Kamis, 22 Januari 2015

The Joy of Laziness



Mungkin sesekali kita ingin sekali memperlambat ritme hidup. Tapi apa daya, seringkali tuntutan pekerjaan tidak memungkinkan untuk itu. Deadline, target penjualan, dan sebagainya adalah bagian dari job description yang telah kita sepakati dengan perusahaan, sehingga  tidak bisa kita abaikan begitu saja, meskipun terasa seperti 'menyandera' hidup kita. Sedangkan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan, tentu tidak semudah itu.
  
Menurut Erbe Sentanu –akrab disapa Nunu–  transformation coach dari Katahati Institute, kita tidak perlu sampai mengambil keputusan seekstrem itu. Jika hidup sudah terasa hectic, cukup mengambil cuti dan berliburlah sejenak. “Liburan atau holiday hakikatnya adalah 'hari yang suci'. Karena, di saat liburan kita seharusnya mengistirahatkan fisik dan pikiran, serta memberi kesempatan pada hati nurani untuk kembali menguasai hidup kita.”
  
Di saat berlibur, lakukan apa saja yang dirasa dapat menyenangkan dan menenangkan hati. Bisa hanya bermalas-malasan di tempat tidur sepanjang hari, menjalankan hobi, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang didambakan, menghabiskan waktu sepuasnya bersama anak, dan sebagainya.    

“Pokoknya lakukan apa saja, kecuali memikirkan pekerjaan atau masalah lain yang memberatkan hati dan pikiran,” saran Nunu. Katakan baik-baik kepada bos, kolega, atau klien agar selama berlibur Anda tidak diganggu dengan telepon, SMS, atau BBM yang menyangkut pekerjaan. Kalau perlu, matikan saja semua ponsel atau tablet Anda. Yang tak kalah penting, pilihlah gaya berlibur yang  bisa melepaskan stres, bukan yang justru membuat Anda tambah lelah sesudahnya.

Kemalasan tak selalu negatif    
 
Sebenarnya kita bisa dengan mudah  memperlambat ritme hidup kita, bahkan berhenti sejenak, apabila kita tidak selalu menganggap bahwa kemalasan adalah sesuatu yang semata negatif, kata Nunu. Hal ini senada dengan sebuah artikel di harian  Inggris, The Telegraph, yang membahas sebuah buku berjudul The Joy of Laziness: How to Slow Down and Live Longer, karya Dr. Peter Axt, pengajar health science dari Fulda University, Jerman. Dr. Axt mengatakan, manusia hanya memiliki energi hidup (life energy) yang terbatas. Gaya hidup yang tergesa-gesa dan berkecepatan tinggi justru bisa mengisap habis cadangan energi yang terbatas itu, sehingga akhirnya merusak kesehatan.
  
Ia mencontohkan, orang yang gemar menghabiskan energinya dengan melakukan olahraga berkecepatan tinggi, misalnya memacu diri di treadmill sampai semua tenaganya terkuras habis, justru akan lebih cepat menjadi tua. Kelelahan yang berkepanjangan akan membuat tubuh semakin banyak mengeluarkan radikal bebas –molekul oksigen tak stabil yang dipercaya dapat mempercepat proses penuaan. Tubuh yang kelelahan akan merasa stres, sehingga memproduksi lebih banyak hormon kortisol yang membuat tekanan darah meningkat, sehingga mengganggu kesehatan jantung, khususnya pembuluh darah jantung.
  
Sebaliknya, tambah Dr. Axt, ada saatnya kemalasan (laziness) juga tak kalah penting bagi kesehatan sistem imunitas tubuh kita. Alasannya, sel-sel imunitas tertentu justru bekerja lebih kuat di saat tubuh berada dalam kondisi relaks ketimbang di saat stres. Selama masa relaksasi itu –yang disebutnya 'down time'– metabolisme tubuh melambat, sehingga produksi radikal bebas pun jadi berkurang. Selain itu ia juga menyarankan agar kita sering-sering tertawa. Karena, saat kita tertawa, tubuh memproduksi hormon seretonin dalam jumlah banyak, yang membuat kita merasa bahagia dan relaks.
  
Buku itu juga mengatakan bahwa kemalasan baik untuk kesehatan otak. Hormon kortisol dalam jumlah banyak yang diproduksi tubuh akibat berolahraga secara berlebihan atau menjalani hidup yang 'high speed' akan merusak sel-sel otak, sehingga mempercepat terjadinya kepikunan.
  
Namun ia juga menegaskan bahwa 'kemalasan' yang ia maksudkan bukan berarti tidak melakukan apa-apa sama sekali. “Bekerja tetap menjadi hal yang penting dalam hidup manusia, dan kemalasan yang saya maksud di sini juga bukan kemalasan yang ekstrem. Yang tak boleh kita lupakan hanyalah jangan terus menerus memaksa tubuh untuk menjalankan kegiatan berkecepatan tinggi. Tubuh membutuhkan istirahat dan rekreasi sama banyaknya seperti ia membutuhkan aktivitas gerak dan berpikir. Itu sebabnya kita harus pandai-pandai menerapkan seni bermalas-malasan, justru agar hidup kita lebih produktif, bermakna, dan menyenangkan,” saran Dr. Axt.


Tina Savitri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar