Kamis, 22 Januari 2015

Berpetualang Atasi Bosan



I want to live my life to the absolute fullest
To open my eyes to be all I can be
To travel roads not taken, to meet faces unknown
To feel the wind, to touch the stars
I promise to discover myself
To stand tall with greatness
To chase down and catch every dream
LIFE IS AN ADVENTURE


Puisi ini seperti membangkitkan kenangan masa kecil kita. Ketika itu, segalanya terasa menyenangkan karena setiap hari adalah petualangan. Imajinasi kita berkelana sesuka hati, tertawa riang dan berlari-larian di Negri Dongeng. Tapi ketia usia bertambah, kita mulai memasuki tahapan kehidupan baru, harus memikul tanggung jawab dan menghadapi problema. Sejak itu kegembiraan pun hilang. Dari hari ke hari menapaki jalan yang sama, bertemu dengan orang yang sama, betapa membosankan. Bahkan kita lupa kapan terakhir kita tertawa lepas.  Hati kecil pun mulai gelisah. ‘Kenapa hidupku monoton ya? Kurang greget ya?’ Apalagi jika kita sudah mulai memasuki masa pra-menopause. Muncul rasa kurang percaya diri dan meragukan sexual attractiveness di mata pasangan. Kegelisahan dan kebosanan ini, menurut psikolog Ratih Ibrahim adalah tanda-tanda krisis paruh baya (mid life crisis). Kalau mereka tidak berhasil keluar dari krisis ini, bisa memicu stres tanpa sebab, kesepian, hingga depresi.

Perlu ‘berpetualang’



Pada dasarnya, setiap orang ingin menemukan kembali ‘greget’ dalam hidupnya. Caranya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah dengan ‘berpetualang’. Yang dimaksud di sini bukan hanya bepergian ke luar kota atau negeri saja, tapi intinya melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dari kebiasaan.
  
Ratih menyontohkan dirinya yang pada usia 40 tahun mengalami kebosanan sebagai full time mom. Ketika anaknya beranjak remaja, ia menjajal segala macam cara mengatasinya: mulai dari gonta-ganti potongan rambut, belajar melukis, sampai membuka bisnis resto. “Tapi karena tidak jalan, akhirnya saya merenung lagi, mengevaluasi ulang apa yang saya inginkan. Karena ingin tetap bisa memuliakan keluarga, saya pun mencari bisnis yang bisa dilakukan di rumah. Saya pun kembali pada ‘fitrah’ saya sebagai psikolog dan membuka kantor konsultasi di rumah,” ungkap ibu dua anak yang mengaku bahagia dengan pilihannya itu.
  
Sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai berada pada titik stagnan untuk memulai sebuah petualangan. Anda bisa melakukan petualangan kecil terhadap penampilan, seperti mengganti warna rambut atau gaya berpakaian.  Misalnya, Ratih yang semula suka memakai baju warna gelap, mencoba pakaian berwarna cerah, termasuk underwear. “Bukan lantaran ingin dipuji suami, tapi untuk sensasi diri sendiri. Ternyata, warna bisa mempengaruhi mood seseorang. Saya jadi lebih cheerful,” aku Ratih.
  
Kebosanan juga bisa terjadi dalam hubungan perkawinan, terutama setelah bertahun-tahun menikah. Kondisi ini bisa memicu perselingkuhan. “Status suami-istri dan orang tualah yang terkadang membuat kita bosan,” ujar Ratih. Ia pun mengondisikan hubungannya dengan suami kembali seperti masa pacaran. “Saya memanggilnya dengan, ‘Baby, Darling’. Malam Minggu nonton midnite atau dinner berdua saja. Pokoknya buatlah hubungan perkawinan kita lebih asyik, bukan sekadar harmonis,” begitu Ratih berbagi tip.

Petualangan, apapun bentuknya, diperlukan agar kita tidak terjebak dalam comfort zone. Tak hanya menemukan 'greget', petualangan juga bisa mengembalikan rasa percaya diri kita. Kuncinya, bersikaplah jujur pada diri sendiri. Rencanakan petualangan Anda secara berkala dengan hal baru dan sedikit menantang. Bicarakan juga rencana ini kepada pasangan maupun anak Anda. Intinya, di tengah keseruan berpetualang, jangan terbawa arus. Kalau di tengah jalan ada brondong yang naksir, syukuri saja. Berarti penampilan kita masih oke. Tapi stop sampai di situ, tidak perlu harus terlibat affair. Jadi, siapkah Anda untuk berpetualang?


Shinta Kusuma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar