnya terusir dari negerinya karena tidak dapat lagi melepas jiwanya dari kemewahan, seketika terjadi peperangan , tentara tentara Islam telah tampil ke medan perang dengan pakaian warna warni, sutera, pelana kuda yang bertahtakan emas, sedangkan pasukan Kristen saat itu tampil ke medan perang dengan pakaian dan topeng dengan bahan besi dan bukan sutera.

Kala itu pasukan Nasrani berperang dengan gagah perkasa, sedang pihak Islam berperang laksana pasukan perempuan yang bersolek berhias. Peperangan ini dikenal dengan “Pertempuran Thibirnah”. Meskipun pasukan Islam terbilang banyak jumlahnya, mereka terkalahkan. Maka bersyairlah seorang penyair kala itu :
“Mereka memakai pakaian besi ke medan perang, dan kamu memakai pakaian sutera beraneka warna. Alangkah indahnya kamu, dan alangkah buruknya mereka…”

Kemewahan meracun jiwa, mengerdilkan semangat dan memadamkan semangat perjuangan, orang akan menjadi takut mati, karena terbelit oleh akar akar kemewahan…


Oleh : HAMKA
http://www.eramuslim.com/nasehat-ulama/mewah-pangkal-jatuhnya-jiwa.htm#.VMPXMizJRf0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar